APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 2
PERJALANAN TAK TERDUGA
Apple duduk terpaku di kursinya, jari-jarinya masih mencengkeram erat novel misterius itu. Setiap kata yang ia baca semakin mengguncang pikirannya. Halaman demi halaman menceritakan kehidupannya dengan begitu detail, seolah seseorang telah mencatat setiap langkahnya—bahkan langkah yang belum pernah ia ambil.
Matanya beralih ke
jendela. Langit malam tampak begitu tenang, tetapi di dalam dirinya, ada badai
yang bergejolak. Ia menutup buku itu dengan cepat, mencoba menenangkan napasnya
yang tiba-tiba memburu. Namun, saat ia menutup mata, sesuatu yang aneh terjadi.
Kilasan-kilasan
gambar melintas dalam pikirannya—gambar-gambar yang tidak pernah ia lihat
sebelumnya. Ia melihat dirinya berdiri di tengah kota yang asing, dengan taman-taman
hijau luas, sungai yang mengalir jernih dengan tepian yang tertata rapi, dan
jalur pejalan kaki yang dipenuhi pepohonan rindang. Kota itu tampak begitu
harmonis, tanpa polusi dan bising kendaraan. Setiap sudutnya mencerminkan
keseimbangan antara teknologi dan alam.
Apple tersentak dan
membuka matanya. Jantungnya berdetak kencang. Apa yang baru saja ia lihat?
Apakah itu hanya imajinasi? Atau… apakah itu benar-benar masa depan?
Tangannya kembali
membuka halaman novel itu dengan tergesa. Setiap kata terasa semakin nyata,
seolah ada kekuatan yang menariknya masuk lebih dalam ke dalam cerita. Ia tidak
bisa berhenti membaca. Semakin ia larut dalam kisahnya sendiri, semakin kuat
perasaan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi.
Lalu, tiba-tiba, ia
merasakan pusing yang luar biasa. Kepalanya terasa berat, dan ruangan di
sekitarnya berputar. Suara-suara samar mulai terdengar di kepalanya—suara
aliran sungai, suara dedaunan yang berdesir diterpa angin, dan langkah kaki di
atas jalur berbatu.
"Apple…"
Ia ingin bangkit
dari kursinya, tetapi tubuhnya terasa begitu ringan, seolah ia melayang. Rasa
kantuk yang aneh mulai menguasai dirinya, dan dalam hitungan detik, dunia di
sekitarnya menghilang dalam kegelapan.
Ketika Apple
membuka matanya lagi, ia tidak lagi berada di apartemennya.
Cahaya matahari
pagi yang hangat menyentuh kulitnya, tetapi udara di sekitarnya terasa
berbeda—lebih bersih, lebih segar. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya, lalu
duduk perlahan. Pemandangan di depannya membuat jantungnya hampir berhenti.
Ia berada di tengah
kota impiannya—kota yang selama ini hanya ada dalam sketsa dan rancangannya.
Sungai yang membelah kota menjadi dua sisi, barat dan timur, mengalir dengan
jernih. Airnya begitu bening hingga dasar sungai dapat terlihat dengan jelas.
Di sepanjang tepinya, jalur hijau membentang, dihiasi taman-taman kecil dengan
pepohonan rindang yang memberikan kesejukan. Setiap sudut kota tampak dipenuhi
oleh bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran dengan indah, sementara
burung-burung beterbangan bebas di langit biru tanpa polusi.
Di sisi barat,
terdapat kawasan permukiman yang menyatu dengan alam, dengan rumah-rumah ramah
lingkungan yang menghadap langsung ke sungai. Balkon-balkon rumah dihiasi
dengan tanaman rambat, sementara dermaga kecil di depan beberapa rumah
memungkinkan penduduk untuk menikmati air sungai dari dekat. Jalan setapak
berbatu membelah taman-taman hijau yang luas, memberikan ruang bagi pejalan
kaki dan pesepeda.
Di sisi timur,
deretan toko-toko kecil dan bangunan-bangunan modern yang indah berdiri dengan
harmonis. Bangunan ini tidak menjulang tinggi, melainkan dirancang dengan
konsep terbuka, penuh dengan elemen kayu dan kaca, memungkinkan cahaya alami
masuk dengan maksimal. Kafe dan restoran dengan teras menghadap sungai
menghadirkan suasana santai bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan.
Di tengah sungai,
berdiri sebuah restoran megah dengan konsep green
building. Restoran ini memiliki area indoor dan outdoor, dihiasi
dengan tanaman rambat dan panel surya yang menyuplai energinya. Bangunan ini
dirancang ramah lingkungan, dengan bahan-bahan alami dan sistem pengelolaan air
yang efisien. Di bawahnya, perahu wisata dan kapal pesiar ukuran sedang dapat
melintas dengan leluasa, menambah daya tarik sungai yang luar biasa bersih ini.
Yang paling
mencolok adalah menara jam yang menjulang di atas restoran. Menara ini menjadi
landmark kawasan ini, dengan desain futuristik namun tetap menyatu dengan alam
sekitarnya. Jam di menara dapat terlihat dari empat sisi mata angin, menjadi
pusat perhatian bagi siapa saja yang melintas. Pada malam hari, cahaya lembut
dari menara ini akan memberikan suasana hangat, menjadikannya ikon kota yang
tak terlupakan.
Tiba-tiba, dari
kejauhan, ia melihat dua sosok yang begitu familiar sedang berdiri di depan
sebuah toko roti kecil yang menawan. Jantungnya berdebar kencang saat mengenali
wajah-wajah itu.
"Papa…
Mama…?"
Tanpa berpikir
panjang, Apple berlari menghampiri mereka. Kedua orang tuanya menatapnya dengan
mata penuh kehangatan dan keheranan. Mereka bertiga saling berpelukan erat,
masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Namun, Apple menyadari tatapan aneh
dari orang-orang di sekitar toko roti. Beberapa dari mereka tampak
berbisik-bisik, seolah mengenali mereka tetapi ragu untuk menyapa.
Setelah berbincang
sejenak, mereka berjalan bersama menuju rumah mereka yang terletak di tepi
sungai. Rumah itu berlantai dua dengan desain arsitektur hijau tropis,
memadukan unsur kayu alami dan dinding kaca yang memungkinkan sinar matahari
masuk dengan sempurna. Halamannya luas, dipenuhi rerumputan hijau dan beberapa
pohon buah yang menjulang, memberikan keteduhan yang menenangkan.
Namun, saat Apple
menyalakan televisi, ia terkejut melihat berita utama: "Misteri Hilangnya
Apple dan Keluarganya: Kapal Pesiar Sang Arsitek Kota Zoukha Raib di Tengah
Teluk Emas."
Apple terpaku.
Tahun yang tertera di sudut layar… 2050. Itu berarti saat ini ia harusnya berusia
50 tahun. Dia melihat wajahnya di cermin, tak ada yang berubah. Masih dalam
usia 27 tahun. Kedua orangtuanyapun tak berubah. Lebih mengejutkan lagi,
laporan berita menyebutkan bahwa dirinya—Apple di tahun 2050—tiba-tiba hilang
bersama kedua orang tuanya, suaminya, dan dua anaknya saat kapal pesiar mereka
mendadak lenyap saat masuki area tengah Teluk Emas.
Kedua orang tuanya yang ikut menyaksikan berita itu mulai menyadari sesuatu yang aneh telah terjadi pada mereka. Tatapan mereka bertemu, saling tatap dengan kebingungan dan ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?. (Bersambung)
No comments:
Post a Comment