Saturday, February 22, 2025

EPILOG APPLE 2050 dan BAGIAN 1: AWAL SEBUAH KISAH

 

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota



 EPILOG

Kisah tentang Apple gadis cantik, cerdas, seorang arsitek muda yang mendadak pindah ke suatu waktu di masa depannya. Ia pindah 23 tahun dari waktu asalnya. Malam itu Apple membaca sebuah novel yang menceritakan tentang hidupnya. Setelah itu, Apple menemukan dirinya bersama papa mama berada di masa depan kehidupan mereka. Mengejutkan bagi Apple, dia melihat yang menjadi impiannya sebagai arsitek terwujud. Kota tepi sungai yang indah kini di depan matanya. Sementara, Apple yang hidup di tahun 2050 mendadak hilang bersama kapal pesiar ketika sedang menyusuri Sungai Emas dan Teluk Emas di Kota Zoukha. Bryan calon suami Apple ikut terperangkap di tahun 2050. Ini terjadi ketika ia mencari Apple, saat Bryan membaca novel yang sama dengan yang di baca Apple. Sahabat Apple, Fiskha dan Gio kemudian melakukan percobaan dan berhasil sampai ke tahun 2050. Penuh petualangan. Apa yang terjadi dengan mereka di tahun 2050? Dapatkah Apple dan semuanya kembali lagi ke masa kini?

 

Bagian 1

AWAL SEBUAH KISAH

Langit senja memantulkan cahaya keemasan di atas sungai yang mengalir tenang, menciptakan refleksi kota yang sedang tumbuh. Apple Lavanya berdiri di balkon apartemennya, menatap jauh ke cakrawala dengan tatapan penuh tekad. Ia bukan sekadar arsitek muda biasa, tetapi seorang visioner yang ingin menciptakan perubahan nyata bagi lingkungannya.

Sejak kecil, Apple memiliki impian besar untuk membangun kota yang tidak hanya megah, tetapi juga ramah lingkungan. Terinspirasi oleh sungai yang membelah kotanya, ia merancang sebuah proyek besar bernama Green River City, sebuah kawasan perkotaan yang harmonis dengan alam. Dalam desainnya, ia mengintegrasikan teknologi hijau, ruang terbuka hijau, serta sistem pengelolaan air dan sampah yang canggih untuk memastikan keberlanjutan ekosistem.

Di ruang kerjanya yang dipenuhi sketsa dan maket miniatur, terlihat rencana besar Apple. Bangunan-bangunan dengan desain futuristik berbasis energi terbarukan, sistem transportasi berbasis listrik yang efisien, dan taman terapung yang memungkinkan warga menikmati udara segar tanpa merusak ekosistem sungai. Konsep ini telah menarik perhatian banyak pihak, termasuk investor besar dan pemerintah kota.

"Kau benar-benar tak pernah berhenti bekerja, ya?" suara Bryan mengalihkan perhatiannya. Pria itu tersenyum, meletakkan secangkir teh di meja kecil di dekatnya.

Apple tersenyum tipis, matanya masih tertuju pada model miniatur kotanya. "Impian ini bukan sekadar pekerjaan, Bryan. Aku ingin melihat kota ini berdiri, bukan hanya di atas kertas."

Bryan mengangguk memahami. Ia tahu bahwa sejak dulu, Apple selalu memiliki impian besar yang tidak hanya tentang kesuksesan pribadi, tetapi juga tentang keberlanjutan dunia tempat mereka tinggal. Green River City bukan hanya proyek bagi Apple, itu adalah warisan yang ingin ia tinggalkan untuk generasi mendatang.

Hubungan Apple dengan Bryan sudah terjalin sejak lama. Mereka bukan hanya pasangan yang sebentar lagi akan menikah, tetapi juga rekan diskusi dalam banyak hal. Bryan, seorang pengusaha di bidang teknologi dan konstruksi, selalu menjadi pendukung utama Apple. Ia adalah orang pertama yang percaya pada ide-ide gila Apple, bahkan saat orang lain meragukannya. Meski begitu, hubungan mereka tidak selalu mulus. Bryan terkadang merasa Apple terlalu terobsesi dengan pekerjaannya, sementara Apple menganggap Bryan kadang terlalu realistis dan kurang berani bermimpi. Namun, di balik semua itu, mereka saling melengkapi.

Selain Bryan, ada dua sosok lain yang sangat berarti dalam hidup Apple: orang tuanya. Ayahnya, seorang pensiunan insinyur sipil, adalah mentor pertama Apple dalam dunia desain dan konstruksi. Sedangkan ibunya, seorang seniman, yang selalu mengajarkan Apple tentang pentingnya estetika dalam setiap karya.

"Jangan lupa makan, sayang. Kau selalu lupa waktu kalau sudah bekerja," suara lembut ibunya, Liana, terdengar dari ruang tamu.

Apple tersenyum dan berjalan ke ruang makan, di mana ayahnya, Bastian, sudah menunggu dengan teh hangat di tangannya. "Aku bangga padamu, Nak. Melihat proyekmu berkembang seperti ini, aku yakin kau akan mencapai impianmu."

Apple merasakan kehangatan yang selalu ia rindukan setiap kali berada di rumah orang tuanya. Meski ia kini hidup mandiri di apartemennya sendiri, rumah orang tuanya tetap menjadi tempat di mana ia merasa paling nyaman. Mereka adalah sumber inspirasinya, dan ia ingin membuat mereka bangga. Apple tetap sering menginap di rumah orang tuanya, bahkan sering bekerja di ruang kerjanya di rumah orang tuanya.

Setelah berbincang sejenak, Apple akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Namun, malam itu, sesuatu yang aneh terjadi. Di ruang baca kecilnya, di atas meja kayu yang rapi, sebuah novel dengan sampul misterius menarik perhatiannya. Judulnya: Apple 2050.

Alisnya mengernyit. Ia tidak ingat kapan ia membeli buku ini. Dengan hati-hati, ia mengambilnya, merasakan dinginnya sampul kulit yang tampak usang meski seolah baru. Jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. Jari-jarinya menelusuri judul yang terukir dengan tinta keemasan di bagian depan. Nama itu… namanya sendiri.

“Ini… apa?” gumamnya pelan, matanya menatap buku itu dengan rasa ingin tahu bercampur ketakutan.

Tangannya sedikit gemetar saat membuka halaman pertama. Aroma khas buku lama tercium samar, namun yang mengejutkan adalah deretan kalimat pertama yang terbaca di sana.

‘Apple berdiri di tepi sungai, menyaksikan kota impiannya terwujud. Namun, ia tidak merayakan kesuksesannya. Sebab, di tahun 2050, ia telah menghilang…’

Napas Apple tertahan. Ia membalik halaman berikutnya dengan cepat, matanya bergerak liar membaca setiap kata. Semakin jauh ia membaca, semakin jelas bahwa kisah dalam buku itu adalah tentang dirinya—tentang mimpinya, tentang Green River City, dan… tentang sesuatu yang belum pernah terjadi. Masa depannya.

Apple menggigit bibirnya. Apakah ini hanya kebetulan? Atau ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi?

Di luar, angin berhembus lebih kencang, seolah mengiringi ketidakpastian yang mulai menyelimuti pikirannya. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Apple merasa dirinya ada di ambang sesuatu yang tidak bisa ia pahami.(Bersambung)

No comments:

Post a Comment