Tuesday, March 4, 2025

BAGIAN 14: ZOUKHA KOTA SURGA TANPA POLUSI DAN RAHASIA ARMAN

 APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota


Bagian 14

 

Zoukha Kota Surga Tanpa Polusi

dan Rahasia Arman

Langit di atas Kota Zoukha berwarna biru jernih, tanpa sedikit pun kepulan asap. Jalanan bersih tanpa jejak karbon, hanya suara halus kendaraan listrik yang melaju dengan tenang di antara gedung-gedung kaca yang memantulkan cahaya matahari. Panel surya berbaris rapi di atap setiap bangunan yang memanen energi matahari dengan efisiensi luar biasa. Di sepanjang jalan, taman vertikal dengan pepohonan rindang membentuk koridor hijau yang menyejukkan udara.

Di sinilah Kota Zoukha tahun 2050, kota yang menjadi simbol keberhasilan manusia dalam mewujudkan mimpi Green City terbaik di dunia. Kota ini tidak sekadar modern, tetapi juga sustainable, bebas polusi, dan mandiri energi. Dan semua ini terjadi berkat satu orang yang memilih tetap dalam bayang-bayang: Arman.

Arman, Sang Penguasa di Balik Layar

Arman berdiri di balkon gedung tertinggi bernuansa klasik modern, menatap ke kejauhan. Dari atas sini, ia bisa melihat bagaimana kota ini bekerja seperti sebuah simfoni sempurna—energi terbarukan menggerakkan segalanya, manusia hidup berdampingan dengan alam, dan teknologi berkembang tanpa merusak keseimbangan ekosistem.

Ini adalah mimpi yang dulu hanya bisa ia bayangkan.

Tapi di sinilah ia sekarang—bukan sebagai seorang pegiat dan perawat lingkungan yang berjuang nyata dan berhasil. Bukan seperti saat itu, sebagai sarjana dan aktivis lingkungan yang hanya bisa mengkritisi sistem penanganan lingkungan yang buruk. Di tahun 2050, ia adalah pemilik perusahaan energi terbarukan bersumber dari matahari terbesar di negeri ini, seorang visioner yang telah mengubah dunia tanpa harus bertarung di jalanan.

Namun, tidak ada yang benar-benar tahu siapa dia. Arman memilih untuk tetap menjadi sosok yang misterius. Nama perusahaannya, Zoukha Solar Corp, adalah nama yang dikenal di seluruh dunia, tetapi pemiliknya tetap tidak pernah muncul di hadapan publik. Ia mengendalikan segalanya dari balik layar, membiarkan kota ini berjalan seperti yang selalu ia impikan. Tanpa harus terusik.

Tapi kini, mimpi ini terancam musnah.

Jika anomali waktu di Kota Zoukha diperbaiki, jika kota ini dikembalikan ke jalurnya yang seharusnya, maka semua yang telah ia bangun akan lenyap.

Arman akan kembali ke masa lalunya.

Ia akan kembali menjadi Arman si aktivis lingkungan, si pemberontak, yang setiap hari harus bertarung dengan sistem yang tidak peduli dengan keberlanjutan bumi. Ia akan kembali ke dunia di mana ia tidak memiliki kekuatan untuk benar-benar mengubah sesuatu.

Dan ia tidak menginginkan itu.

Membela Kota Zoukha, Membela Kehidupannya

Sebuah suara di belakangnya membuatnya berpaling. Pria berkemeja hitam panjang menjuntai berdiri di ambang pintu balkon, wajahnya setengah tertutup.

"Anomali semakin melemah," kata pria berjubah hitam, suaranya datar. "Jika kita tidak melakukan sesuatu, maka Kota Zoukha akan kembali ke waktu asalnya. Segala sesuatu yang telah kau bangun akan lenyap."

Arman mengepalkan tangan. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

"Kau tahu betul apa yang harus kita lakukan," pria berkemeja hitam panjang itu melanjutkan. "Empat titik anomali harus dijaga. Jika mereka sampai ke sana, jika mereka berhasil mengaktifkan reset waktu, maka semuanya berakhir."

Arman mengangguk pelan. Ini bukan hanya tentang mempertahankan kota. Ini tentang mempertahankan kehidupan yang telah mereka bangun—kehidupan yang akhirnya memberi mereke kedamaian setelah bertahun-tahun berjuang di masa lalu.

"Apple, Bryan, dan yang lainnya..." gumamnya. "Mereka berusaha mengembalikan waktu ke jalurnya. Mereka berpikir itu adalah satu-satunya jalan."

"Mereka tidak mengerti," pria berjubah berkemeja hitam menyela. "Mereka tidak tahu betapa berharganya Kota Zoukha ini. Jika kita membiarkannya, kita akan kembali ke dunia yang penuh polusi, dengan sistem yang tidak berpihak pada bumi. Di sini, kau memiliki segalanya. Di sini, dunia telah mencapai puncak peradabannya. Mengapa harus dihancurkan?"

Arman menghela napas panjang. Ada beban di hatinya. Dulu, ia percaya bahwa waktu tidak boleh dimanipulasi. Bahwa manusia harus hidup sesuai dengan takdirnya. Tapi sekarang, setelah mengalami hidup di dunia yang lebih baik ini, ia sadar bahwa takdir harus diperjuangkan.

Ia menatap pria berkemeja hitam. "Apa rencanamu?"

Pria itu tersenyum tipis. "Kita cegah mereka sampai detik terakhir. Mereka tidak boleh mencapai titik anomali."

Arman memejamkan mata sejenak. Ia tidak suka harus melawan Apple dan yang lainnya. Tapi ia tahu, jika ingin menyelamatkan Kota Zoukha, jika ingin tetap hidup dalam dunia yang sempurna ini, maka mereka berdua harus bertindak.

Ia membuka mata dan berkata dengan suara tegas, "Kita mulai sekarang."

Kota Zoukha di Persimpangan Takdir

Langit malam di Kota Zoukha tetap jernih, tetapi pertempuran untuk menentukan masa depan kota ini telah dimulai.

 

Sementara Apple, Bryan, Gio, dan Fiskha beserta kedua orang tua Apple berusaha mencari jalan keluar dari anomali waktu...

Arman dan pria berkemeja hitam kini bersiap mempertahankan Kota Zoukha agar tetap berada di tahun 2050 dan melanjutkan ke tahun berikutnya.

Dan di antara mereka, pria paruh baya yang misterius tetap dengan prinsipnya.

Perlombaan melawan waktu telah dimulai.(Bersambung)

_______________


No comments:

Post a Comment