APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 3
KENYATAAN YANG SULIT DIPERCAYA
Apple duduk di
ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Ruangan itu terasa familiar, tetapi
sekaligus terasa asing. Desainnya tetap seperti rumah mereka,
dengan jendela besar yang menghadap ke sungai, rak-rak kayu yang dipenuhi buku,
dan sofa empuk berwarna coklat tua di tengah ruangan. Namun, ada banyak detail
yang membuat mereka semakin menyadari bahwa ini bukan rumah yang mereka kenal
selama ini.
Di atas meja,
terdapat berbagai foto keluarga yang terlihat baru tetapi juga aneh bagi
mereka. Apple mengangkat sebuah bingkai foto dan menatapnya lekat-lekat. Dalam
foto itu, ia berdiri di samping Bryan, mengenakan gaun pengantin berwarna putih
dengan latar belakang taman hijau di tepi sungai. Bryan terlihat gagah dengan
setelan jas abu-abu, tersenyum ke arah kamera. Ini adalah foto pernikahan
mereka. Tetapi, bagaimana mungkin? Mereka belum menikah.
Dengan tangan
gemetar, Apple meletakkan foto itu dan mengambil satu foto lainnya. Kali ini,
ia dan Bryan berdiri di antara dua anak muda yang mengenakan baju wisuda. Apple
menelan ludahnya. Kedua anak muda itu… sangat mirip dengan mereka berdua.
Wajah-wajah mereka mengingatkan pada sosok Bryan dan dirinya saat masih muda.
“Pa… Ma… lihat
ini,” suara Apple bergetar.
Ayah dan ibunya
mendekat. Mama mengambil foto itu, lalu menatapnya dengan mata membelalak.
“Ini… ini cucu
kami?” Mama berbisik dengan suara hampir tak percaya.
Mereka bertiga
saling bertatapan. Seakan baru menyadari sesuatu yang sangat besar—bahwa mereka
benar-benar telah berpindah waktu, ke masa depan yang seharusnya belum mereka
alami.
Di tengah
keheningan yang tegang, tiba-tiba terdengar suara dari dapur. Suara benda
jatuh, seperti sesuatu yang terjatuh dari atas meja. Mereka serempak menoleh.
Apple berdiri dan
berjalan perlahan ke dapur. Kedua orang tuanya mengikutinya dari belakang
dengan langkah hati-hati. Saat mereka tiba di pintu dapur, Apple langsung
terkejut.
Di atas meja dapur,
seekor kucing hitam duduk dengan anggun, menatap mereka dengan mata bulat
berwarna kuning keemasan. Apple menutup mulutnya, hampir tak percaya.
“Si Item…?” bisik
Apple.
Kucing itu mengeong
pelan, lalu melompat turun dari meja dan mendekati mereka, menggosokkan
tubuhnya ke kaki Apple seperti biasa.
“Tapi… ini tidak
mungkin…,” Apple berlutut dan mengelus bulu lembut kucing itu. “Si Item sudah
tidak ada sejak lima tahun lalu.”
Papa mengangkat
bahu. “Tapi dia ada di sini, Apple. Entah bagaimana, dia juga ikut berpindah
waktu bersama kita.”
Apple merasakan
bulu kuduknya berdiri. Semua ini sudah cukup membingungkan, dan sekarang kucing
kesayangannya yang seharusnya sudah tiada justru muncul di sini, di tahun 2050.
Mereka kembali ke
ruang keluarga, masih berusaha mencerna semua yang terjadi. Mama membuka laci
kecil di bawah rak buku dan menemukan beberapa surat serta dokumen bertanggal
di tahun 2049. Di salah satu kertas, tertulis nama Apple sebagai Ketua Tim
dalam Proyek Restorasi Kawasan Tepi Sungai Emas.
“Jadi… di masa
depan ini, aku benar-benar berhasil membangun kota impianku,” gumam Apple,
membaca dokumen itu dengan perasaan bercampur aduk.
Namun, sebelum
mereka bisa mendiskusikan lebih jauh, tiba-tiba lampu ruang tamu meredup dan
layar televisi menyala dengan sendirinya. Sebuah siaran berita darurat muncul.
“Pencarian masih
terus dilakukan untuk kapal pesiar yang hilang secara misterius di perairan
Teluk Emas. Hilangnya kapal ini semakin membingungkan tim penyelamat karena
tidak ada tanda-tanda cuaca buruk atau gangguan teknis. Para ahli masih mencari
penjelasan bagaimana kapal pesiar ini bisa menghilang begitu saja dari radar.”
Gambar di layar
menunjukkan foto Apple versi 2050 bersama Bryan dan dua anak mereka.
Mereka bertiga
menatap layar dengan napas tertahan. Dada Apple terasa sesak.
“Apa yang
sebenarnya terjadi pada kita?” bisik Apple.
Tatapan mereka
bertemu. Rasa takut, kebingungan, dan ketidakpastian menyelimuti mereka.
Jawaban dari semua
misteri ini… masih harus mereka cari.
_______________
Apple dan kedua
orang tuanya memutuskan mencari jawaban atas kejadian yang menimpa mereka,
namun rasa penasaran juga membuat mereka ingin melihat Kota Zoukha di tahun
2050. Mereka sadar harus berhati-hati, karena mereka kini menjadi pusat
perhatian setelah berita tentang hilangnya kapal pesiar mereka.
Untuk itu, mereka
memutuskan untuk menyamar. Apple mengenakan jaket panjang dengan tudung lebar,
menutupi sebagian wajahnya. Ayahnya memakai kacamata gelap dan topi, sementara
mamanya mengenakan syal lebar yang membingkai wajahnya. Dengan penuh
kehati-hatian, mereka melangkah keluar dari rumah dan berjalan menyusuri tepian
Sungai Emas.
Sungai itu kini
terlihat jauh lebih bersih dan tertata dibandingkan dengan yang Apple ingat di
masa kini. Jalur pedestrian yang dipenuhi pepohonan rindang membentang
sepanjang sisi barat sungai, sementara sisi timurnya dipenuhi deretan toko dan
bangunan modern yang berkonsep ramah lingkungan. Beberapa perahu wisata dan
kapal pesiar ukuran sedang tampak berlayar dengan tenang di perairan yang
berkilauan.
Saat mereka
berjalan, mereka mulai mendengar percakapan orang-orang di sekitar mereka. Sekelompok
orang tua yang duduk di bangku taman tampak berbisik-bisik sambil menunjuk ke
layar holografik di depan mereka. Salah satu dari mereka berkata dengan suara
serius, “Sangat aneh… bagaimana mungkin satu keluarga dalam satu kapal bisa
hilang di Teluk Emas begitu saja tanpa jejak?”
Apple menahan
napas. Dia melirik kedua orang tuanya yang juga terlihat tegang. Mereka terus
berjalan, mencoba menyerap informasi sebanyak mungkin dari obrolan yang mereka
dengar.
Tiba-tiba, seorang
pria berkemeja hitam tampak menghampiri seorang wanita tua yang sedang membaca
berita holografik. "Ada dugaan bahwa hilangnya mereka bukan kecelakaan
biasa. Beberapa ahli mulai berpikir ada kaitannya dengan anomali waktu."
Apple dan kedua
orang tuanya saling bertatapan. Anomali waktu? Apakah ini berarti mereka bukan
satu-satunya yang mengalami kejadian aneh ini? Bisikan tentang "anomali
waktu" pun terdengar mulai dibahas, seakan menjadi isu yang tengah hangat diperbincangkan. Dengan hati-hati, mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah
restoran megah yang dibangun di atas sungai. Restoran itu dikelilingi taman
yang indah, dengan jembatan kecil yang menghubungkannya ke daratan. Dari atas,
mereka bisa melihat air sungai yang jernih berkilauan di bawah cahaya matahari.
Apple merasa seperti berada di kota versi sempurna dari impiannya.
Namun, saat hendak memesan makanan, mereka tertegun. Mereka
tidak memiliki alat pembayaran apa pun yang berlaku di tahun 2050. Apple
menoleh ke orang tuanya, dan mereka saling bertukar pandang dengan wajah cemas.
Bagaimana bisa mereka membeli makanan di dunia yang asing ini?
Di saat yang bersamaan, seorang pria paruh baya mendekati
mereka dengan senyum ramah. "Kalian terlihat seperti orang asing di
sini," katanya dengan nada hangat. "Biar aku yang traktir."
Awalnya mereka ragu, tetapi pria itu tampaknya tidak
memiliki niat buruk. Setelah mereka duduk dan mulai berbincang, pria itu
memperkenalkan dirinya sebagai Arman. Yang mengejutkan, Arman seperti sudah
mengenal mereka sebelumnya. Arman ternyata juga berasal dari masa lalu, tetapi
dari tempat yang berbeda dan telah menyesuaikan diri dengan kehidupan di tahun
2050.
"Aku tiba di sini dua puluh tahun lalu," ungkap Arman. "Awalnya aku kebingungan seperti kalian, tetapi akhirnya aku memilih untuk bertahan dan menjalani hidup baru di sini. Dan tahukah kalian? Keluarga kalian adalah bagian penting dari sejarah Kota Zoukha." Arman berkisah seperti sudah familiar dan sangat mengenal Apple dan keluarganya.
Apple dan kedua orang tuanya terdiam. Arman melanjutkan dengan antusias sambil menatap Apple, "Ayah dan ibumu memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan dan kemajuan Kota Zoukha hingga mencapai masa keemasannya seperti sekarang. Apple, kamu di sini dikenal sebagai arsitek visioner yang mengubah wajah kota ini. Kalian saat ini tidak mengetahui betapa besarnya pengaruh kalian di kota ini."
Mendengar itu, Apple merasakan sesuatu bergetar dalam
dirinya. Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Bagaimana mungkin mereka menjadi
bagian dari sejarah kota ini jika mereka baru saja tiba di tahun 2050?
Restoran yang semula terasa nyaman kini seolah berubah
menjadi ruang penuh pertanyaan. Misteri semakin dalam, dan Apple mulai
menyadari bahwa keberadaan mereka di tahun ini bukanlah kebetulan.
Arman lanjut bercerita tentang masa lalunya sambil menikmati juice jeruknya. "Aku tiba di kota ini pada tahun 2030. Saat itu, aku adalah seorang insinyur teknik lingkungan di sebuah kota kecil. Pada awalnya, aku ingin mencari jalan kembali, tetapi setelah melihat bagaimana kota ini berkembang, dan aku dapat berpartisipasi mengembangkan kota, maka aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini.Seperti inilah Kota Zoukha di Tahun 2050 ini"
"Kota Zoukha yang kalian lihat sekarang sangat berbeda
dari dua puluh tahun lalu," lanjut Arman. "Dulu, kota ini masih dalam
tahap transformasi. Apple, kau pasti tidak ingat bahkan tidak tahu, tetapi di
tahun 2030-an, kau telah berjuang keras menjadikan Zoukha sebagai kota hijau, kota
impian, kota yang ekologis. Kota ini dulu penuh tantangan—polusi, kemacetan,
banjir tahunan, bahkan kota yang hampir musnah, penuh dengan reruntuhan
bangunan pasca gempa bumi yang dahsyat. Tetapi dengan dedikasi dan visi besar,
kau berhasil mengubah kota ini menjadi kota yang ekologis dan tangguh
menghadapi bencana."
Apple merasa dadanya sesak mendengar cerita itu. Ia memang
selalu bermimpi membangun kota yang hijau, tetapi mendengar bahwa impiannya
telah menjadi kenyataan di masa depan adalah sesuatu yang masih sulit diterima.
"Dan sekarang, kota ini menjadi salah satu model kota
paling berkelanjutan di dunia," tambah Arman. "Semua berkat kerja
kerasmu dan dukungan keluargamu yang luar biasa."
Mereka makan siang dengan lahap di restoran atas Sungai Emas.
Suasana restoran yang unik, dengan angin sepoi-sepoi menyapu wajah mereka,
semakin menambah kenyamanan. Perahu dan kapal pesiar berlalu-lalang di bawah
mereka, menambah kesan futuristik yang tenang dan harmonis.
Saat itu, siaran berita TV kembali hadir di layar besar
restoran, mengabarkan perkembangan pencarian keluarga Apple yang menghilang
secara misterius. Selain itu, pembawa acara juga membahas semakin maraknya
fenomena anomali waktu yang kini menjadi perbincangan hangat di Kota Zoukha.
Mata Apple membelalak ketika melihat pembawa acara sedang mewawancarai
seseorang yang baru saja mereka temui sebelumnya. Pria berkemeja hitam!
"Itu dia!" bisik Apple dengan nada kaget. Orang
itu tampak berbicara dengan ekspresi serius di layar TV. "Apakah ini ada
hubungannya dengan kedatangan kita di sini? Mengapa kita harus di sini?"
Apple menoleh pada Arman, yang tetap tenang menikmati
makanannya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bertanya, "Arman, kalau kau
tahu semua ini adalah anomali waktu, mengapa kau tidak ingin kembali ke tahun
asalmu? Bukankah kau punya kehidupan di sana?"
Arman meletakkan sendok dan garpunya, menarik napas dalam,
lalu menatap Apple dengan mata penuh rahasia. "Aku sudah mencoba,"
katanya pelan, namun penuh tekanan. "Tapi setiap kali aku berusaha kembali,
sesuatu... atau seseorang... selalu menghalangiku.Kemudian akupun sudah dapat beradaptasi dengan kehidupan di kota ini"
Apple dan kedua orang tuanya saling bertukar pandang dengan
ekspresi ngeri. "Apa maksudmu, Arman? Siapa yang menghalangimu?"
tanya ayah Apple dengan suara bergetar.
Arman tersenyum tipis, tetapi tatapannya kosong. "Ada
kekuatan yang jauh lebih besar dari yang bisa kita bayangkan. Kota Zoukha
ini... bukan hanya sekadar kota biasa. Di balik semua keindahan ini, ada
rahasia-rahasia yang menjadi bagian dari sejarah kota ini, yang tak semua orang boleh tahu." (Bersambung)
_______________
No comments:
Post a Comment