APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 4
MENYELAMI MISTERI KOTA ZOUKHA
Sebuah
Keputusan
Setelah
pertemuan yang penuh ketegangan dengan Arman, Apple merasa ada sesuatu yang
harus ia cari tahu lebih dalam. Malam itu, di rumah orang tuanya yang asri di
tepi Sungai Emas, Apple duduk termenung di teras depan rumah. Angin malam yang
sejuk berembus lembut, membawa aroma segar dari taman kota beraneka bunga yang
sedang mekar di seberang sungai. Namun pikirannya masih dipenuhi oleh kata-kata
Arman.
"Ada kekuatan yang jauh lebih besar dari yang bisa kita
bayangkan. Kota Zoukha ini... bukan hanya sekadar kota biasa. Di balik semua
keindahan ini, ada rahasia-rahasia yang menjadi bagian dari sejarah kota ini,
yang tak semua orang boleh tahu."
Apple tahu, jika ingin kembali ke masa asalnya, ia harus
memahami anomali waktu dengan baik. Dan untuk itu, ia harus mencari tahu lebih
banyak tentang sejarah Kota Zoukha dan menganalisis peristiwa-peristiwa ganjil
yang mungkin tersembunyi dari catatan resmi.
Mengungkap
Rahasia Kota Zoukha
Keesokan
harinya, Apple memutuskan pergi ke Pusat Arsip Kota Zoukha. Dengan mengenakan
pakaian yang lebih kasual agar tidak mencolok, ia berjalan menyusuri jalanan
kota yang bersih dan hijau. Papa dan mama tetap tinggal di rumah, mereka
memantau berbagai berita tentang hilangnya mereka.
Setibanya di Pusat Arsip Kota Zoukha, Apple disambut oleh
seorang petugas dengan ramah bernama Mira. "Selamat datang di Pusat Arsip
Kota Zoukha. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mira sambil tersenyum.
"Saya ingin mencari informasi tentang fenomena anomali waktu
atau peristiwa ganjil yang pernah terjadi di kota ini," jawab Apple,
berusaha terdengar santai.
Mira tampak berpikir sejenak. "Hmm... anomali waktu?
Itu informasi yang tidak biasa. Tapi ada beberapa dokumen lama yang ada mungkin
bisa membantu. Mari ikuti saya."
Apple mengikuti Mira ke bagian arsip khusus, di mana
tumpukan buku dan dokumen digital tersimpan rapi. Ia mulai membaca berbagai
catatan lama tentang pembangunan Kota Zoukha, transformasi kota ini dari kota
yang pernah kena bencana alam dahsyat menjadi kota hijau yang maju, serta berbagai
laporan tentang kejadian-kejadian misterius yang pernah terjadi.
Salah satu dokumen yang menarik perhatiannya adalah sebuah
laporan dari tahun 2035 tentang "Fenomena Kehilangan Tak Terjelaskan di
Sungai Emas." Laporan itu mencatat beberapa kejadian di mana orang-orang
tiba-tiba menghilang, terutama saat berada di dekat perairan sungai atau Teluk
Emas. Yang lebih mengejutkan, beberapa dari mereka dilaporkan kembali
bertahun-tahun kemudian, tetapi dengan ingatan yang kabur tentang apa yang
terjadi pada mereka. Selain hilang, ada
juga yang datang dan kemudian menjadi penduduk kota ini.
Apple merasakan detak jantungnya semakin cepat. Apakah ini
yang terjadi pada dirinya dan keluarganya? Apakah mereka bagian dari fenomena
yang lebih besar?
Saat Apple sibuk membaca, ia merasakan ada seseorang yang
mengamatinya. Ia menoleh ke belakang, tetapi ia hanya melihat seorang pria tua berkemeja
hitam panjang hampir seperti jubah, pria yang diwawancara di televisi, pria
yang juga dilihatnya di tepi Sungai Emas. Ada sesuatu yang aneh pada tatapannya
yang tajam dan penuh arti.
Ketika Apple mencoba kembali membaca dokumen, pria itu
mendekat dan berbisik, "Berhati-hatilah dengan apa yang kau cari, Nak.
Tidak semua kebenaran harus kau ditemukan."
Apple tertegun, tetapi sebelum ia bisa bertanya lebih
lanjut, pria berkemeja hitam panjang itu sudah berjalan menjauh, berlalu menghilang
di antara rak-rak buku.
Jantungnya berdegup kencang. Apa yang sebenarnya sedang
terjadi di Kota Zoukha? Dan mengapa ada seseorang tidak ingin dirinya menemukan
jawabannya?
Setelah merasa ada yang disembunyikan di Pusat Arsip Kota
Zoukha, Apple memutuskan mencari referensi kuno di Perpustakaan Kota Zoukha.
Gedung perpustakaan itu megah namun memiliki nuansa klasik, dengan lorong-lorong
panjang berisi buku-buku tua yang tersusun rapi. Ia mulai mencari bagian yang
berkaitan dengan sejarah Kota Zoukha, dengan Sungai Emas dan Teluk Emas.
Setelah beberapa lama mencari, ia menemukan sebuah manuskrip
tua yang hampir tidak pernah tersentuh. Judulnya tertulis dengan tinta emas:
"Gerbang Waktu Kota Zoukha." Ditulis oleh Batara. Siapa Batara?
Saat membacanya, Apple terkejut. Manuskrip itu menjelaskan
bahwa Sungai Emas dan Teluk Emas terhubung dengan empat titik lokasi di kota
ini yang keempatnya bisa membuka gerbang ke waktu lain. Beberapa catatan kuno
menyebut adanya peristiwa di mana orang yang berlayar melintasi bagian tertentu
dari sungai tiba-tiba menghilang, kembali beberapa tahun kemudian atau bahkan
tidak pernah kembali lagi.
Di peta yang tergambar dalam manuskrip, terlihat sebuah
titik di perairan Teluk Emas ditandai dengan simbol aneh. Titik itu bertepatan
dengan lokasi terakhir kapal pesiar tempat Apple dan keluarganya menghilang.
Apple menelan ludah. Apakah ini berarti mereka telah
melewati portal waktu tanpa sadar? Dan jika benar, bagaimana cara mereka bisa
kembali ke masa asal mereka?
Apple merasa semakin bingung dan penasaran. Informasi yang
ia temukan di perpustakaan kota Zoukha sangat mengejutkan. Ia tidak pernah
mendengar legenda tentang Sungai Emas dan Teluk Emas sebagai pintu gerbang
waktu. Seakan-akan sejarah yang ia ketahui telah berubah atau bahkan
disembunyikan.
Dengan alis berkerut, ia membalik halaman demi halaman buku
kuno yang ditemukan di bagian arsip perpustakaan. Kota Zoukha yang sekarang
begitu hijau, tertata rapi, dan penuh dengan teknologi berkelanjutan, sangat
berbeda dari kota yang dulu ia kenal. Dulu, ia masih berjuang keras merancang
dan mewujudkan konsep kota hijau, menghadapi berbagai tantangan birokrasi,
lingkungan, dan teknologi. Namun di tahun 2050, kota ini telah mencapai puncak
kejayaannya, seolah telah melewati fase transformasi besar yang tidak pernah ia
alami.
"Kota Zoukha di masa ini... terasa begitu sempurna,
lebih maju dari yang pernah aku bayangkan," gumamnya.
Namun, ada sesuatu yang janggal. Jika sejarah perjalanan
kota ini benar-benar tercatat, mengapa ia tidak pernah tahu tentang perubahan
besar yang pernah terjadi? Apakah ada sesuatu yang menghilangkan bagian dari
sejarah ini dari masa lalu? Ataukah ada kekuatan lain yang menyusun ulang
kenyataan yang ia kenal?
Apple semakin tertarik untuk mencari jawaban lebih dalam.
Ada sesuatu yang tersembunyi, dan ia bertekad untuk mengungkapnya.
Apple menelusuri lebih jauh arsip-arsip lama di
perpustakaan, mencoba mencari titik terang tentang perubahan Kota Zoukha. Saat
ia mencari di bagian dokumen digital, ia menemukan sebuah artikel dari tahun 2035
yang mengisahkan proyek restorasi Sungai Emas dan Teluk Emas. Artikel itu
menyebutkan bahwa kota ini hampir gagal menjadi kota hijau karena banyaknya
kendala politik dan berbagai kepentingan ekonomi, tetapi sesuatu terjadi yang
kemudian mengubah segalanya.
Sebuah laporan lain yang ia temukan membahas fenomena
misterius yang terjadi sekitar tahun 2037, di mana sekelompok peneliti
menemukan adanya "anomali waktu" di sekitar Sungai Emas. Namun,
laporan itu mendadak terhenti di halaman tertentu, seolah-olah bagian akhirnya
telah dihapus atau tak selesai ditulis.
Jantung Apple berdegup kencang. Mengapa informasi ini tidak
pernah ia dengar di masa lalunya? Apakah mungkin ada kekuatan baru yang
mengendalikan sejarah? Atau mungkin, sesuatu—atau seseorang—telah menghapus
bagian penting dari masa lalu mereka?
Ketika ia hendak meninggalkan perpustakaan, seorang
pustakawan tua menatapnya dengan tajam. "Kau mencari sesuatu yang sudah
lama disembunyikan," katanya dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.
"Jika kau ingin menemukan kebenaran, jangan hanya membaca, tapi lihatlah
dengan matamu sendiri. Sungai Emas dan Teluk Emas menyimpan lebih banyak
rahasia daripada yang bisa kau bayangkan."
Apple terdiam. Ia harus pergi ke Sungai Emas, tempat di mana
semua misteri ini bermula.
Rahasia di Sungai Emas
Setelah beberapa menit berjalan, Apple akhirnya tiba
di tepian Sungai Emas. Jembatan lengkung dengan lampu-lampu energi surya
berpendar lembut membentang di atas sungai. Air sungai berkilauan seperti emas
cair, mencerminkan cahaya senja yang jatuh di permukaannya.
Ia berdiri di
dermaga, mencoba menyusun pikirannya. Namun, di saat itu juga, sesuatu menarik
perhatiannya.
Di tengah sungai,
tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah pulau kecil. Pulau itu
dikelilingi kabut tipis yang berputar seperti pusaran, seakan menjadi batas
antara dua dunia.
Dadanya berdegup
kencang. Itu bukan pulau biasa.
Ia mengingat
sesuatu—dulu, saat masih mengembangkan proyek kota hijau ini, ia pernah
merancang konsep pulau buatan di tengah sungai, yang berfungsi sebagai taman
ekologis dan laboratorium riset energi hijau. Namun, proyek itu belum pernah
terealisasi di masanya.
Lalu mengapa
sekarang pulau itu ada?
Dan mengapa pulau
itu diselubungi kabut dan tampak… tidak nyata?
Apple menajamkan
pandangan. Saat itulah ia melihat sesuatu yang benar-benar membuat darahnya
membeku.
Di atas pulau itu,
samar-samar terlihat sebuah bangunan dengan bentuk yang sangat familiar. Itu
adalah bangunan kubah putih dengan beberapa menara. Bangunan ini adalah bangunan
yang pernah ia desain, bangunan monumen dan riset tsunami dengan tiga menara
yang seharusnya tidak atau belum pernah ada di masanya. Namun yang lebih
mengejutkan—di puncak menara tertinggi, berkibar sebuah bendera dengan simbol
yang aneh, simbol yang tidak pernah ia gunakan dalam desainnya. Simbol apa itu?
Tiba-tiba kabut menebal dan pulau dengan bangunan kubah putih itu menjadi
samar-samar!
Apple merasakan
getaran di udara. Angin bertiup kencang, membuat pusaran air kecil di sekitar
dermaga.
Ia harus ke sana.
Apple mengamati pulau yang kini samar dengan jantung
berdebar. Pulau yang seharusnya pada masanya tidak ada. Bangunan kubah putih
dengan tiga menara ini juga seharusnya juga tidak ada. Dan entah kenapa, ia
merasakan adanya tarikan kuat yang membisikkan bahwa semua jawaban yang ia cari
ada di sana.
Namun, bagaimana caranya ke sana?
Sungai Emas bukan sungai kecil yang bisa ia seberangi begitu
saja. Airnya dalam, arusnya tenang tapi misterius. Tidak ada jembatan untuk ke
sana tak terlihat satupun perahu yang tampak akan menuju ke pulau itu.
Tiba-tiba, suara lirih terdengar dari belakangnya.
"Mencari jalan ke pulau itu?"
Apple menoleh cepat. Seorang lelaki tua yang terlihat
bijaksana berdiri di belakangnya, mengenakan baju berjubah panjang berwarna
abu-abu. Matanya tajam, seakan mengetahui lebih banyak daripada yang
seharusnya.
"Anda tahu bagaimana caranya ke sana?" tanya Apple
penuh harap.
Orang tua itu tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya dan
menunjuk ke arah samping dermaga. "Gunakan itu."
Apple mengikuti arah jarinya dan melihat sebuah perahu kecil
berdesain futuristik, tampaknya menggunakan tenaga surya dan melayang sedikit
di atas permukaan air. Perahu itu tampak baru, tetapi juga seakan telah lama
menunggu seseorang untuk menggunakannya.
Tanpa berpikir panjang, Apple naik ke perahu itu dan
menemukan sebuah layar holografik di dashboardnya. Tulisan di layar itu membuat
bulu kuduknya meremang.
“Selamat datang, Apple muda.”
Siapa yang menuliskan namanya di sana? Mengapa ia tahu tahun
asalnya, dan mengapa memangginya dengan Apple muda?
Sebelum ia bisa memikirkan lebih jauh, perahu itu telah meluncur
sendiri, melintasi air yang berkilauan seperti emas cair, menuju pulau yang
diselubungi misteri.
Pertemuan Rahasia di Pulau Kabut
Begitu perahu mencapai dermaga kayu di tepi pulau,
Apple melompat turun dengan hati-hati. Udara di sini berbeda—lebih dingin,
lebih berat, seolah-olah waktu berjalan lebih lambat.
Ia melangkah
menaiki jalan setapak berbatu yang mengarah ke bangunan kubah dengan bermenara.
Bangunan yang tadi dilihatnya. Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat
perasaan aneh menyelimutinya.
Namun, sebelum ia
bisa mencapai pintu menara, sesuatu di sisi kiri menarik perhatiannya.
Sebuah kapal pesiar
berwarna putih.
Kapal itu tampak
megah, meskipun ada kesan sepi yang menyeramkan di sekelilingnya. Lambungnya
masih berkilau, tetapi tertutup sedikit kabut, seakan separuh berada di dunia
nyata dan separuh lagi berada di dunia lain.
Apple menelan
ludah.
Inilah kapal yang dilihatnya
dalam berita dan diberitakan hilang di tengah Teluk Emas.
Ia mendekat,
menaiki jembatan kecil misterius. Jembatan yang tiba-tiba ada. Langkahnya
bergema di dek kayu yang terasa dingin.
Suara angin
berbisik di telinganya, seolah ada sesuatu yang menunggu.
Lalu ia melihatnya.
Di tengah dek,
berdiri seorang wanita dengan rambut panjang terurai, mengenakan pakaian elegan
berwarna biru keperakan. Punggungnya menghadap Apple.
Namun, ada sesuatu
yang mengerikan tak bisa dijelaskan tentang wanita itu.
Dengan gemetar,
Apple melangkah lebih dekat, dan saat itulah wanita itu berbalik.
Apple membeku.
Wanita itu… dirinya
sendiri.
Apple versi tahun
2050 menatapnya dengan mata penuh keheningan. Ada sesuatu di matanya—bukan
hanya kebijaksanaan, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam… sebuah
pandangan yang menyiratkan rahasia besar.
Apple yang lebih
tua itu tersenyum tipis.
“Akhirnya kau datang juga.”
Apple muda nyaris
tidak bisa bernapas. "Siapa... siapa kau?"
Apple versi 2050
tertawa kecil. "Bukankah sudah jelas? Aku adalah dirimu… di masa depanmu.”
Apple muda mundur
selangkah. Ini tidak masuk akal! Tapi, saat ia menatap lebih dalam ke mata
wanita itu, ia tahu… ini nyata.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanyanya
dengan suara bergetar.
Apple yang lebih
tua tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah
kabin utama kapal.
"Masuklah. Ada sesuatu yang harus kau
lihat."
Jantung Apple
berdegup kencang. Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari yang ia
duga.
Dan ia tidak punya
pilihan selain mengikutinya. Rasa penasaran membuatnya patuh.
Apple muda melangkah perlahan ke dalam kabin utama kapal
pesiar yang mewah. Suasana di dalam terasa hening, hanya ada suara angin yang
berdesir di balik jendela kaca besar yang menghadap ke Sungai Emas. Lampu-lampu
di dinding menyala lembut, memberikan cahaya redup yang semakin menambah kesan
misterius.
Di hadapannya, kini Apple versi 2050 duduk di sebuah sofa
berbahan kulit, tampak tenang namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang
berat dalam pikirannya.
Apple muda menarik napas dalam-dalam, lalu duduk di
seberang.
"Katakan yang
sebenarnya," katanya, mencoba menekan kegugupannya. "Apa yang terjadi? Mengapa aku ada di
sini? Dan… kenapa kapal ini ternyata tidak hilang? Kapal ini masih ada dan
utuh."
Apple versi 2050 tersenyum tipis. “Kau tidak akan percaya meski aku menjelaskannya.”
"Coba saja,"
Apple muda menantang.
Apple versi 2050 terdiam sejenak, lalu menatap ke luar
jendela, ke arah sungai yang berkilauan di bawah cahaya senja.
"Kota Zoukha yang kau lihat
sekarang… bukan sepenuhnya hasil kerja keras kita, tapi juga hasil dari anomali
waktu."
"Anomali waktu?"
"Ya,"
Apple yang lebih tua mengangguk. "Sungai
Emas bukan sekadar sungai biasa. Ini adalah titik temu antara berbagai dimensi
waktu. Aku menemukannya bertahun-tahun lalu di waktu normal kita, setelah
banyak penelitian. Aku kemudian memtuskan berada di sini membangun kota impianku.
Aku dapat mengendlikan kota ini walau tak sepenuhnya. Aku tahu siapa yang
datang dang pergi. Karena itulah… aku juga tahu kau sudah datang."
Apple muda menelan ludah.
"Tapi kenapa aku harus ke
sini? Kenapa kau juga masih ada di sini?"
Apple tua menatapnya dalam-dalam sebelum menjawab, "Karena aku tidak bisa pergi tanpa kau
ada di sini."
Apple muda mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Apple tua berdiri, berjalan menuju meja di sudut ruangan.
Dari lacinya, ia mengeluarkan sebuah buku tebal berdebu. "Ini adalah catatan penelitianku selama
bertahun-tahun."
Apple muda mengambil buku itu, membuka beberapa halaman, dan
matanya melebar saat melihat sketsa dan diagram tentang Sungai Emas, Teluk
Emas, beberapa titik yang terhubung di pusat kota dan… anomali waktu Kota Zoukha.
"Kau sudah tahu ini semua?
Kau sudah tahu ada sesuatu yang aneh dengan kota ini?"
Apple tua mengangguk. "Bukan hanya tahu. Aku bagian darinya. Dan kau… kau juga bagian
darinya."
"Apa maksudmu?"
suara Apple muda mulai bergetar.
Apple tua menghela napas. "Aku terjebak di sini, Apple. Terjebak karena
pengetahuanku sendiri dan aku tidak bisa kembali ke waktu di mana aku
seharusnya. Begitu seseorang di waktu asalnya pada saat yang tepat melewati
ambang batas tertentu di sungai ini… mereka akan kehilangan jalannya saat itu.
Mereka dapat sampai di sini ataupun pergi meninggalkan kota ini."
Apple muda memandangnya tajam. "Tapi aku bisa kembali, kan? Pasti ada cara."
Apple tua tersenyum samar, lalu berkata pelan, "Itulah yang sedang kita cari tahu. Titiknya
tak hanya di sini. Saat ini titik utama ini tak berfungsi optimal. Aku tak bisa
mengatur untuk kembali ke waktu asal. Aku membutuhkan tambahan energi untuk
kembali,"
Apple muda merasa kepalanya berputar. "Lalu… bagaimana dengan keluargaku?
Orang tuaku. Jika aku bisa kembali, apakah mereka juga bisa?"
Apple tua menundukkan kepala. "Mungkin… tapi tidak mudah dan tidak sesederhana itu."
Apple muda menggigit bibirnya. Semuanya semakin rumit. Ia
berpikir ia hanya terlempar ke masa depan, tapi ternyata ada sesuatu yang jauh
lebih besar telah terjadi.
"Aku harus mencari tahu lebih
banyak," katanya akhirnya.
Apple tua mengangguk. "Dan aku akan membantumu."
Namun, sebelum mereka bisa berbicara lebih jauh, suara alarm
dari layar di dinding tiba-tiba berbunyi.
"Peringatan: Aktivitas
anomali terdeteksi di Sungai Emas."
Apple muda dan tua saling berpandangan.
"Sepertinya kita tidak punya
banyak waktu," ujar Apple tua dengan nada serius.
Apple muda mengepalkan tangannya.Geram. "Ya...keberadaan kapal pesiar ini sedang terdeteksi. Kita terdeteksi."(Bersambung)
_______________
No comments:
Post a Comment