APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 14
Zoukha Kota Surga Tanpa
Polusi
dan Rahasia Arman
Langit di atas Kota
Zoukha berwarna biru jernih, tanpa sedikit pun kepulan asap. Jalanan bersih
tanpa jejak karbon, hanya suara halus kendaraan listrik yang melaju dengan
tenang di antara gedung-gedung kaca yang memantulkan cahaya matahari. Panel
surya berbaris rapi di atap setiap bangunan yang memanen energi matahari dengan
efisiensi luar biasa. Di sepanjang jalan, taman vertikal dengan pepohonan
rindang membentuk koridor hijau yang menyejukkan udara.
Di sinilah Kota Zoukha tahun 2050, kota
yang menjadi simbol keberhasilan manusia dalam mewujudkan mimpi Green
City terbaik di dunia. Kota ini tidak sekadar modern,
tetapi juga sustainable, bebas
polusi, dan mandiri energi. Dan semua ini terjadi berkat satu orang yang
memilih tetap dalam bayang-bayang: Arman.
Arman, Sang Penguasa di Balik Layar
Arman berdiri di balkon gedung tertinggi bernuansa
klasik modern, menatap ke kejauhan. Dari atas sini, ia bisa melihat bagaimana
kota ini bekerja seperti sebuah simfoni sempurna—energi terbarukan menggerakkan
segalanya, manusia hidup berdampingan dengan alam, dan teknologi berkembang
tanpa merusak keseimbangan ekosistem.
Ini adalah mimpi yang dulu hanya bisa ia
bayangkan.
Tapi di sinilah ia
sekarang—bukan sebagai seorang pegiat dan perawat lingkungan yang berjuang
nyata dan berhasil. Bukan seperti saat itu, sebagai sarjana dan aktivis lingkungan
yang hanya bisa mengkritisi sistem penanganan lingkungan yang buruk. Di
tahun 2050, ia adalah pemilik perusahaan energi terbarukan bersumber dari matahari
terbesar di negeri ini, seorang visioner yang telah mengubah dunia tanpa harus bertarung
di jalanan.
Namun, tidak ada
yang benar-benar tahu siapa dia. Arman memilih untuk tetap menjadi
sosok yang misterius. Nama perusahaannya, Zoukha Solar Corp,
adalah nama yang dikenal di seluruh dunia, tetapi pemiliknya tetap tidak pernah
muncul di hadapan publik. Ia mengendalikan segalanya dari balik layar,
membiarkan kota ini berjalan seperti yang selalu ia impikan. Tanpa harus
terusik.
Tapi kini, mimpi
ini terancam musnah.
Jika anomali waktu
di Kota Zoukha diperbaiki, jika kota ini dikembalikan ke jalurnya yang seharusnya,
maka semua yang telah ia bangun akan lenyap.
Arman akan kembali
ke masa lalunya.
Ia akan kembali
menjadi Arman si aktivis lingkungan, si pemberontak, yang
setiap hari harus bertarung dengan sistem yang tidak peduli dengan
keberlanjutan bumi. Ia akan kembali ke dunia di mana ia tidak
memiliki kekuatan untuk benar-benar mengubah sesuatu.
Dan ia tidak
menginginkan itu.
Membela Kota Zoukha, Membela Kehidupannya
Sebuah suara di belakangnya membuatnya berpaling.
Pria berkemeja hitam panjang menjuntai berdiri di ambang pintu balkon, wajahnya
setengah tertutup.
"Anomali
semakin melemah," kata pria berjubah hitam, suaranya datar. "Jika
kita tidak melakukan sesuatu, maka Kota Zoukha akan kembali ke waktu asalnya.
Segala sesuatu yang telah kau bangun akan lenyap."
Arman mengepalkan
tangan. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Kau tahu
betul apa yang harus kita lakukan," pria berkemeja hitam panjang itu melanjutkan.
"Empat titik anomali harus dijaga. Jika mereka sampai ke sana, jika mereka
berhasil mengaktifkan reset waktu, maka semuanya berakhir."
Arman mengangguk
pelan. Ini bukan hanya tentang mempertahankan kota. Ini tentang mempertahankan
kehidupan yang telah mereka bangun—kehidupan yang akhirnya
memberi mereke kedamaian setelah bertahun-tahun berjuang di masa lalu.
"Apple, Bryan,
dan yang lainnya..." gumamnya. "Mereka berusaha mengembalikan waktu
ke jalurnya. Mereka berpikir itu adalah satu-satunya jalan."
"Mereka tidak
mengerti," pria berjubah berkemeja hitam menyela. "Mereka tidak tahu
betapa berharganya Kota Zoukha ini. Jika kita membiarkannya, kita akan kembali
ke dunia yang penuh polusi, dengan sistem yang tidak berpihak pada bumi. Di
sini, kau memiliki segalanya. Di sini, dunia telah mencapai puncak
peradabannya. Mengapa harus dihancurkan?"
Arman menghela
napas panjang. Ada beban di hatinya. Dulu, ia percaya bahwa waktu
tidak boleh dimanipulasi. Bahwa manusia harus hidup sesuai
dengan takdirnya. Tapi sekarang, setelah mengalami hidup di dunia yang lebih
baik ini, ia sadar bahwa takdir harus diperjuangkan.
Ia menatap pria berkemeja
hitam. "Apa rencanamu?"
Pria itu tersenyum
tipis. "Kita cegah mereka sampai detik terakhir. Mereka tidak boleh
mencapai titik anomali."
Arman memejamkan
mata sejenak. Ia tidak suka harus melawan Apple dan yang lainnya.
Tapi ia tahu, jika ingin menyelamatkan Kota Zoukha, jika ingin tetap hidup
dalam dunia yang sempurna ini, maka mereka berdua harus bertindak.
Ia membuka mata dan
berkata dengan suara tegas, "Kita mulai sekarang."
Kota Zoukha di Persimpangan Takdir
Langit malam di Kota Zoukha tetap jernih, tetapi pertempuran
untuk menentukan masa depan kota ini telah dimulai.
Sementara Apple, Bryan, Gio, dan Fiskha beserta
kedua orang tua Apple berusaha mencari jalan keluar dari anomali waktu...
Arman dan pria berkemeja hitam kini bersiap
mempertahankan Kota Zoukha agar tetap berada di tahun 2050 dan melanjutkan ke
tahun berikutnya.
Dan di antara
mereka, pria paruh baya yang misterius tetap dengan
prinsipnya.
Perlombaan melawan waktu telah dimulai.(Bersambung)
_______________
No comments:
Post a Comment