APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 12
Berkejaran dengan Waktu
Di dek atas kapal
pesiar futuristik yang mengapung di atas Sungai Emas, Apple versi 2050 menatap
layar hologram di pergelangan tangannya dengan ekspresi serius. Cahaya biru
redup dari perangkat waktu itu berdenyut pelan, menampilkan notifikasi yang
membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
Anomali
Terdeteksi:
Subjek: Bryan, Gio, Fiskha
(Masa Lalu)
Status: Telah tiba di Kota
Zoukha 2050
Waktu tersisa sebelum tabrakan
temporal: 23:47:12
Aku akan mengarahkan mereka untuk tergerak ke
Pasar Sungai Emas.
Apple muda
melangkah mendekat, matanya berkilat dengan kesadaran penuh akan bahaya yang
mengintai mereka.
"Mereka sudah
sampai," bisiknya, nyaris tidak percaya.
Apple versi 2050
mengangguk, matanya tak lepas dari layar. “Ini lebih cepat dari yang kita
perkirakan.
Mereka berpaling ke
arah yang sama, ke gemerlap Kota Zoukha yang terlihat dari dek kapal pesiar.
Cahaya lampu berkedip-kedip di kejauhan, sementara di atas kapal melintas pesawat
dengan kecepatan tinggi.
Apple muda mengepalkan
tangannya. “Kita harus pergi sekarang.”
Apple versi 2050
mengangguk. “Tapi kita harus berhati-hati. Leon pasti sudah bergerak. Jika dia
menemukan Bryan dan yang lainnya lebih dulu…”
Suasana di antara
mereka menegang.
Leon?
Apple muda tak
sempat meminta penjelasan.
Siapa Leon?
Mereka tidak punya waktu banyak.
Tiba-tiba, suara
langkah cepat bergema dari lorong kapal. Pintu geser otomatis terbuka dengan
desis pelan, dan Bryan—Bryan versi 2050—berdiri di ambang pintu. Matanya tajam,
penuh kecemasan.
“Kalian akan pergi?”
tanyanya.
Apple muda
mengangguk. “Kami harus.”
Bryan versi 2050
menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Kalau begitu, kalian harus cepat. Ada
orang-orang yang tidak akan membiarkan kalian bergerak bebas.”
Apple versi 2050
menatapnya dalam. “Kau tahu apa yang akan terjadi jika ini gagal?”
Bryan versi 2050
tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi kalau kita tidak mencoba, kita semua akan
terjebak selamanya.”
Suasana di dalam
ruang dek kapal pesiar terasa semakin berat. Cahaya biru redup dari panel hologram
memantul di wajah Apple versi 2050 saat ia menatap Bryan versi 2050 dengan
ekspresi serius.
“Kalian harus pergi
ke Stasiun Emas bersama Mama dan Papa,” katanya dengan nada yang tidak bisa
ditawar.
Bryan versi 2050
mengerutkan kening. “Dan kau akan pergi ke mana?”
Apple versi 2050
menarik napas panjang. “Aku dan Apple akan ke Control Building. Jika aku di sana, maka semua dapat aku kendalikan.
Syaratnya harus ada yang dapat mencapai satu titik lainnya lagi. Cukup mencapai
2 titik anomali dari 4 titik anomali.”
Bryan versi 2050
menyipitkan matanya. “Jadi kau benar-benar sudah memutuskan?”
Apple mengangguk.
“Ya. Kita harus mengembalikan semuanya seperti semula. Kota ini tidak
seharusnya ada.”
Bryan versi 2050
terdiam sejenak. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Kalau kita melakukannya…
Kota Zoukha akan lenyap. Semua yang pernah terjadi di sini akan hilang.”
Matanya membelalak.
“Bukan hilang,”
Apple versi 2050 mengoreksi. “Kota ini akan kembali pada waktunya yang
seharusnya. Tidak lebih, tidak kurang.”
Tatapan Bryan versi
2050 mengeras. “Dan bagaimana dengan kita?”
Apple versi 2050
menahan napas sejenak sebelum akhirnya berkata, “Jika kita tetap berada di
sini, kita juga akan lenyap bersama kota ini.”
Bryan versi 2050
terdiam. Ada sesuatu dalam ekspresinya—sebuah ketidakpastian yang berbahaya.
“Lalu kenapa kita tidak tetap di sini? Kenapa kita harus menormalkan waktu? Apa
kau tidak berpikir bahwa mungkin… Kota Zoukha memang ditakdirkan untuk ada?”
Apple versi 2050
menatapnya tajam. “Bryan… Kau tahu ini bukan tentang takdir. Ini tentang
konsekuensi. Jika kita membiarkan Kota Zoukha tetap seperti ini, kita akan
merusak keseimbangan waktu selamanya. Setiap orang yang pernah tersesat dan
yang akan tersesat di sini akan terjebak.
Apakah itu yang kau
inginkan?”
Bryan versi 2050
tidak menjawab. Matanya mulai berkabut, pikirannya bergejolak.
Apple melangkah
mendekat dan menatapnya dalam. “Aku tahu ini sulit, Bryan. Aku tahu kita punya
kenangan di sini, tapi ini bukan kenyataan yang seharusnya. Jika kita tidak
bertindak sekarang… kita mungkin tidak akan pernah bisa kembali.”
Bryan versi 2050
menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Saya akan menelpon Gio
dan Fiskha versi 2050 untuk berada segera di Menara Jam Zoukha, tempat terdekat
dengan kantor mereka yang terletak di atas restoran di tengah Sungai Emas.”
Apple versi 2050
tersenyum tipis, meski ada ketegangan di baliknya. “Jangan buang waktu. Bawa mama
dan papa ke Stasiun Emas sebelum semuanya runtuh.”
Bryan versi 2050
menatapnya untuk terakhir kali sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu dek.
Namun, sebelum ia pergi, ia berhenti dan berkata tanpa menoleh,
“Aku harap kita
membuat keputusan yang benar.”
Apple versi 2050
hanya bisa menatapnya, mengangguk, dan berlalu bersama Apple muda.
Tak ada jawaban
yang mudah dalam perjalanan penuh pertaruhan ini.
Keberhasilan dan
kegagalan dengan batas yang samar.
Dan waktupun semakin menipis.(Bersambung)
_______________
No comments:
Post a Comment