Wednesday, February 26, 2025

BAGIAN 4: MENYELAMI MISTERI KOTA ZOUKHA

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota




Bagian 4

MENYELAMI MISTERI KOTA ZOUKHA


Sebuah Keputusan

Setelah pertemuan yang penuh ketegangan dengan Arman, Apple merasa ada sesuatu yang harus ia cari tahu lebih dalam. Malam itu, di rumah orang tuanya yang asri di tepi Sungai Emas, Apple duduk termenung di teras depan rumah. Angin malam yang sejuk berembus lembut, membawa aroma segar dari taman kota beraneka bunga yang sedang mekar di seberang sungai. Namun pikirannya masih dipenuhi oleh kata-kata Arman.

"Ada kekuatan yang jauh lebih besar dari yang bisa kita bayangkan. Kota Zoukha ini... bukan hanya sekadar kota biasa. Di balik semua keindahan ini, ada rahasia-rahasia yang menjadi bagian dari sejarah kota ini, yang tak semua orang boleh tahu."

Apple tahu, jika ingin kembali ke masa asalnya, ia harus memahami anomali waktu dengan baik. Dan untuk itu, ia harus mencari tahu lebih banyak tentang sejarah Kota Zoukha dan menganalisis peristiwa-peristiwa ganjil yang mungkin tersembunyi dari catatan resmi.

Mengungkap Rahasia Kota Zoukha

Keesokan harinya, Apple memutuskan pergi ke Pusat Arsip Kota Zoukha. Dengan mengenakan pakaian yang lebih kasual agar tidak mencolok, ia berjalan menyusuri jalanan kota yang bersih dan hijau. Papa dan mama tetap tinggal di rumah, mereka memantau berbagai berita tentang hilangnya mereka.

Setibanya di Pusat Arsip Kota Zoukha, Apple disambut oleh seorang petugas dengan ramah bernama Mira. "Selamat datang di Pusat Arsip Kota Zoukha. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mira sambil tersenyum.

"Saya ingin mencari informasi tentang fenomena anomali waktu atau peristiwa ganjil yang pernah terjadi di kota ini," jawab Apple, berusaha terdengar santai.

Mira tampak berpikir sejenak. "Hmm... anomali waktu? Itu informasi yang tidak biasa. Tapi ada beberapa dokumen lama yang ada mungkin bisa membantu. Mari ikuti saya."

Apple mengikuti Mira ke bagian arsip khusus, di mana tumpukan buku dan dokumen digital tersimpan rapi. Ia mulai membaca berbagai catatan lama tentang pembangunan Kota Zoukha, transformasi kota ini dari kota yang pernah kena bencana alam dahsyat menjadi kota hijau yang maju, serta berbagai laporan tentang kejadian-kejadian misterius yang pernah terjadi.

Salah satu dokumen yang menarik perhatiannya adalah sebuah laporan dari tahun 2035 tentang "Fenomena Kehilangan Tak Terjelaskan di Sungai Emas." Laporan itu mencatat beberapa kejadian di mana orang-orang tiba-tiba menghilang, terutama saat berada di dekat perairan sungai atau Teluk Emas. Yang lebih mengejutkan, beberapa dari mereka dilaporkan kembali bertahun-tahun kemudian, tetapi dengan ingatan yang kabur tentang apa yang terjadi pada mereka.  Selain hilang, ada juga yang datang dan kemudian menjadi penduduk kota ini.

Apple merasakan detak jantungnya semakin cepat. Apakah ini yang terjadi pada dirinya dan keluarganya? Apakah mereka bagian dari fenomena yang lebih besar?

Saat Apple sibuk membaca, ia merasakan ada seseorang yang mengamatinya. Ia menoleh ke belakang, tetapi ia hanya melihat seorang pria tua berkemeja hitam panjang hampir seperti jubah, pria yang diwawancara di televisi, pria yang juga dilihatnya di tepi Sungai Emas. Ada sesuatu yang aneh pada tatapannya yang tajam dan penuh arti.

Ketika Apple mencoba kembali membaca dokumen, pria itu mendekat dan berbisik, "Berhati-hatilah dengan apa yang kau cari, Nak. Tidak semua kebenaran harus kau ditemukan."

Apple tertegun, tetapi sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, pria berkemeja hitam panjang itu sudah berjalan menjauh, berlalu menghilang di antara rak-rak buku.

Jantungnya berdegup kencang. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di Kota Zoukha? Dan mengapa ada seseorang tidak ingin dirinya menemukan jawabannya?

Setelah merasa ada yang disembunyikan di Pusat Arsip Kota Zoukha, Apple memutuskan mencari referensi kuno di Perpustakaan Kota Zoukha. Gedung perpustakaan itu megah namun memiliki nuansa klasik, dengan lorong-lorong panjang berisi buku-buku tua yang tersusun rapi. Ia mulai mencari bagian yang berkaitan dengan sejarah Kota Zoukha, dengan Sungai Emas dan Teluk Emas.

Setelah beberapa lama mencari, ia menemukan sebuah manuskrip tua yang hampir tidak pernah tersentuh. Judulnya tertulis dengan tinta emas: "Gerbang Waktu Kota Zoukha." Ditulis oleh Batara. Siapa Batara?

Saat membacanya, Apple terkejut. Manuskrip itu menjelaskan bahwa Sungai Emas dan Teluk Emas terhubung dengan empat titik lokasi di kota ini yang keempatnya bisa membuka gerbang ke waktu lain. Beberapa catatan kuno menyebut adanya peristiwa di mana orang yang berlayar melintasi bagian tertentu dari sungai tiba-tiba menghilang, kembali beberapa tahun kemudian atau bahkan tidak pernah kembali lagi.

Di peta yang tergambar dalam manuskrip, terlihat sebuah titik di perairan Teluk Emas ditandai dengan simbol aneh. Titik itu bertepatan dengan lokasi terakhir kapal pesiar tempat Apple dan keluarganya menghilang.

Apple menelan ludah. Apakah ini berarti mereka telah melewati portal waktu tanpa sadar? Dan jika benar, bagaimana cara mereka bisa kembali ke masa asal mereka?

Apple merasa semakin bingung dan penasaran. Informasi yang ia temukan di perpustakaan kota Zoukha sangat mengejutkan. Ia tidak pernah mendengar legenda tentang Sungai Emas dan Teluk Emas sebagai pintu gerbang waktu. Seakan-akan sejarah yang ia ketahui telah berubah atau bahkan disembunyikan.

Dengan alis berkerut, ia membalik halaman demi halaman buku kuno yang ditemukan di bagian arsip perpustakaan. Kota Zoukha yang sekarang begitu hijau, tertata rapi, dan penuh dengan teknologi berkelanjutan, sangat berbeda dari kota yang dulu ia kenal. Dulu, ia masih berjuang keras merancang dan mewujudkan konsep kota hijau, menghadapi berbagai tantangan birokrasi, lingkungan, dan teknologi. Namun di tahun 2050, kota ini telah mencapai puncak kejayaannya, seolah telah melewati fase transformasi besar yang tidak pernah ia alami.

"Kota Zoukha di masa ini... terasa begitu sempurna, lebih maju dari yang pernah aku bayangkan," gumamnya.

Namun, ada sesuatu yang janggal. Jika sejarah perjalanan kota ini benar-benar tercatat, mengapa ia tidak pernah tahu tentang perubahan besar yang pernah terjadi? Apakah ada sesuatu yang menghilangkan bagian dari sejarah ini dari masa lalu? Ataukah ada kekuatan lain yang menyusun ulang kenyataan yang ia kenal?

Apple semakin tertarik untuk mencari jawaban lebih dalam. Ada sesuatu yang tersembunyi, dan ia bertekad untuk mengungkapnya.

Apple menelusuri lebih jauh arsip-arsip lama di perpustakaan, mencoba mencari titik terang tentang perubahan Kota Zoukha. Saat ia mencari di bagian dokumen digital, ia menemukan sebuah artikel dari tahun 2035 yang mengisahkan proyek restorasi Sungai Emas dan Teluk Emas. Artikel itu menyebutkan bahwa kota ini hampir gagal menjadi kota hijau karena banyaknya kendala politik dan berbagai kepentingan ekonomi, tetapi sesuatu terjadi yang kemudian mengubah segalanya.

Sebuah laporan lain yang ia temukan membahas fenomena misterius yang terjadi sekitar tahun 2037, di mana sekelompok peneliti menemukan adanya "anomali waktu" di sekitar Sungai Emas. Namun, laporan itu mendadak terhenti di halaman tertentu, seolah-olah bagian akhirnya telah dihapus atau tak selesai ditulis.

Jantung Apple berdegup kencang. Mengapa informasi ini tidak pernah ia dengar di masa lalunya? Apakah mungkin ada kekuatan baru yang mengendalikan sejarah? Atau mungkin, sesuatu—atau seseorang—telah menghapus bagian penting dari masa lalu mereka?

Ketika ia hendak meninggalkan perpustakaan, seorang pustakawan tua menatapnya dengan tajam. "Kau mencari sesuatu yang sudah lama disembunyikan," katanya dengan suara pelan, hampir seperti bisikan. "Jika kau ingin menemukan kebenaran, jangan hanya membaca, tapi lihatlah dengan matamu sendiri. Sungai Emas dan Teluk Emas menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang bisa kau bayangkan."

Apple terdiam. Ia harus pergi ke Sungai Emas, tempat di mana semua misteri ini bermula.

Rahasia di Sungai Emas

Setelah beberapa menit berjalan, Apple akhirnya tiba di tepian Sungai Emas. Jembatan lengkung dengan lampu-lampu energi surya berpendar lembut membentang di atas sungai. Air sungai berkilauan seperti emas cair, mencerminkan cahaya senja yang jatuh di permukaannya.

Ia berdiri di dermaga, mencoba menyusun pikirannya. Namun, di saat itu juga, sesuatu menarik perhatiannya.

Di tengah sungai, tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah pulau kecil. Pulau itu dikelilingi kabut tipis yang berputar seperti pusaran, seakan menjadi batas antara dua dunia.

Dadanya berdegup kencang. Itu bukan pulau biasa.

Ia mengingat sesuatu—dulu, saat masih mengembangkan proyek kota hijau ini, ia pernah merancang konsep pulau buatan di tengah sungai, yang berfungsi sebagai taman ekologis dan laboratorium riset energi hijau. Namun, proyek itu belum pernah terealisasi di masanya.

Lalu mengapa sekarang pulau itu ada?

Dan mengapa pulau itu diselubungi kabut dan tampak… tidak nyata?

Apple menajamkan pandangan. Saat itulah ia melihat sesuatu yang benar-benar membuat darahnya membeku.

Di atas pulau itu, samar-samar terlihat sebuah bangunan dengan bentuk yang sangat familiar. Itu adalah bangunan kubah putih dengan beberapa menara. Bangunan ini adalah bangunan yang pernah ia desain, bangunan monumen dan riset tsunami dengan tiga menara yang seharusnya tidak atau belum pernah ada di masanya. Namun yang lebih mengejutkan—di puncak menara tertinggi, berkibar sebuah bendera dengan simbol yang aneh, simbol yang tidak pernah ia gunakan dalam desainnya. Simbol apa itu? Tiba-tiba kabut menebal dan pulau dengan bangunan kubah putih itu menjadi samar-samar!

Apple merasakan getaran di udara. Angin bertiup kencang, membuat pusaran air kecil di sekitar dermaga.

Ia harus ke sana.

Apple mengamati pulau yang kini samar dengan jantung berdebar. Pulau yang seharusnya pada masanya tidak ada. Bangunan kubah putih dengan tiga menara ini juga seharusnya juga tidak ada. Dan entah kenapa, ia merasakan adanya tarikan kuat yang membisikkan bahwa semua jawaban yang ia cari ada di sana.

Namun, bagaimana caranya ke sana?

Sungai Emas bukan sungai kecil yang bisa ia seberangi begitu saja. Airnya dalam, arusnya tenang tapi misterius. Tidak ada jembatan untuk ke sana tak terlihat satupun perahu yang tampak akan menuju ke pulau itu.

Tiba-tiba, suara lirih terdengar dari belakangnya.

"Mencari jalan ke pulau itu?"

Apple menoleh cepat. Seorang lelaki tua yang terlihat bijaksana berdiri di belakangnya, mengenakan baju berjubah panjang berwarna abu-abu. Matanya tajam, seakan mengetahui lebih banyak daripada yang seharusnya.

"Anda tahu bagaimana caranya ke sana?" tanya Apple penuh harap.

Orang tua itu tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah samping dermaga. "Gunakan itu."

Apple mengikuti arah jarinya dan melihat sebuah perahu kecil berdesain futuristik, tampaknya menggunakan tenaga surya dan melayang sedikit di atas permukaan air. Perahu itu tampak baru, tetapi juga seakan telah lama menunggu seseorang untuk menggunakannya.

Tanpa berpikir panjang, Apple naik ke perahu itu dan menemukan sebuah layar holografik di dashboardnya. Tulisan di layar itu membuat bulu kuduknya meremang.

“Selamat datang, Apple muda.”

Siapa yang menuliskan namanya di sana? Mengapa ia tahu tahun asalnya, dan mengapa memangginya dengan Apple muda?

Sebelum ia bisa memikirkan lebih jauh, perahu itu telah meluncur sendiri, melintasi air yang berkilauan seperti emas cair, menuju pulau yang diselubungi misteri.

Pertemuan Rahasia di Pulau Kabut

Begitu perahu mencapai dermaga kayu di tepi pulau, Apple melompat turun dengan hati-hati. Udara di sini berbeda—lebih dingin, lebih berat, seolah-olah waktu berjalan lebih lambat.

Ia melangkah menaiki jalan setapak berbatu yang mengarah ke bangunan kubah dengan bermenara. Bangunan yang tadi dilihatnya. Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat perasaan aneh menyelimutinya.

Namun, sebelum ia bisa mencapai pintu menara, sesuatu di sisi kiri menarik perhatiannya.

Sebuah kapal pesiar berwarna putih.

Kapal itu tampak megah, meskipun ada kesan sepi yang menyeramkan di sekelilingnya. Lambungnya masih berkilau, tetapi tertutup sedikit kabut, seakan separuh berada di dunia nyata dan separuh lagi berada di dunia lain.

Apple menelan ludah.

Inilah kapal yang dilihatnya dalam berita dan diberitakan hilang di tengah Teluk Emas.

Ia mendekat, menaiki jembatan kecil misterius. Jembatan yang tiba-tiba ada. Langkahnya bergema di dek kayu yang terasa dingin.

Suara angin berbisik di telinganya, seolah ada sesuatu yang menunggu.

Lalu ia melihatnya.

Di tengah dek, berdiri seorang wanita dengan rambut panjang terurai, mengenakan pakaian elegan berwarna biru keperakan. Punggungnya menghadap Apple.

Namun, ada sesuatu yang mengerikan tak bisa dijelaskan tentang wanita itu.

Dengan gemetar, Apple melangkah lebih dekat, dan saat itulah wanita itu berbalik.

Apple membeku.

Wanita itu… dirinya sendiri.

Apple versi tahun 2050 menatapnya dengan mata penuh keheningan. Ada sesuatu di matanya—bukan hanya kebijaksanaan, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam… sebuah pandangan yang menyiratkan rahasia besar.

Apple yang lebih tua itu tersenyum tipis.

“Akhirnya kau datang juga.”

Apple muda nyaris tidak bisa bernapas. "Siapa... siapa kau?"

Apple versi 2050 tertawa kecil. "Bukankah sudah jelas? Aku adalah dirimu… di masa depanmu.”

Apple muda mundur selangkah. Ini tidak masuk akal! Tapi, saat ia menatap lebih dalam ke mata wanita itu, ia tahu… ini nyata.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanyanya dengan suara bergetar.

Apple yang lebih tua tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah kabin utama kapal.

"Masuklah. Ada sesuatu yang harus kau lihat."

Jantung Apple berdegup kencang. Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari yang ia duga.

Dan ia tidak punya pilihan selain mengikutinya. Rasa penasaran membuatnya patuh.

Apple muda melangkah perlahan ke dalam kabin utama kapal pesiar yang mewah. Suasana di dalam terasa hening, hanya ada suara angin yang berdesir di balik jendela kaca besar yang menghadap ke Sungai Emas. Lampu-lampu di dinding menyala lembut, memberikan cahaya redup yang semakin menambah kesan misterius.

Di hadapannya, kini Apple versi 2050 duduk di sebuah sofa berbahan kulit, tampak tenang namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang berat dalam pikirannya.

Apple muda menarik napas dalam-dalam, lalu duduk di seberang.

"Katakan yang sebenarnya," katanya, mencoba menekan kegugupannya. "Apa yang terjadi? Mengapa aku ada di sini? Dan… kenapa kapal ini ternyata tidak hilang? Kapal ini masih ada dan utuh."

Apple versi 2050 tersenyum tipis. “Kau tidak akan percaya meski aku menjelaskannya.”

"Coba saja," Apple muda menantang.

Apple versi 2050 terdiam sejenak, lalu menatap ke luar jendela, ke arah sungai yang berkilauan di bawah cahaya senja.

"Kota Zoukha yang kau lihat sekarang… bukan sepenuhnya hasil kerja keras kita, tapi juga hasil dari anomali waktu."

"Anomali waktu?"

"Ya," Apple yang lebih tua mengangguk. "Sungai Emas bukan sekadar sungai biasa. Ini adalah titik temu antara berbagai dimensi waktu. Aku menemukannya bertahun-tahun lalu di waktu normal kita, setelah banyak penelitian. Aku kemudian memtuskan berada di sini membangun kota impianku. Aku dapat mengendlikan kota ini walau tak sepenuhnya. Aku tahu siapa yang datang dang pergi. Karena itulah… aku juga tahu kau sudah datang."

Apple muda menelan ludah.

"Tapi kenapa aku harus ke sini? Kenapa kau juga masih ada di sini?"

Apple tua menatapnya dalam-dalam sebelum menjawab, "Karena aku tidak bisa pergi tanpa kau ada di sini."

Apple muda mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Apple tua berdiri, berjalan menuju meja di sudut ruangan. Dari lacinya, ia mengeluarkan sebuah buku tebal berdebu. "Ini adalah catatan penelitianku selama bertahun-tahun."

Apple muda mengambil buku itu, membuka beberapa halaman, dan matanya melebar saat melihat sketsa dan diagram tentang Sungai Emas, Teluk Emas, beberapa titik yang terhubung di pusat kota dan… anomali waktu Kota Zoukha.

"Kau sudah tahu ini semua? Kau sudah tahu ada sesuatu yang aneh dengan kota ini?"

Apple tua mengangguk. "Bukan hanya tahu. Aku bagian darinya. Dan kau… kau juga bagian darinya."

"Apa maksudmu?" suara Apple muda mulai bergetar.

Apple tua menghela napas. "Aku terjebak di sini, Apple. Terjebak karena pengetahuanku sendiri dan aku tidak bisa kembali ke waktu di mana aku seharusnya. Begitu seseorang di waktu asalnya pada saat yang tepat melewati ambang batas tertentu di sungai ini… mereka akan kehilangan jalannya saat itu. Mereka dapat sampai di sini ataupun pergi meninggalkan kota ini."

Apple muda memandangnya tajam. "Tapi aku bisa kembali, kan? Pasti ada cara."

Apple tua tersenyum samar, lalu berkata pelan, "Itulah yang sedang kita cari tahu. Titiknya tak hanya di sini. Saat ini titik utama ini tak berfungsi optimal. Aku tak bisa mengatur untuk kembali ke waktu asal. Aku membutuhkan tambahan energi untuk kembali,"

Apple muda merasa kepalanya berputar. "Lalu… bagaimana dengan keluargaku? Orang tuaku. Jika aku bisa kembali, apakah mereka juga bisa?"

Apple tua menundukkan kepala. "Mungkin… tapi tidak mudah dan tidak sesederhana itu."

Apple muda menggigit bibirnya. Semuanya semakin rumit. Ia berpikir ia hanya terlempar ke masa depan, tapi ternyata ada sesuatu yang jauh lebih besar telah terjadi.

"Aku harus mencari tahu lebih banyak," katanya akhirnya.

Apple tua mengangguk. "Dan aku akan membantumu."

Namun, sebelum mereka bisa berbicara lebih jauh, suara alarm dari layar di dinding tiba-tiba berbunyi.

"Peringatan: Aktivitas anomali terdeteksi di Sungai Emas."

Apple muda dan tua saling berpandangan.

"Sepertinya kita tidak punya banyak waktu," ujar Apple tua dengan nada serius.

Apple muda mengepalkan tangannya.Geram. "Ya...keberadaan kapal pesiar ini sedang terdeteksi. Kita terdeteksi."(Bersambung)

_______________

 

 

 

 




No comments:

Post a Comment