Monday, February 24, 2025

BAGIAN 3: KENYATAAN YANG SULIT DIPERCAYA

 

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota



Bagian 3

KENYATAAN YANG SULIT DIPERCAYA

Apple duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Ruangan itu terasa familiar, tetapi sekaligus terasa asing. Desainnya tetap seperti rumah mereka, dengan jendela besar yang menghadap ke sungai, rak-rak kayu yang dipenuhi buku, dan sofa empuk berwarna coklat tua di tengah ruangan. Namun, ada banyak detail yang membuat mereka semakin menyadari bahwa ini bukan rumah yang mereka kenal selama ini.

Di atas meja, terdapat berbagai foto keluarga yang terlihat baru tetapi juga aneh bagi mereka. Apple mengangkat sebuah bingkai foto dan menatapnya lekat-lekat. Dalam foto itu, ia berdiri di samping Bryan, mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan latar belakang taman hijau di tepi sungai. Bryan terlihat gagah dengan setelan jas abu-abu, tersenyum ke arah kamera. Ini adalah foto pernikahan mereka. Tetapi, bagaimana mungkin? Mereka belum menikah.

Dengan tangan gemetar, Apple meletakkan foto itu dan mengambil satu foto lainnya. Kali ini, ia dan Bryan berdiri di antara dua anak muda yang mengenakan baju wisuda. Apple menelan ludahnya. Kedua anak muda itu… sangat mirip dengan mereka berdua. Wajah-wajah mereka mengingatkan pada sosok Bryan dan dirinya saat masih muda.

“Pa… Ma… lihat ini,” suara Apple bergetar.

Ayah dan ibunya mendekat. Mama mengambil foto itu, lalu menatapnya dengan mata membelalak.

“Ini… ini cucu kami?” Mama berbisik dengan suara hampir tak percaya.

Mereka bertiga saling bertatapan. Seakan baru menyadari sesuatu yang sangat besar—bahwa mereka benar-benar telah berpindah waktu, ke masa depan yang seharusnya belum mereka alami.

Di tengah keheningan yang tegang, tiba-tiba terdengar suara dari dapur. Suara benda jatuh, seperti sesuatu yang terjatuh dari atas meja. Mereka serempak menoleh.

Apple berdiri dan berjalan perlahan ke dapur. Kedua orang tuanya mengikutinya dari belakang dengan langkah hati-hati. Saat mereka tiba di pintu dapur, Apple langsung terkejut.

Di atas meja dapur, seekor kucing hitam duduk dengan anggun, menatap mereka dengan mata bulat berwarna kuning keemasan. Apple menutup mulutnya, hampir tak percaya.

“Si Item…?” bisik Apple.

Kucing itu mengeong pelan, lalu melompat turun dari meja dan mendekati mereka, menggosokkan tubuhnya ke kaki Apple seperti biasa.

“Tapi… ini tidak mungkin…,” Apple berlutut dan mengelus bulu lembut kucing itu. “Si Item sudah tidak ada sejak lima tahun lalu.”

Papa mengangkat bahu. “Tapi dia ada di sini, Apple. Entah bagaimana, dia juga ikut berpindah waktu bersama kita.”

Apple merasakan bulu kuduknya berdiri. Semua ini sudah cukup membingungkan, dan sekarang kucing kesayangannya yang seharusnya sudah tiada justru muncul di sini, di tahun 2050.

Mereka kembali ke ruang keluarga, masih berusaha mencerna semua yang terjadi. Mama membuka laci kecil di bawah rak buku dan menemukan beberapa surat serta dokumen bertanggal di tahun 2049. Di salah satu kertas, tertulis nama Apple sebagai Ketua Tim dalam Proyek Restorasi Kawasan Tepi Sungai Emas.

“Jadi… di masa depan ini, aku benar-benar berhasil membangun kota impianku,” gumam Apple, membaca dokumen itu dengan perasaan bercampur aduk.

Namun, sebelum mereka bisa mendiskusikan lebih jauh, tiba-tiba lampu ruang tamu meredup dan layar televisi menyala dengan sendirinya. Sebuah siaran berita darurat muncul.

“Pencarian masih terus dilakukan untuk kapal pesiar yang hilang secara misterius di perairan Teluk Emas. Hilangnya kapal ini semakin membingungkan tim penyelamat karena tidak ada tanda-tanda cuaca buruk atau gangguan teknis. Para ahli masih mencari penjelasan bagaimana kapal pesiar ini bisa menghilang begitu saja dari radar.”

Gambar di layar menunjukkan foto Apple versi 2050 bersama Bryan dan dua anak mereka.

Mereka bertiga menatap layar dengan napas tertahan. Dada Apple terasa sesak.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada kita?” bisik Apple.

Tatapan mereka bertemu. Rasa takut, kebingungan, dan ketidakpastian menyelimuti mereka.

Jawaban dari semua misteri ini… masih harus mereka cari.

_______________

Apple dan kedua orang tuanya memutuskan mencari jawaban atas kejadian yang menimpa mereka, namun rasa penasaran juga membuat mereka ingin melihat Kota Zoukha di tahun 2050. Mereka sadar harus berhati-hati, karena mereka kini menjadi pusat perhatian setelah berita tentang hilangnya kapal pesiar mereka.

Untuk itu, mereka memutuskan untuk menyamar. Apple mengenakan jaket panjang dengan tudung lebar, menutupi sebagian wajahnya. Ayahnya memakai kacamata gelap dan topi, sementara mamanya mengenakan syal lebar yang membingkai wajahnya. Dengan penuh kehati-hatian, mereka melangkah keluar dari rumah dan berjalan menyusuri tepian Sungai Emas.

Sungai itu kini terlihat jauh lebih bersih dan tertata dibandingkan dengan yang Apple ingat di masa kini. Jalur pedestrian yang dipenuhi pepohonan rindang membentang sepanjang sisi barat sungai, sementara sisi timurnya dipenuhi deretan toko dan bangunan modern yang berkonsep ramah lingkungan. Beberapa perahu wisata dan kapal pesiar ukuran sedang tampak berlayar dengan tenang di perairan yang berkilauan.

Saat mereka berjalan, mereka mulai mendengar percakapan orang-orang di sekitar mereka. Sekelompok orang tua yang duduk di bangku taman tampak berbisik-bisik sambil menunjuk ke layar holografik di depan mereka. Salah satu dari mereka berkata dengan suara serius, “Sangat aneh… bagaimana mungkin satu keluarga dalam satu kapal bisa hilang di Teluk Emas begitu saja tanpa jejak?”

Apple menahan napas. Dia melirik kedua orang tuanya yang juga terlihat tegang. Mereka terus berjalan, mencoba menyerap informasi sebanyak mungkin dari obrolan yang mereka dengar.

Tiba-tiba, seorang pria berkemeja hitam tampak menghampiri seorang wanita tua yang sedang membaca berita holografik. "Ada dugaan bahwa hilangnya mereka bukan kecelakaan biasa. Beberapa ahli mulai berpikir ada kaitannya dengan anomali waktu."

Apple dan kedua orang tuanya saling bertatapan. Anomali waktu? Apakah ini berarti mereka bukan satu-satunya yang mengalami kejadian aneh ini? Bisikan tentang "anomali waktu" pun terdengar mulai dibahas, seakan menjadi isu yang tengah hangat diperbincangkan. Dengan hati-hati, mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah restoran megah yang dibangun di atas sungai. Restoran itu dikelilingi taman yang indah, dengan jembatan kecil yang menghubungkannya ke daratan. Dari atas, mereka bisa melihat air sungai yang jernih berkilauan di bawah cahaya matahari. Apple merasa seperti berada di kota versi sempurna dari impiannya.

Namun, saat hendak memesan makanan, mereka tertegun. Mereka tidak memiliki alat pembayaran apa pun yang berlaku di tahun 2050. Apple menoleh ke orang tuanya, dan mereka saling bertukar pandang dengan wajah cemas. Bagaimana bisa mereka membeli makanan di dunia yang asing ini?

Di saat yang bersamaan, seorang pria paruh baya mendekati mereka dengan senyum ramah. "Kalian terlihat seperti orang asing di sini," katanya dengan nada hangat. "Biar aku yang traktir."

Awalnya mereka ragu, tetapi pria itu tampaknya tidak memiliki niat buruk. Setelah mereka duduk dan mulai berbincang, pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Arman. Yang mengejutkan, Arman seperti sudah mengenal mereka sebelumnya. Arman ternyata juga berasal dari masa lalu, tetapi dari tempat yang berbeda dan telah menyesuaikan diri dengan kehidupan di tahun 2050.

"Aku tiba di sini dua puluh tahun lalu," ungkap Arman. "Awalnya aku kebingungan seperti kalian, tetapi akhirnya aku memilih untuk bertahan dan menjalani hidup baru di sini. Dan tahukah kalian? Keluarga kalian adalah bagian penting dari sejarah Kota Zoukha." Arman berkisah seperti sudah familiar dan sangat mengenal Apple dan keluarganya.

Apple dan kedua orang tuanya terdiam. Arman melanjutkan dengan antusias sambil menatap Apple, "Ayah dan ibumu memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan dan kemajuan Kota Zoukha hingga mencapai masa keemasannya seperti sekarang. Apple, kamu di sini dikenal sebagai arsitek visioner yang mengubah wajah kota ini. Kalian saat ini tidak mengetahui betapa besarnya pengaruh kalian di kota ini."

Mendengar itu, Apple merasakan sesuatu bergetar dalam dirinya. Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Bagaimana mungkin mereka menjadi bagian dari sejarah kota ini jika mereka baru saja tiba di tahun 2050?

Restoran yang semula terasa nyaman kini seolah berubah menjadi ruang penuh pertanyaan. Misteri semakin dalam, dan Apple mulai menyadari bahwa keberadaan mereka di tahun ini bukanlah kebetulan.

Arman lanjut bercerita tentang masa lalunya sambil menikmati juice jeruknya. "Aku tiba di kota ini pada tahun 2030. Saat itu, aku adalah seorang insinyur teknik lingkungan di sebuah kota kecil. Pada awalnya, aku ingin mencari jalan kembali, tetapi setelah melihat bagaimana kota ini berkembang, dan aku dapat berpartisipasi mengembangkan kota, maka aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini.Seperti inilah Kota Zoukha di Tahun 2050 ini"

"Kota Zoukha yang kalian lihat sekarang sangat berbeda dari dua puluh tahun lalu," lanjut Arman. "Dulu, kota ini masih dalam tahap transformasi. Apple, kau pasti tidak ingat bahkan tidak tahu, tetapi di tahun 2030-an, kau telah berjuang keras menjadikan Zoukha sebagai kota hijau, kota impian, kota yang ekologis. Kota ini dulu penuh tantangan—polusi, kemacetan, banjir tahunan, bahkan kota yang hampir musnah, penuh dengan reruntuhan bangunan pasca gempa bumi yang dahsyat. Tetapi dengan dedikasi dan visi besar, kau berhasil mengubah kota ini menjadi kota yang ekologis dan tangguh menghadapi bencana."

Apple merasa dadanya sesak mendengar cerita itu. Ia memang selalu bermimpi membangun kota yang hijau, tetapi mendengar bahwa impiannya telah menjadi kenyataan di masa depan adalah sesuatu yang masih sulit diterima.

"Dan sekarang, kota ini menjadi salah satu model kota paling berkelanjutan di dunia," tambah Arman. "Semua berkat kerja kerasmu dan dukungan keluargamu yang luar biasa."

Mereka makan siang dengan lahap di restoran  atas Sungai Emas. Suasana restoran yang unik, dengan angin sepoi-sepoi menyapu wajah mereka, semakin menambah kenyamanan. Perahu dan kapal pesiar berlalu-lalang di bawah mereka, menambah kesan futuristik yang tenang dan harmonis.

Saat itu, siaran berita TV kembali hadir di layar besar restoran, mengabarkan perkembangan pencarian keluarga Apple yang menghilang secara misterius. Selain itu, pembawa acara juga membahas semakin maraknya fenomena anomali waktu yang kini menjadi perbincangan hangat di Kota Zoukha. Mata Apple membelalak ketika melihat pembawa acara sedang mewawancarai seseorang yang baru saja mereka temui sebelumnya. Pria berkemeja hitam!

"Itu dia!" bisik Apple dengan nada kaget. Orang itu tampak berbicara dengan ekspresi serius di layar TV. "Apakah ini ada hubungannya dengan kedatangan kita di sini? Mengapa kita harus di sini?"

Apple menoleh pada Arman, yang tetap tenang menikmati makanannya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bertanya, "Arman, kalau kau tahu semua ini adalah anomali waktu, mengapa kau tidak ingin kembali ke tahun asalmu? Bukankah kau punya kehidupan di sana?"

Arman meletakkan sendok dan garpunya, menarik napas dalam, lalu menatap Apple dengan mata penuh rahasia. "Aku sudah mencoba," katanya pelan, namun penuh tekanan. "Tapi setiap kali aku berusaha kembali, sesuatu... atau seseorang... selalu menghalangiku.Kemudian akupun sudah dapat beradaptasi dengan kehidupan di kota ini"

Apple dan kedua orang tuanya saling bertukar pandang dengan ekspresi ngeri. "Apa maksudmu, Arman? Siapa yang menghalangimu?" tanya ayah Apple dengan suara bergetar.

Arman tersenyum tipis, tetapi tatapannya kosong. "Ada kekuatan yang jauh lebih besar dari yang bisa kita bayangkan. Kota Zoukha ini... bukan hanya sekadar kota biasa. Di balik semua keindahan ini, ada rahasia-rahasia yang menjadi bagian dari sejarah kota ini, yang tak semua orang boleh tahu." (Bersambung)

_______________

 

 

 




No comments:

Post a Comment