Monday, March 3, 2025

BAGIAN 11: RAHASIA KOTA ZOUKHA

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota



 

Bagian 11

Rahasia Kota Zoukha

Pusat Arsip Kota Zoukha berdiri megah di tengah distrik sejarah kota, sebuah bangunan bernuansa modern klasik, yang menawan. Lampu-lampu redup menyinari lorong panjang, sementara lemari arsip menjulang tinggi di sepanjang dinding. Bangunan arsip ini dibuka sepanjang hari.

Mereka telah melewati petugas.

Bryan melangkah lebih dulu, diikuti Gio dan Fiskha. Kedua orang tua Apple berjalan sedikit di belakang, ekspresi mereka penuh kewaspadaan.

“Aku masih belum mengerti,” bisik Fiskha, suaranya menggema di dalam ruangan yang sepi. “Kenapa kita malah mencari jawaban di tempat ini?”

“Karena ini satu-satunya tempat yang mungkin menyimpan catatan tentang anomali waktu yang terjadi di Kota Zoukha,” jawab Bryan tanpa menoleh. “Jika Kota Zoukha menyimpan rahasia, pasti ada jejaknya di sini.”

Mereka tiba di sebuah ruangan besar, ruang dokumen sejarah, yang dipenuhi tumpukan buku tua, mikrofilm, dan layar arsip digital. Gio menelusuri rak-rak dengan cepat, tangannya menyapu debu dari beberapa buku.

“Aku menemukan sesuatu,” katanya tiba-tiba. Ia menarik sebuah buku besar berjudul “Zoukha: Kota yang Terputus dari Waktu-Yudha”. Bryan mengangkat buku itu, buku yang ditulis oleh Yudha. Demikian nama penulis yang tercantum di cover dan punggung buku.

Bryan dan yang lain segera berkumpul di sekelilingnya. Gio membuka halaman pertama, dan mata mereka segera menangkap sesuatu yang mengejutkan—peta Kota Zokha yang ditandai dengan empat titik anomali.

Pasar Sungai Emas
Menara Jam Zokha
Lorong Bawah Tanah Stasiun Tua
Reruntuhan Kota Lama

“Tidak mungkin…” Fiskha berbisik, matanya melebar.

“Tidak mungkin bagaimana?” Bryan menatapnya tajam. “Berarti kita sudah berada di jalur yang benar.”

Tapi kejutan belum selesai. Ketika mereka membalik halaman berikutnya, mereka menemukan sesuatu yang lebih mencengangkan—sebuah bab yang berjudul “Para Penjaga Gerbang Waktu”.

“Penjaga Gerbang Waktu?” ulang papa Apple dengan nada curiga. “Apa maksudnya?”

Bryan membaca dengan suara setengah berbisik.

"Sejak berdirinya Kota Zoukha, telah ada mereka yang menjaga keseimbangan waktu. Orang-orang ini bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari sejarah yang terhapus. Mereka menjaga agar yang terjebak tetap berada di tempatnya dan memastikan bahwa batas antara masa lalu dan masa depan tidak runtuh. Namun, jika batas itu mulai melemah, peran mereka menjadi semakin berbahaya."

Semuanya terdiam.

“Itu artinya…” mama Apple berkata pelan. “Ada orang yang mengatur semuanya di balik layar.”

“Dan bukan hanya itu.” Bryan menunjuk sebuah nama yang tertulis di dalam buku. Sebuah nama yang membuat darahnya berdesir.

Arman.

Mata Gio membelalak. “Tidak… Arman? Dia bagian dari ini semua?”

Bryan mengepalkan tangannya. “Aku tahu ada sesuatu yang aneh dengannya sejak mama dan papa Apple bercerita tentang pertemuan di restoran di tengah Sungai Emas”

Tapi sebelum mereka bisa mencerna lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dari lorong luar. Cepat dan tegas.

Seseorang datang.

Secepat kilat Bryan menyobek beberapa lembar ringkasan sejarah Kota Zoukha dan memasukkan ke kantong celana panjangnya.

Bryan segera menutup buku itu dan memberi isyarat kepada yang lain untuk bersembunyi. Mereka semua berlari menuju bayangan rak-rak tinggi, menahan napas.

Pintu arsip terbuka perlahan.

Siluet seseorang berdiri di ambang pintu, dan dalam cahaya redup, mereka bisa melihatnya dengan jelas.

Seorang pria dengan kemeja panjang hitam. Kemeja yang hampir menyerupai jubah. Pria yang nampak misterius.

Langkah kakinya nyaris tanpa suara di lantai marmer yang dingin. Pria berkemeja hitam panjang itu berdiri di ambang pintu Pusat Arsip Kota Zoukha, matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan. Lampu-lampu redup berkelip samar, bayangan rak-rak tinggi menari di dinding seiring hembusan angin dari jendela yang sedikit terbuka.

Ia tahu seseorang atau beberapa orang telah ada di sini.

Ia bisa merasakan jejak keberadaan mereka—kehangatan samar yang masih tertinggal di udara, lembaran buku yang masih bergetar seolah baru saja ditutup dengan tergesa-gesa.

Mereka di sini. Tapi di mana?

Langkahnya perlahan, penuh perhitungan. Jubah hitam panjangnya berkibar pelan saat ia menyusuri lorong-lorong rak arsip. Jari-jarinya menyentuh permukaan buku-buku tua, lalu berhenti di satu titik.

Buku itu.

Ia menariknya dengan gerakan halus. Zoukha: Kota yang Terputus dari Waktu. Halamannya terbuka di bagian yang berbicara tentang Para Penjaga Waktu. Namun sesuatu membuat alisnya berkerut—halaman itu sedikit terlipat di ujungnya, dan…sobekan itu…beberapa lembar di akhir buku-hilang.

Seseorang ataupun mereka telah membaca ini.

Pria berkemeja panjang hitam itu mendongak, matanya berkilat tajam dan mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Ia menarik napas dalam, lalu berbisik pelan, seolah berbicara dengan kegelapan.

"Mereka sudah tahu lebih dari yang seharusnya."

Suara itu menghilang ke dalam keheningan ruangan.

Namun ia tidak sendirian.

Dari sudut matanya, ia menangkap pergerakan kecil—bayangan yang beringsut di balik rak buku. Dengan satu gerakan cepat, ia mengayunkan tangannya, dan seketika angin dingin menyapu ruangan. Rak-rak buku bergetar, beberapa buku jatuh ke lantai dengan suara berat.

Tapi tidak ada siapapun di sana.

Pria berkemeja panjang hitam menyipitkan mata. "Mereka sudah pergi."

Ia menggertakkan giginya. Ini buruk.

Waktu mereka terbatas.

Kini kurang dari 24 jam. Itu batas maksimal sebelum portal waktu terbuka dan keseimbangan runtuh. Jika mereka sampai ke salah satu dari empat titik anomali dan bertemu dengan diri mereka yang lain… konsekuensinya akan mengerikan. Kemusnahan!

Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk seperti kompas dari balik kemeja panjang hitamnya yang hampir menyerupai jubah. Jarumnya berputar liar, sebelum akhirnya berhenti menunjuk ke satu arah.

Pasar Sungai Emas!

Mereka menuju ke sana.

Pria berjubah hitam menyeringai tipis. "Baiklah, kita lihat siapa yang lebih cepat."

Tanpa membuang waktu, ia berbalik, langkahnya semakin cepat. Ia harus menemukan dan mencegah mereka mencapai titik pusaran anomali waktu. Jika tidak… segalanya bisa berakhir dalam kekacauan yang tak bisa diperbaiki.

Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.(Bersambung)

_______________



No comments:

Post a Comment