APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 10
Dua Apple Satu Pilihan
Di dalam sebuah
ruangan dengan dinding transparan yang memperlihatkan gemerlap Kota Zoukha di
malam hari, Apple muda menatap layar hologram besar di hadapannya. Peta tiga
dimensi kota itu berpendar biru, menampilkan jalur-jalur anomali yang kini
lebih jelas. Di sampingnya, Apple versi 2050 berdiri dengan tangan terlipat,
ekspresinya serius.
“Aku salah selama
ini,” kata Apple muda, suaranya penuh ketegangan. “Aku pikir Teluk Emas dan Sungai Emas adalah gerbang anomali waktu, tapi ternyata ada 4 titik lainnya di lokasi
yang berbeda.”
Apple versi 2050
mengangguk. “Ya. Pusat anomali waktu sudah bergeser. Teluk Emas dan Sungai Emas
kini tak lagi menjadi pusat anomali waktu yang kuat. Kekuatan anomali waktu
tersebar di empat titik anomali. Semua orang yang terjebak di sini mungkin bisa
kembali ke tempat dan waktu asalnya. Tapi hanya jika melakukannya dengan
benar.”
Mereka berdua
kembali menatap layar hologram. Titik-titik yang bersinar itu mencerminkan
empat lokasi berbeda:
1. Pasar Sungai Emas
2. Menara Jam Zokha
3. Lorong Bawah Tanah Stasiun
Tua
4. Reruntuhan Kota Lama
Apple muda menghela
napas panjang. “Tapi jika kita tahu ini, pasti ada pihak lain yang tahu juga.
Pertanyaannya, siapa yang ingin kita keluar dari sini, dan siapa yang ingin kita tetap di
sini?”
Apple versi 2050
mengangkat dagunya, ekspresinya berubah tajam. “Kau akhirnya berpikir seperti
aku.”
Apple muda menoleh
padanya, menatap sosok dirinya yang lebih tua dengan perasaan campur aduk. Ada
sesuatu yang ganjil sejak awal.
“Kau belum menjawab
pertanyaanku,” kata Apple muda, suaranya lebih pelan. “Mengapa kau membantuku pulang?
Seharusnya jika aku pergi… bukankah kau akan menghilang. Kau yang telah sukses akan
lenyap.”
Apple versi 2050
terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. “Itulah risiko yang harus diambil. Jika
kau dan aku tetap di sini, kita justru menghancurkan masa depan.”
Apple muda
menatapnya dalam-dalam, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya. Dilanjutkan
mencari kepastian adakah kebohongan di wajah dirinya yang berada di depannya?. Tetapi
tatapan itu terlalu jujur.
“Jadi, kau ingin
aku mengambil kesempatan ini?”
Apple versi 2050
mengangguk. “Tidak hanya kita. Bryan dan yang lainnya juga harus menemukan
jalan ke titik anomali waktu.”
Apple muda kembali
menatap peta. Ia menggigit bibirnya, pikirannya berputar dengan cepat.
“Kita harus ke
salah satu titik itu,” katanya akhirnya.
Apple versi 2050
menatapnya dalam. “Tapi kita harus hati-hati. Aku tidak yakin kita satu-satunya
yang bergerak. Yang menginginkan kita tetap di sini juga pasti sedang bergerak.”
Apple muda mengangguk.
“Aku tahu. Tapi jika kita tidak bertindak sekarang, kita mungkin tidak akan
mendapatkan kesempatan kedua.”
Suasana di antara
mereka menjadi tegang.
“Jadi,” kata Apple
muda sambil menatap sosok dirinya yang lebih tua, “di mana kita akan mulai?”
Apple versi 2050
tersenyum tipis, lalu menunjuk ke satu titik di peta.
Apple muda merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.(Bersambung)
______________________________
No comments:
Post a Comment