Monday, March 3, 2025

BAGIAN 10: DUA APPLE SATU PILIHAN

 APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota


Bagian 10

Dua Apple Satu Pilihan

Di dalam sebuah ruangan dengan dinding transparan yang memperlihatkan gemerlap Kota Zoukha di malam hari, Apple muda menatap layar hologram besar di hadapannya. Peta tiga dimensi kota itu berpendar biru, menampilkan jalur-jalur anomali yang kini lebih jelas. Di sampingnya, Apple versi 2050 berdiri dengan tangan terlipat, ekspresinya serius.

“Aku salah selama ini,” kata Apple muda, suaranya penuh ketegangan. “Aku pikir Teluk Emas dan Sungai Emas adalah gerbang anomali waktu, tapi ternyata ada 4 titik lainnya di lokasi yang berbeda.”

Apple versi 2050 mengangguk. “Ya. Pusat anomali waktu sudah bergeser. Teluk Emas dan Sungai Emas kini tak lagi menjadi pusat anomali waktu yang kuat. Kekuatan anomali waktu tersebar di empat titik anomali. Semua orang yang terjebak di sini mungkin bisa kembali ke tempat dan waktu asalnya. Tapi hanya jika melakukannya dengan benar.”

Mereka berdua kembali menatap layar hologram. Titik-titik yang bersinar itu mencerminkan empat lokasi berbeda:

1. Pasar Sungai Emas
2. Menara Jam Zokha
3. Lorong Bawah Tanah Stasiun Tua

4. Reruntuhan Kota Lama

Apple muda menghela napas panjang. “Tapi jika kita tahu ini, pasti ada pihak lain yang tahu juga. Pertanyaannya, siapa yang ingin kita keluar dari sini, dan siapa yang ingin kita tetap di sini?”

Apple versi 2050 mengangkat dagunya, ekspresinya berubah tajam. “Kau akhirnya berpikir seperti aku.”

Apple muda menoleh padanya, menatap sosok dirinya yang lebih tua dengan perasaan campur aduk. Ada sesuatu yang ganjil sejak awal.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Apple muda, suaranya lebih pelan. “Mengapa kau membantuku pulang? Seharusnya jika aku pergi… bukankah kau akan menghilang. Kau yang telah sukses akan lenyap.”

Apple versi 2050 terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. “Itulah risiko yang harus diambil. Jika kau dan aku tetap di sini, kita justru menghancurkan masa depan.”

Apple muda menatapnya dalam-dalam, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya. Dilanjutkan mencari kepastian adakah kebohongan di wajah dirinya yang berada di depannya?. Tetapi tatapan itu terlalu jujur.

“Jadi, kau ingin aku mengambil kesempatan ini?”

Apple versi 2050 mengangguk. “Tidak hanya kita. Bryan dan yang lainnya juga harus menemukan jalan ke titik anomali waktu.”

Apple muda kembali menatap peta. Ia menggigit bibirnya, pikirannya berputar dengan cepat.

“Kita harus ke salah satu titik itu,” katanya akhirnya.

Apple versi 2050 menatapnya dalam. “Tapi kita harus hati-hati. Aku tidak yakin kita satu-satunya yang bergerak. Yang menginginkan kita tetap di sini juga pasti sedang bergerak.”

Apple muda mengangguk. “Aku tahu. Tapi jika kita tidak bertindak sekarang, kita mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan kedua.”

Suasana di antara mereka menjadi tegang.

“Jadi,” kata Apple muda sambil menatap sosok dirinya yang lebih tua, “di mana kita akan mulai?”

Apple versi 2050 tersenyum tipis, lalu menunjuk ke satu titik di peta.

Apple muda merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.(Bersambung)

______________________________

 


No comments:

Post a Comment