APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 17
Sebuah Kesepakatan
Lorong bawah tanah
itu semakin gelap. Apple muda dan Apple versi 2050 terus bergegas, langkah
mereka beradu dengan lantai baja yang dingin. Suara hembusan angin dari sistem
ventilasi terdengar samar, membuat suasana semakin menegangkan.
Mereka akhirnya
tiba di depan ruang kendali utama lorong mitigasi, sebuah ruangan dengan dinding kaca
transparan yang memperlihatkan peta bawah tanah Kota Zoukha. Di tengah ruangan,
terdapat panel holografis yang menampilkan sistem waktu Kota Zoukha—dengan anomali waktu yang selama ini
menyelimuti kota ini. Di situ terlihat perbedaan waktu antara saat ini dengan
waktu seharusnya Kota Zoukha, berjarak 23 tahun!
Apple muda menatap
layar holografis itu dengan mata penuh kebingungan. Ada ribuan titik cahaya
yang bergerak secara acak, menggambarkan pola waktu yang tidak stabil.
"Jadi, ini
yang menyebabkan kita semua terjebak di sini?" tanyanya, suaranya
mengandung keterkejutan sekaligus kemarahan.
Apple versi 2050
tidak segera menjawab. Ia menatap peta holografis itu dengan sorot mata sendu,
lalu akhirnya berkata,
"Ya. Aku
menciptakan anomali ini."
Apple muda menatap
tajam sosok dirinya yang lebih tua.
"Kenapa?"
Apple versi 2050
menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan.
"Kota Zoukha hingga
kau lihat saat ini, adalah proyek terbesar dalam hidupku. Aku ingin membangun
kota yang hijau, cerdas, dan tangguh terhadap bencana. Aku bekerja dengan Arman
dan Leon, dua pria
yang memiliki visi yang sama denganku. Arman membangun sistem energi
terbarukan dari tenaga surya, Leon mengubah sampah menjadi energi dan
menciptakan sistem transportasi tanpa emisi."
Apple muda
mengangguk. Ia sudah mendengar tentang dua pria itu, sosok
yang tak dikenal di masanya tetapi menjadi salah satu pilar keajaiban Kota
Zoukha 2050.
Apple versi 2050
melanjutkan, "Kami berhasil. Kota ini menjadi kota
terbaik di dunia—bebas
polusi, mandiri secara energi, dan memiliki sistem mitigasi bencana yang
sempurna. Tapi..."
Ia menggenggam
tangannya erat. "Saat kota ini mencapai puncak kesempurnaan, aku menyadari
sesuatu yang mengerikan."
Apple muda
menatapnya dengan curiga.
"Apa
itu?"
Apple versi 2050
menoleh, menatapnya lurus-lurus.
"Kota ini tidak seharusnya ada!"
Apple muda
mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Aku mengubah
waktu."
Apple versi 2050
menggeleng, wajahnya dipenuhi kesedihan.
"Aku begitu
ambisius untuk mewujudkan mimpi ini, sampai aku berupaya mengubah
jalannya sejarah. Aku menggunakan teknologi yang seharusnya
belum ditemukan di masaku untuk mempercepat pembangunan kota ini. Setelah
mengetahui formulanya, aku menciptakan anomali waktu untuk kota yang aku
inginkan, sebuah
sistem yang mempertahankan Kota Zoukha di luar arus waktu normal."
Apple muda menahan
napas.
"Kota ini
seharusnya belum ada dalam kondisi waktu normal," lanjut Apple versi 2050.
"Tapi aku terlalu keras kepala. Aku tidak bisa menerima bahwa dunia belum
siap untuk sesuatu yang sudah aku impikan. Jadi aku menciptakan jalan
pintas."
Apple muda merasa
jantungnya berdegup semakin kencang.
"Jalan
pintas?" ulangnya.
Apple versi 2050
mengangguk. "Ya. Aku menggunakan teknologi pemanipulasian waktu, yang tidak seharusnya dimiliki oleh
manusia. Aku menciptakan Kota Zoukha di masa depan yang tidak wajar."
Apple muda mundur
selangkah, pikirannya berputar. "Jadi… kau sebenarnya memaksakan sesuatu
yang belum waktunya?"
"Benar,"
jawab Apple versi 2050 lirih.
Hening.
Apple muda merasa
seluruh tubuhnya gemetar. Ia selalu berpikir bahwa mimpi
harus dikejar tanpa batas.
Tapi sekarang, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa terlalu
memaksakan sesuatu pun bisa menjadi kesalahan. Dapat berbuah penyesalan.
"Apa yang
terjadi jika kota ini kembali ke waktu asalnya?" tanyanya dengan suara
pelan.
Apple versi 2050
menatapnya dengan ekspresi penuh kepedihan.
"Semua ini
akan lenyap," katanya.
"Kota Zoukha
akan kembali ke titik di mana ia seharusnya berada. Semua inovasi yang belum
waktunya ada akan menghilang. Arman akan kembali menjadi aktivis lingkungan
yang frustrasi. Leon akan kembali menjadi pengacara yang lelah menghadapi
kasus-kasus pelik. Aku… akan kembali menjadi Apple yang baru
sampai pada level bermimpi, tanpa tahu apakah aku akan pernah mewujudkannya
atau tidak."
Apple muda
merasakan sesuatu mencengkeram hatinya.
Ia mulai memahami.
Apple muda menatap
Apple versi 2050. "Lalu, kenapa sekarang kau ingin mengembalikannya?"
Apple versi 2050
terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata,
"Karena aku
menyadari satu hal yang sangat penting."
Apple muda
menunggu.
"Kehidupan
ini adalah proses yang harus dijalani."
Apple versi 2050
melanjutkan, suaranya mulai bergetar, "Aku telah mencuri proses itu dari
diriku sendiri. Aku mengambil jalan pintas untuk mencapai mimpiku, tapi aku
kehilangan banyak hal dalam perjalanan. Aku kehilangan perjuangan, kehilangan
makna di balik setiap usaha yang aku lakukan, kehilangan keikhlasan akan
takdir, setelah berusaha. Dan sekarang aku sadar… itu
bukan kemenangan yang sebenarnya."
Apple muda menggigit
bibirnya. Kata-kata itu menyentaknya dengan keras.
Apple versi 2050
melanjutkan, "Kota ini memang sempurna. Tapi kesempurnaan itu tidak
boleh ada jika dibangun di atas manipulasi waktu."
Apple muda menutup
matanya sejenak, merenungi semuanya.
Ia mengerti
sekarang.
Kehidupan bukan tentang hasil akhir, tapi
tentang perjalanan yang kita tempuh untuk mencapainya.
Setiap kegagalan, setiap tantangan, setiap
keringat yang kita keluarkan—itulah yang membuat impian kita berharga.
Ia membuka matanya
dan melihat Apple versi 2050 dengan tatapan penuh pemahaman.
"Kau
benar," katanya dengan suara mantap.
Apple versi 2050
tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca.
"Kita harus
mengembalikan waktu," kata Apple muda.
Apple versi 2050
mengangguk.
"Ya. Kita
harus mengembalikan semuanya seperti semula."
Mereka saling
menatap dalam hening. Lalu, tanpa berkata-kata lagi, Apple muda membuka
tangannya.
Apple versi 2050
melangkah maju, dan dalam sekejap, mereka saling berpelukan.
Apple muda
merasakan kehangatan dari sosok dirinya yang lebih tua. Ia tidak hanya memeluk
seseorang, tetapi juga memeluk semua impiannya, semua
perjalanannya, dan semua yang ia pelajari tentang hidup.
Keduanya sama-sama
tersenyum.
Mereka telah membuat keputusan.
_______________
No comments:
Post a Comment