Wednesday, March 5, 2025

BAGIAN 17: SEBUAH KEPUTUSAN PENTING

 APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota

Bagian 17

Sebuah Kesepakatan

Lorong bawah tanah itu semakin gelap. Apple muda dan Apple versi 2050 terus bergegas, langkah mereka beradu dengan lantai baja yang dingin. Suara hembusan angin dari sistem ventilasi terdengar samar, membuat suasana semakin menegangkan.

Mereka akhirnya tiba di depan ruang kendali utama lorong mitigasi, sebuah ruangan dengan dinding kaca transparan yang memperlihatkan peta bawah tanah Kota Zoukha. Di tengah ruangan, terdapat panel holografis yang menampilkan sistem waktu Kota Zoukha—dengan anomali waktu yang selama ini menyelimuti kota ini. Di situ terlihat perbedaan waktu antara saat ini dengan waktu seharusnya Kota Zoukha, berjarak 23 tahun!

Apple muda menatap layar holografis itu dengan mata penuh kebingungan. Ada ribuan titik cahaya yang bergerak secara acak, menggambarkan pola waktu yang tidak stabil.

"Jadi, ini yang menyebabkan kita semua terjebak di sini?" tanyanya, suaranya mengandung keterkejutan sekaligus kemarahan.

Apple versi 2050 tidak segera menjawab. Ia menatap peta holografis itu dengan sorot mata sendu, lalu akhirnya berkata,

"Ya. Aku menciptakan anomali ini."

Apple muda menatap tajam sosok dirinya yang lebih tua.

"Kenapa?"

Apple versi 2050 menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan.

"Kota Zoukha hingga kau lihat saat ini, adalah proyek terbesar dalam hidupku. Aku ingin membangun kota yang hijau, cerdas, dan tangguh terhadap bencana. Aku bekerja dengan Arman dan Leon, dua pria yang memiliki visi yang sama denganku. Arman membangun sistem energi terbarukan dari tenaga surya, Leon mengubah sampah menjadi energi dan menciptakan sistem transportasi tanpa emisi."

Apple muda mengangguk. Ia sudah mendengar tentang dua pria itu, sosok yang tak dikenal di masanya tetapi menjadi salah satu pilar keajaiban Kota Zoukha 2050.

Apple versi 2050 melanjutkan, "Kami berhasil. Kota ini menjadi kota terbaik di duniabebas polusi, mandiri secara energi, dan memiliki sistem mitigasi bencana yang sempurna. Tapi..."

Ia menggenggam tangannya erat. "Saat kota ini mencapai puncak kesempurnaan, aku menyadari sesuatu yang mengerikan."

Apple muda menatapnya dengan curiga.

"Apa itu?"

Apple versi 2050 menoleh, menatapnya lurus-lurus.

"Kota ini tidak seharusnya ada!"

Apple muda mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Aku mengubah waktu."

Apple versi 2050 menggeleng, wajahnya dipenuhi kesedihan.

"Aku begitu ambisius untuk mewujudkan mimpi ini, sampai aku berupaya mengubah jalannya sejarah. Aku menggunakan teknologi yang seharusnya belum ditemukan di masaku untuk mempercepat pembangunan kota ini. Setelah mengetahui formulanya, aku menciptakan anomali waktu untuk kota yang aku inginkan, sebuah sistem yang mempertahankan Kota Zoukha di luar arus waktu normal."

Apple muda menahan napas.

"Kota ini seharusnya belum ada dalam kondisi waktu normal," lanjut Apple versi 2050. "Tapi aku terlalu keras kepala. Aku tidak bisa menerima bahwa dunia belum siap untuk sesuatu yang sudah aku impikan. Jadi aku menciptakan jalan pintas."

Apple muda merasa jantungnya berdegup semakin kencang.

"Jalan pintas?" ulangnya.

Apple versi 2050 mengangguk. "Ya. Aku menggunakan teknologi pemanipulasian waktu, yang tidak seharusnya dimiliki oleh manusia. Aku menciptakan Kota Zoukha di masa depan yang tidak wajar."

Apple muda mundur selangkah, pikirannya berputar. "Jadi… kau sebenarnya memaksakan sesuatu yang belum waktunya?"

"Benar," jawab Apple versi 2050 lirih.

Hening.

Apple muda merasa seluruh tubuhnya gemetar. Ia selalu berpikir bahwa mimpi harus dikejar tanpa batas. Tapi sekarang, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa terlalu memaksakan sesuatu pun bisa menjadi kesalahan. Dapat berbuah penyesalan.

"Apa yang terjadi jika kota ini kembali ke waktu asalnya?" tanyanya dengan suara pelan.

Apple versi 2050 menatapnya dengan ekspresi penuh kepedihan.

"Semua ini akan lenyap," katanya.

"Kota Zoukha akan kembali ke titik di mana ia seharusnya berada. Semua inovasi yang belum waktunya ada akan menghilang. Arman akan kembali menjadi aktivis lingkungan yang frustrasi. Leon akan kembali menjadi pengacara yang lelah menghadapi kasus-kasus pelik. Aku… akan kembali menjadi Apple yang baru sampai pada level bermimpi, tanpa tahu apakah aku akan pernah mewujudkannya atau tidak."

Apple muda merasakan sesuatu mencengkeram hatinya.

Ia mulai memahami.

Apple muda menatap Apple versi 2050. "Lalu, kenapa sekarang kau ingin mengembalikannya?"

Apple versi 2050 terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata,

"Karena aku menyadari satu hal yang sangat penting."

Apple muda menunggu.

"Kehidupan ini adalah proses yang harus dijalani."

Apple versi 2050 melanjutkan, suaranya mulai bergetar, "Aku telah mencuri proses itu dari diriku sendiri. Aku mengambil jalan pintas untuk mencapai mimpiku, tapi aku kehilangan banyak hal dalam perjalanan. Aku kehilangan perjuangan, kehilangan makna di balik setiap usaha yang aku lakukan, kehilangan keikhlasan akan takdir, setelah berusaha. Dan sekarang aku sadar… itu bukan kemenangan yang sebenarnya."

Apple muda menggigit bibirnya. Kata-kata itu menyentaknya dengan keras.

Apple versi 2050 melanjutkan, "Kota ini memang sempurna. Tapi kesempurnaan itu tidak boleh ada jika dibangun di atas manipulasi waktu."

Apple muda menutup matanya sejenak, merenungi semuanya.

Ia mengerti sekarang.

Kehidupan bukan tentang hasil akhir, tapi tentang perjalanan yang kita tempuh untuk mencapainya.

Setiap kegagalan, setiap tantangan, setiap keringat yang kita keluarkan—itulah yang membuat impian kita berharga.

Ia membuka matanya dan melihat Apple versi 2050 dengan tatapan penuh pemahaman.

"Kau benar," katanya dengan suara mantap.

Apple versi 2050 tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca.

"Kita harus mengembalikan waktu," kata Apple muda.

Apple versi 2050 mengangguk.

"Ya. Kita harus mengembalikan semuanya seperti semula."

Mereka saling menatap dalam hening. Lalu, tanpa berkata-kata lagi, Apple muda membuka tangannya.

Apple versi 2050 melangkah maju, dan dalam sekejap, mereka saling berpelukan.

Apple muda merasakan kehangatan dari sosok dirinya yang lebih tua. Ia tidak hanya memeluk seseorang, tetapi juga memeluk semua impiannya, semua perjalanannya, dan semua yang ia pelajari tentang hidup.

Keduanya sama-sama tersenyum.

Mereka telah membuat keputusan.

_______________

 




No comments:

Post a Comment