Tuesday, March 4, 2025

BAGIAN 12: BERKEJARAN DENGAN WAKTU

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota


Bagian 12

Berkejaran dengan Waktu

Di dek atas kapal pesiar futuristik yang mengapung di atas Sungai Emas, Apple versi 2050 menatap layar hologram di pergelangan tangannya dengan ekspresi serius. Cahaya biru redup dari perangkat waktu itu berdenyut pelan, menampilkan notifikasi yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang.

Anomali Terdeteksi:
Subjek: Bryan, Gio, Fiskha (Masa Lalu)
Status: Telah tiba di Kota Zoukha 2050
Waktu tersisa sebelum tabrakan temporal: 23:47:12

Aku akan mengarahkan mereka untuk tergerak ke Pasar Sungai Emas.

Apple muda melangkah mendekat, matanya berkilat dengan kesadaran penuh akan bahaya yang mengintai mereka.

"Mereka sudah sampai," bisiknya, nyaris tidak percaya.

Apple versi 2050 mengangguk, matanya tak lepas dari layar. “Ini lebih cepat dari yang kita perkirakan.

Mereka berpaling ke arah yang sama, ke gemerlap Kota Zoukha yang terlihat dari dek kapal pesiar. Cahaya lampu berkedip-kedip di kejauhan, sementara di atas kapal melintas pesawat dengan kecepatan tinggi.

Apple muda mengepalkan tangannya. “Kita harus pergi sekarang.”

Apple versi 2050 mengangguk. “Tapi kita harus berhati-hati. Leon pasti sudah bergerak. Jika dia menemukan Bryan dan yang lainnya lebih dulu…”

Suasana di antara mereka menegang.

Leon?

Apple muda tak sempat meminta penjelasan.

Siapa Leon?

Mereka tidak punya waktu banyak.

Tiba-tiba, suara langkah cepat bergema dari lorong kapal. Pintu geser otomatis terbuka dengan desis pelan, dan Bryan—Bryan versi 2050—berdiri di ambang pintu. Matanya tajam, penuh kecemasan.

“Kalian akan pergi?” tanyanya.

Apple muda mengangguk. “Kami harus.”

Bryan versi 2050 menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Kalau begitu, kalian harus cepat. Ada orang-orang yang tidak akan membiarkan kalian bergerak bebas.”

Apple versi 2050 menatapnya dalam. “Kau tahu apa yang akan terjadi jika ini gagal?”

Bryan versi 2050 tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi kalau kita tidak mencoba, kita semua akan terjebak selamanya.”

Suasana di dalam ruang dek kapal pesiar terasa semakin berat. Cahaya biru redup dari panel hologram memantul di wajah Apple versi 2050 saat ia menatap Bryan versi 2050 dengan ekspresi serius.

“Kalian harus pergi ke Stasiun Emas bersama Mama dan Papa,” katanya dengan nada yang tidak bisa ditawar.

Bryan versi 2050 mengerutkan kening. “Dan kau akan pergi ke mana?”

Apple versi 2050 menarik napas panjang. “Aku dan Apple akan ke Control Building. Jika aku di sana, maka semua dapat aku kendalikan. Syaratnya harus ada yang dapat mencapai satu titik lainnya lagi. Cukup mencapai 2 titik anomali dari 4 titik anomali.”

Bryan versi 2050 menyipitkan matanya. “Jadi kau benar-benar sudah memutuskan?”

Apple mengangguk. “Ya. Kita harus mengembalikan semuanya seperti semula. Kota ini tidak seharusnya ada.”

Bryan versi 2050 terdiam sejenak. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Kalau kita melakukannya… Kota Zoukha akan lenyap. Semua yang pernah terjadi di sini akan hilang.” Matanya membelalak.

“Bukan hilang,” Apple versi 2050 mengoreksi. “Kota ini akan kembali pada waktunya yang seharusnya. Tidak lebih, tidak kurang.”

Tatapan Bryan versi 2050 mengeras. “Dan bagaimana dengan kita?”

Apple versi 2050 menahan napas sejenak sebelum akhirnya berkata, “Jika kita tetap berada di sini, kita juga akan lenyap bersama kota ini.”

Bryan versi 2050 terdiam. Ada sesuatu dalam ekspresinya—sebuah ketidakpastian yang berbahaya. “Lalu kenapa kita tidak tetap di sini? Kenapa kita harus menormalkan waktu? Apa kau tidak berpikir bahwa mungkin… Kota Zoukha memang ditakdirkan untuk ada?”

Apple versi 2050 menatapnya tajam. “Bryan… Kau tahu ini bukan tentang takdir. Ini tentang konsekuensi. Jika kita membiarkan Kota Zoukha tetap seperti ini, kita akan merusak keseimbangan waktu selamanya. Setiap orang yang pernah tersesat dan yang akan tersesat di sini akan terjebak.

Apakah itu yang kau inginkan?”

Bryan versi 2050 tidak menjawab. Matanya mulai berkabut, pikirannya bergejolak.

Apple melangkah mendekat dan menatapnya dalam. “Aku tahu ini sulit, Bryan. Aku tahu kita punya kenangan di sini, tapi ini bukan kenyataan yang seharusnya. Jika kita tidak bertindak sekarang… kita mungkin tidak akan pernah bisa kembali.”

Bryan versi 2050 menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Saya akan menelpon Gio dan Fiskha versi 2050 untuk berada segera di Menara Jam Zoukha, tempat terdekat dengan kantor mereka yang terletak di atas restoran di tengah Sungai Emas.”

Apple versi 2050 tersenyum tipis, meski ada ketegangan di baliknya. “Jangan buang waktu. Bawa mama dan papa ke Stasiun Emas sebelum semuanya runtuh.”

Bryan versi 2050 menatapnya untuk terakhir kali sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu dek. Namun, sebelum ia pergi, ia berhenti dan berkata tanpa menoleh,

“Aku harap kita membuat keputusan yang benar.”

Apple versi 2050 hanya bisa menatapnya, mengangguk, dan berlalu bersama Apple muda.

Tak ada jawaban yang mudah dalam perjalanan penuh pertaruhan ini.

Keberhasilan dan kegagalan dengan batas yang samar.

Dan waktupun semakin menipis.(Bersambung)

_______________

 


 

No comments:

Post a Comment