APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Kisah tentang Apple gadis cantik, cerdas, seorang
arsitek muda yang mendadak pindah ke suatu waktu di masa depannya. Ia pindah 23
tahun dari waktu asalnya. Malam itu Apple membaca sebuah novel yang
menceritakan tentang hidupnya. Setelah itu, Apple menemukan dirinya bersama
papa mama berada di masa depan kehidupan mereka. Mengejutkan bagi Apple, dia
melihat yang menjadi impiannya sebagai arsitek terwujud. Kota tepi sungai yang
indah kini di depan matanya. Sementara, Apple yang hidup di tahun 2050 mendadak
hilang bersama kapal pesiar ketika sedang menyusuri Sungai Emas dan Teluk Emas
di Kota Zoukha. Bryan calon suami Apple ikut terperangkap di tahun 2050. Ini
terjadi ketika ia mencari Apple, saat Bryan membaca novel yang sama dengan yang
di baca Apple. Sahabat Apple, Fiskha dan Gio kemudian melakukan percobaan dan
berhasil sampai ke tahun 2050. Penuh petualangan. Apa yang terjadi dengan
mereka di tahun 2050? Dapatkah Apple dan semuanya kembali lagi ke masa kini?
Bagian 1
AWAL SEBUAH KISAH
Langit senja
memantulkan cahaya keemasan di atas sungai yang mengalir tenang, menciptakan
refleksi kota yang sedang tumbuh. Apple Lavanya berdiri di balkon apartemennya,
menatap jauh ke cakrawala dengan tatapan penuh tekad. Ia bukan sekadar arsitek
muda biasa, tetapi seorang visioner yang ingin menciptakan perubahan nyata bagi
lingkungannya.
Sejak kecil, Apple
memiliki impian besar untuk membangun kota yang tidak hanya megah, tetapi juga
ramah lingkungan. Terinspirasi oleh sungai yang membelah kotanya, ia merancang
sebuah proyek besar bernama Green
River City, sebuah kawasan perkotaan yang harmonis dengan
alam. Dalam desainnya, ia mengintegrasikan teknologi hijau, ruang terbuka
hijau, serta sistem pengelolaan air dan sampah yang canggih untuk memastikan
keberlanjutan ekosistem.
Di ruang kerjanya
yang dipenuhi sketsa dan maket miniatur, terlihat rencana besar Apple.
Bangunan-bangunan dengan desain futuristik berbasis energi terbarukan, sistem
transportasi berbasis listrik yang efisien, dan taman terapung yang
memungkinkan warga menikmati udara segar tanpa merusak ekosistem sungai. Konsep
ini telah menarik perhatian banyak pihak, termasuk investor besar dan pemerintah
kota.
"Kau
benar-benar tak pernah berhenti bekerja, ya?" suara Bryan mengalihkan
perhatiannya. Pria itu tersenyum, meletakkan secangkir teh di meja kecil di
dekatnya.
Apple tersenyum
tipis, matanya masih tertuju pada model miniatur kotanya. "Impian ini
bukan sekadar pekerjaan, Bryan. Aku ingin melihat kota ini berdiri, bukan hanya
di atas kertas."
Bryan mengangguk
memahami. Ia tahu bahwa sejak dulu, Apple selalu memiliki impian besar yang
tidak hanya tentang kesuksesan pribadi, tetapi juga tentang keberlanjutan dunia
tempat mereka tinggal. Green River City
bukan hanya proyek bagi Apple, itu adalah warisan yang ingin ia tinggalkan
untuk generasi mendatang.
Hubungan Apple
dengan Bryan sudah terjalin sejak lama. Mereka bukan hanya pasangan yang
sebentar lagi akan menikah, tetapi juga rekan diskusi dalam banyak hal. Bryan,
seorang pengusaha di bidang teknologi dan konstruksi, selalu menjadi pendukung
utama Apple. Ia adalah orang pertama yang percaya pada ide-ide gila Apple,
bahkan saat orang lain meragukannya. Meski begitu, hubungan mereka tidak selalu
mulus. Bryan terkadang merasa Apple terlalu terobsesi dengan pekerjaannya,
sementara Apple menganggap Bryan kadang terlalu realistis dan kurang berani
bermimpi. Namun, di balik semua itu, mereka saling melengkapi.
Selain Bryan, ada
dua sosok lain yang sangat berarti dalam hidup Apple: orang tuanya. Ayahnya,
seorang pensiunan insinyur sipil, adalah mentor pertama Apple dalam dunia
desain dan konstruksi. Sedangkan ibunya, seorang seniman, yang selalu mengajarkan
Apple tentang pentingnya estetika dalam setiap karya.
"Jangan lupa
makan, sayang. Kau selalu lupa waktu kalau sudah bekerja," suara lembut
ibunya, Liana, terdengar dari ruang tamu.
Apple tersenyum dan
berjalan ke ruang makan, di mana ayahnya, Bastian, sudah menunggu dengan teh
hangat di tangannya. "Aku bangga padamu, Nak. Melihat proyekmu berkembang
seperti ini, aku yakin kau akan mencapai impianmu."
Apple merasakan
kehangatan yang selalu ia rindukan setiap kali berada di rumah orang tuanya.
Meski ia kini hidup mandiri di apartemennya sendiri, rumah orang tuanya tetap
menjadi tempat di mana ia merasa paling nyaman. Mereka adalah sumber
inspirasinya, dan ia ingin membuat mereka bangga. Apple tetap sering menginap
di rumah orang tuanya, bahkan sering bekerja di ruang kerjanya di rumah orang
tuanya.
Setelah berbincang
sejenak, Apple akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Namun, malam itu,
sesuatu yang aneh terjadi. Di ruang baca kecilnya, di atas meja kayu yang rapi,
sebuah novel dengan sampul misterius menarik perhatiannya. Judulnya: Apple 2050.
Alisnya mengernyit.
Ia tidak ingat kapan ia membeli buku ini. Dengan hati-hati, ia mengambilnya,
merasakan dinginnya sampul kulit yang tampak usang meski seolah baru.
Jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. Jari-jarinya menelusuri judul yang
terukir dengan tinta keemasan di bagian depan. Nama itu… namanya sendiri.
“Ini… apa?”
gumamnya pelan, matanya menatap buku itu dengan rasa ingin tahu bercampur
ketakutan.
Tangannya sedikit
gemetar saat membuka halaman pertama. Aroma khas buku lama tercium samar, namun
yang mengejutkan adalah deretan kalimat pertama yang terbaca di sana.
‘Apple berdiri
di tepi sungai, menyaksikan kota impiannya terwujud. Namun, ia tidak merayakan
kesuksesannya. Sebab, di tahun 2050, ia telah menghilang…’
Napas Apple
tertahan. Ia membalik halaman berikutnya dengan cepat, matanya bergerak liar
membaca setiap kata. Semakin jauh ia membaca, semakin jelas bahwa kisah dalam
buku itu adalah tentang dirinya—tentang mimpinya, tentang Green River City, dan… tentang sesuatu yang belum pernah terjadi.
Masa depannya.
Apple menggigit
bibirnya. Apakah ini hanya kebetulan? Atau ada sesuatu yang lebih besar yang
sedang terjadi?
Di luar, angin berhembus lebih kencang, seolah mengiringi ketidakpastian yang mulai menyelimuti pikirannya. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Apple merasa dirinya ada di ambang sesuatu yang tidak bisa ia pahami.(Bersambung)
No comments:
Post a Comment