Sunday, February 23, 2025

BAGIAN 2: PERJALANAN TAK TERDUGA

 

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota




Bagian 2

PERJALANAN TAK TERDUGA

Apple duduk terpaku di kursinya, jari-jarinya masih mencengkeram erat novel misterius itu. Setiap kata yang ia baca semakin mengguncang pikirannya. Halaman demi halaman menceritakan kehidupannya dengan begitu detail, seolah seseorang telah mencatat setiap langkahnya—bahkan langkah yang belum pernah ia ambil.

Matanya beralih ke jendela. Langit malam tampak begitu tenang, tetapi di dalam dirinya, ada badai yang bergejolak. Ia menutup buku itu dengan cepat, mencoba menenangkan napasnya yang tiba-tiba memburu. Namun, saat ia menutup mata, sesuatu yang aneh terjadi.

Kilasan-kilasan gambar melintas dalam pikirannya—gambar-gambar yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia melihat dirinya berdiri di tengah kota yang asing, dengan taman-taman hijau luas, sungai yang mengalir jernih dengan tepian yang tertata rapi, dan jalur pejalan kaki yang dipenuhi pepohonan rindang. Kota itu tampak begitu harmonis, tanpa polusi dan bising kendaraan. Setiap sudutnya mencerminkan keseimbangan antara teknologi dan alam.

Apple tersentak dan membuka matanya. Jantungnya berdetak kencang. Apa yang baru saja ia lihat? Apakah itu hanya imajinasi? Atau… apakah itu benar-benar masa depan?

Tangannya kembali membuka halaman novel itu dengan tergesa. Setiap kata terasa semakin nyata, seolah ada kekuatan yang menariknya masuk lebih dalam ke dalam cerita. Ia tidak bisa berhenti membaca. Semakin ia larut dalam kisahnya sendiri, semakin kuat perasaan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi.

Lalu, tiba-tiba, ia merasakan pusing yang luar biasa. Kepalanya terasa berat, dan ruangan di sekitarnya berputar. Suara-suara samar mulai terdengar di kepalanya—suara aliran sungai, suara dedaunan yang berdesir diterpa angin, dan langkah kaki di atas jalur berbatu.

"Apple…"

Ia ingin bangkit dari kursinya, tetapi tubuhnya terasa begitu ringan, seolah ia melayang. Rasa kantuk yang aneh mulai menguasai dirinya, dan dalam hitungan detik, dunia di sekitarnya menghilang dalam kegelapan.

Ketika Apple membuka matanya lagi, ia tidak lagi berada di apartemennya.

Cahaya matahari pagi yang hangat menyentuh kulitnya, tetapi udara di sekitarnya terasa berbeda—lebih bersih, lebih segar. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya, lalu duduk perlahan. Pemandangan di depannya membuat jantungnya hampir berhenti.

Ia berada di tengah kota impiannya—kota yang selama ini hanya ada dalam sketsa dan rancangannya. Sungai yang membelah kota menjadi dua sisi, barat dan timur, mengalir dengan jernih. Airnya begitu bening hingga dasar sungai dapat terlihat dengan jelas. Di sepanjang tepinya, jalur hijau membentang, dihiasi taman-taman kecil dengan pepohonan rindang yang memberikan kesejukan. Setiap sudut kota tampak dipenuhi oleh bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran dengan indah, sementara burung-burung beterbangan bebas di langit biru tanpa polusi.

Di sisi barat, terdapat kawasan permukiman yang menyatu dengan alam, dengan rumah-rumah ramah lingkungan yang menghadap langsung ke sungai. Balkon-balkon rumah dihiasi dengan tanaman rambat, sementara dermaga kecil di depan beberapa rumah memungkinkan penduduk untuk menikmati air sungai dari dekat. Jalan setapak berbatu membelah taman-taman hijau yang luas, memberikan ruang bagi pejalan kaki dan pesepeda.

Di sisi timur, deretan toko-toko kecil dan bangunan-bangunan modern yang indah berdiri dengan harmonis. Bangunan ini tidak menjulang tinggi, melainkan dirancang dengan konsep terbuka, penuh dengan elemen kayu dan kaca, memungkinkan cahaya alami masuk dengan maksimal. Kafe dan restoran dengan teras menghadap sungai menghadirkan suasana santai bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan.

Di tengah sungai, berdiri sebuah restoran megah dengan konsep green building. Restoran ini memiliki area indoor dan outdoor, dihiasi dengan tanaman rambat dan panel surya yang menyuplai energinya. Bangunan ini dirancang ramah lingkungan, dengan bahan-bahan alami dan sistem pengelolaan air yang efisien. Di bawahnya, perahu wisata dan kapal pesiar ukuran sedang dapat melintas dengan leluasa, menambah daya tarik sungai yang luar biasa bersih ini.

Yang paling mencolok adalah menara jam yang menjulang di atas restoran. Menara ini menjadi landmark kawasan ini, dengan desain futuristik namun tetap menyatu dengan alam sekitarnya. Jam di menara dapat terlihat dari empat sisi mata angin, menjadi pusat perhatian bagi siapa saja yang melintas. Pada malam hari, cahaya lembut dari menara ini akan memberikan suasana hangat, menjadikannya ikon kota yang tak terlupakan.

Tiba-tiba, dari kejauhan, ia melihat dua sosok yang begitu familiar sedang berdiri di depan sebuah toko roti kecil yang menawan. Jantungnya berdebar kencang saat mengenali wajah-wajah itu.

"Papa… Mama…?"

Tanpa berpikir panjang, Apple berlari menghampiri mereka. Kedua orang tuanya menatapnya dengan mata penuh kehangatan dan keheranan. Mereka bertiga saling berpelukan erat, masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Namun, Apple menyadari tatapan aneh dari orang-orang di sekitar toko roti. Beberapa dari mereka tampak berbisik-bisik, seolah mengenali mereka tetapi ragu untuk menyapa.

Setelah berbincang sejenak, mereka berjalan bersama menuju rumah mereka yang terletak di tepi sungai. Rumah itu berlantai dua dengan desain arsitektur hijau tropis, memadukan unsur kayu alami dan dinding kaca yang memungkinkan sinar matahari masuk dengan sempurna. Halamannya luas, dipenuhi rerumputan hijau dan beberapa pohon buah yang menjulang, memberikan keteduhan yang menenangkan.

Namun, saat Apple menyalakan televisi, ia terkejut melihat berita utama: "Misteri Hilangnya Apple dan Keluarganya: Kapal Pesiar Sang Arsitek Kota Zoukha Raib di Tengah Teluk Emas."

Apple terpaku. Tahun yang tertera di sudut layar… 2050. Itu berarti saat ini ia harusnya berusia 50 tahun. Dia melihat wajahnya di cermin, tak ada yang berubah. Masih dalam usia 27 tahun. Kedua orangtuanyapun tak berubah. Lebih mengejutkan lagi, laporan berita menyebutkan bahwa dirinya—Apple di tahun 2050—tiba-tiba hilang bersama kedua orang tuanya, suaminya, dan dua anaknya saat kapal pesiar mereka mendadak lenyap saat masuki area tengah Teluk Emas.

Kedua orang tuanya yang ikut menyaksikan berita itu mulai menyadari sesuatu yang aneh telah terjadi pada mereka. Tatapan mereka bertemu, saling tatap dengan kebingungan dan ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?. (Bersambung)

 


No comments:

Post a Comment