APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 11
Rahasia Kota Zoukha
Pusat Arsip Kota Zoukha
berdiri megah di tengah distrik sejarah kota, sebuah bangunan bernuansa modern
klasik, yang menawan. Lampu-lampu redup menyinari lorong panjang, sementara lemari
arsip menjulang tinggi di sepanjang dinding. Bangunan arsip ini dibuka
sepanjang hari.
Mereka telah melewati
petugas.
Bryan melangkah
lebih dulu, diikuti Gio dan Fiskha. Kedua orang tua Apple berjalan sedikit di
belakang, ekspresi mereka penuh kewaspadaan.
“Aku masih belum
mengerti,” bisik Fiskha, suaranya menggema di dalam ruangan yang sepi. “Kenapa
kita malah mencari jawaban di tempat ini?”
“Karena ini
satu-satunya tempat yang mungkin menyimpan catatan tentang anomali waktu yang
terjadi di Kota Zoukha,” jawab Bryan tanpa menoleh. “Jika Kota Zoukha menyimpan
rahasia, pasti ada jejaknya di sini.”
Mereka tiba di
sebuah ruangan besar, ruang dokumen sejarah, yang dipenuhi tumpukan buku tua,
mikrofilm, dan layar arsip digital. Gio menelusuri rak-rak dengan cepat,
tangannya menyapu debu dari beberapa buku.
“Aku menemukan
sesuatu,” katanya tiba-tiba. Ia menarik sebuah buku besar berjudul “Zoukha: Kota yang Terputus dari Waktu-Yudha”.
Bryan mengangkat buku itu, buku yang ditulis oleh Yudha. Demikian nama penulis
yang tercantum di cover dan punggung buku.
Bryan dan yang lain
segera berkumpul di sekelilingnya. Gio membuka halaman pertama, dan mata mereka
segera menangkap sesuatu yang mengejutkan—peta Kota Zokha yang ditandai dengan
empat titik anomali.
Pasar
Sungai Emas
Menara Jam Zokha
Lorong Bawah Tanah Stasiun Tua
Reruntuhan Kota Lama
“Tidak mungkin…”
Fiskha berbisik, matanya melebar.
“Tidak mungkin bagaimana?”
Bryan menatapnya tajam. “Berarti kita sudah berada di jalur yang benar.”
Tapi kejutan belum
selesai. Ketika mereka membalik halaman berikutnya, mereka menemukan sesuatu
yang lebih mencengangkan—sebuah bab yang berjudul “Para Penjaga Gerbang Waktu”.
“Penjaga Gerbang Waktu?”
ulang papa Apple dengan nada curiga. “Apa maksudnya?”
Bryan membaca
dengan suara setengah berbisik.
"Sejak
berdirinya Kota Zoukha, telah ada mereka yang menjaga keseimbangan waktu.
Orang-orang ini bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari sejarah yang
terhapus. Mereka menjaga agar yang terjebak tetap berada di tempatnya dan memastikan
bahwa batas antara masa lalu dan masa depan tidak runtuh. Namun, jika batas itu
mulai melemah, peran mereka menjadi semakin berbahaya."
Semuanya terdiam.
“Itu artinya…” mama
Apple berkata pelan. “Ada orang yang mengatur semuanya di balik layar.”
“Dan bukan hanya
itu.” Bryan menunjuk sebuah nama yang tertulis di dalam buku. Sebuah nama yang
membuat darahnya berdesir.
Arman.
Mata Gio membelalak. “Tidak… Arman? Dia bagian dari
ini semua?”
Bryan mengepalkan
tangannya. “Aku tahu ada sesuatu yang aneh dengannya sejak mama dan papa Apple
bercerita tentang pertemuan di restoran di tengah Sungai Emas”
Tapi sebelum mereka
bisa mencerna lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dari
lorong luar. Cepat dan tegas.
Seseorang datang.
Secepat kilat Bryan
menyobek beberapa lembar ringkasan sejarah Kota Zoukha dan memasukkan ke
kantong celana panjangnya.
Bryan segera menutup
buku itu dan memberi isyarat kepada yang lain untuk bersembunyi. Mereka semua
berlari menuju bayangan rak-rak tinggi, menahan napas.
Pintu arsip terbuka
perlahan.
Siluet seseorang
berdiri di ambang pintu, dan dalam cahaya redup, mereka bisa melihatnya dengan
jelas.
Seorang pria dengan
kemeja panjang hitam. Kemeja yang hampir menyerupai jubah. Pria yang nampak
misterius.
Langkah kakinya
nyaris tanpa suara di lantai marmer yang dingin. Pria berkemeja hitam panjang
itu berdiri di ambang pintu Pusat Arsip Kota Zoukha, matanya yang tajam menyapu
setiap sudut ruangan. Lampu-lampu redup berkelip samar, bayangan rak-rak tinggi
menari di dinding seiring hembusan angin dari jendela yang sedikit terbuka.
Ia tahu seseorang
atau beberapa orang telah ada di sini.
Ia bisa merasakan
jejak keberadaan mereka—kehangatan samar yang masih tertinggal di udara,
lembaran buku yang masih bergetar seolah baru saja ditutup dengan tergesa-gesa.
Mereka di sini.
Tapi di mana?
Langkahnya perlahan,
penuh perhitungan. Jubah hitam panjangnya berkibar pelan saat ia menyusuri
lorong-lorong rak arsip. Jari-jarinya menyentuh permukaan buku-buku tua, lalu
berhenti di satu titik.
Buku itu.
Ia menariknya
dengan gerakan halus. Zoukha: Kota
yang Terputus dari Waktu. Halamannya terbuka di bagian yang
berbicara tentang Para Penjaga
Waktu. Namun sesuatu membuat alisnya berkerut—halaman itu sedikit
terlipat di ujungnya, dan…sobekan itu…beberapa lembar di akhir buku-hilang.
Seseorang ataupun
mereka telah membaca ini.
Pria berkemeja
panjang hitam itu mendongak, matanya berkilat tajam dan mengedarkan pandangan
di sekelilingnya. Ia menarik napas dalam, lalu berbisik pelan, seolah berbicara
dengan kegelapan.
"Mereka sudah
tahu lebih dari yang seharusnya."
Suara itu
menghilang ke dalam keheningan ruangan.
Namun ia tidak
sendirian.
Dari sudut matanya,
ia menangkap pergerakan kecil—bayangan yang beringsut di balik rak buku. Dengan
satu gerakan cepat, ia mengayunkan tangannya, dan seketika angin dingin menyapu
ruangan. Rak-rak buku bergetar, beberapa buku jatuh ke lantai dengan suara
berat.
Tapi tidak ada
siapapun di sana.
Pria berkemeja
panjang hitam menyipitkan mata. "Mereka sudah pergi."
Ia menggertakkan
giginya. Ini buruk.
Waktu mereka
terbatas.
Kini kurang dari 24 jam. Itu batas maksimal sebelum portal
waktu terbuka dan keseimbangan runtuh. Jika mereka sampai ke salah satu dari
empat titik anomali dan bertemu dengan diri mereka yang lain… konsekuensinya
akan mengerikan. Kemusnahan!
Ia mengeluarkan
sebuah perangkat kecil berbentuk seperti kompas dari balik kemeja panjang hitamnya
yang hampir menyerupai jubah. Jarumnya berputar liar, sebelum akhirnya berhenti
menunjuk ke satu arah.
Pasar Sungai Emas!
Mereka menuju ke sana.
Pria berjubah hitam
menyeringai tipis. "Baiklah, kita lihat siapa yang lebih cepat."
Tanpa membuang
waktu, ia berbalik, langkahnya semakin cepat. Ia harus menemukan dan mencegah mereka
mencapai titik pusaran anomali waktu. Jika tidak… segalanya bisa berakhir dalam
kekacauan yang tak bisa diperbaiki.
Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.(Bersambung)
_______________
No comments:
Post a Comment