Friday, March 7, 2025

BAGIAN 27: KEMBALI KE TITIK AWAL

 APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota

Bagian 27

Kembali ke Titik Awal

Di Muara Sungai Emas, kabut yang selama ini menyelimuti perairan mulai menipis. Perlahan, kapal pesiar yang selama bertahun-tahun dianggap hilang kini terlihat semakin jelas, terapung diam di tengah Teluk Emas, dan jelas terlihat dari muara Sungai Emas.

Arman berdiri dengan mata tajam mengamati kejadian itu, mengetahui bahwa ini adalah pertanda pasti bahwa anomali waktu Kota Zoukha akan segera mencapai puncaknya.

Langkah kaki yang berat mendekat di belakangnya.

Batara akhirnya tiba, napasnya tersengal. Ia berdiri di samping Arman, menatap kapal pesiar yang tertahan di ambang dua dimensi waktu.

"Sudah waktunya," ujar Batara pelan.

Arman mengangguk. "Ya. Kita akan kembali."

Batara menarik napas panjang.

"Selama 23 tahun aku menyaksikan Kota Zoukha tumbuh menjadi kota yang indah. Tapi inilah takdirnya. Mungkin inilah yang seharusnya terjadi."

Arman menatap Batara dengan dalam. "Kau sudah siap meninggalkan ini semua?"

Batara tersenyum getir. "Aku tidak tahu apakah aku siap. Tapi aku menerima. Jika ini keputusan Apple, aku percaya padanya."

Arman menatap muara sungai dan ke tengah teluk, lalu mengepalkan tangannya. "Maka kita akan menghadapinya dengan kepala tegak."

Sementara itu, di Lorong Bawah Tanah Stasiun Tua, situasi semakin kacau. Gempa bumi yang mengguncang Kota Zoukha, menyebabkan debu dan serpihan beton jatuh dari langit-langit.

Partisi hologram terakhir yang dipasang Apple 2050 akhirnya hancur total.

Leon berdiri di depan pintu Control Building. Dengan cepat, ia mengaktifkan alat peretasan yang ia bawa, jari-jarinya bergerak gesit di layar holografik. Cahaya berkedip-kedip di sepanjang panel akses, hingga akhirnya terdengar bunyi klik—pintu Control Building terbuka.

Apple 2050 dan Apple muda berdiri di dalam, menatap Leon dengan tajam. Di hadapan mereka, di tengah ruangan, terdapat empat tombol besar yang berpendar dengan cahaya biru.

"Apple," suara Leon bergetar, tetapi tetap tegas. "Jangan lakukan ini. Kau tahu lebih dari siapa pun bahwa Kota Zoukha telah mencapai puncak kejayaannya. Kau akan menghancurkan segalanya jika mengaktifkan anomali waktu ini."

Apple 2050 tidak bergeming. "Kau salah, Leon. Aku tidak menghancurkan apa pun. Aku hanya mengembalikan semua ke tempatnya semula. Ini bukan kehancuran, ini adalah keseimbangan. Aku yakin kota ini kelak tetap akan sampai pada masa ke jayaan. Seperti yang telah kita lihat bersama. Masa kejayaan dalam waktu yang sempurna. Pada waktunya!"

Leon melangkah maju, matanya tajam dan penuh determinasi. "Jangan lakukan ini, Apple. Kota ini butuh kau. Kau satu-satunya yang bisa memastikan Zoukha tetap seperti ini."

Apple muda menatap Apple 2050 dengan penuh keyakinan. "Kau sudah melakukan yang terbaik untuk kota ini. Sekarang, aku juga tahu apa yang harus aku lakukan."

Leon mengulurkan tangan, mencoba menghentikan Apple 2050. Namun, tepat saat itu, gempa bumi mengguncang lebih keras. Cahaya di dalam Control Building mulai berkedip-kedip.

Waktu hampir habis.

Apple 2050 menarik napas dalam-dalam dan menatap layar holografik di depannya. "Saatnya." Ia mengulurkan tangannya ke arah tombol-tombol anomali.

Leon berteriak, "TIDAK!" sambil menerjang Apple 2050.

Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, Apple 2050 telah menyentuh kemudian menekan keempat tombol sekaligus.

Seluruh kota kini terguncang hebat.

Cahaya biru menyelimuti Control Building.

Di seluruh penjuru kota, masyarakat yang awalnya hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan merasakan perubahan mendadak.

Teknologi yang selama ini melayani manusia dengan sempurna mulai kehilangan fungsinya. Layar-layar informasi di jalan utama yang menampilkan data lingkungan dan sistem transportasi ramah lingkungan mulai berkedip dan akhirnya mati.

Kendaraan dengan kabel listrik perlahan berhenti, kehilangan sumber energi.

Saat anomali waktu mencapai puncaknya, Kota Zoukha yang selama ini megah dan penuh harmoni mulai bergetar hebat.

Gedung-gedung yang sebelumnya kokoh tampak memudar, dan mulai menghilang seolah terkikis oleh waktu yang berbalik arah.

Langit yang sebelumnya jernih dengan panel surya raksasa kini tertutup kabut tipis, menunjukkan bahwa sistem ekologis canggih mulai menghilang dari eksistensinya.

Di Muara Sungai Emas, Arman dan Batara melihat dari kejauhan gelombang cahaya dari suatu tempat menjulang ke langit. Sementara di sini, kabut di muara sungai dan di tengah teluk semakin menipis.

Arman berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah kapal pesiar yang perlahan muncul kokok di tengah Teluk Emas.Seiring menghilangnya kabut.

Gelombang air berputar tidak biasa, seperti membentuk pusaran yang menandakan anomali waktu telah mencapai puncaknya. Batara menyusul, langkahnya mantap meskipun tanah di bawah mereka bergetar hebat.

"Inilah akhirnya..."

Batara menghela napas panjang, suaranya sarat makna.

Arman mengangguk.

"Kitakembali ke tempat di mana semuanya dimulai."

Di pusat kota, guncangan dahsyat juga dirasakan di sekitar Menara Jam Zoukha, para ilmuwan dan insinyur yang bekerja dalam proyek keberlanjutan menatap ke langit dengan kebingungan. Mereka merasakan ada sesuatu yang bergeser, sesuatu yang tidak bisa mereka pahami sepenuhnya. Budaya dan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mulai pudar dari kesadaran kolektif, seperti sebuah kenangan yang lama-lama menghilang.

Di Menara Jam Zoukha, Gio dan Fiskha versi muda serta versi 2050 merasakan tubuh mereka mulai tertarik oleh energi anomali. Gio dan Fiskha muda beserta Gio dan Fiskha versi 2050 berusaha bertahan di tempat mereka. Petugas yang tadi hampir menangkap mereka kini berhamburan turun akibat gempa yang semakin kuat. Menara Jam dengan desain klasik bergetar hebat, jarum jamnya melompat-lompat tak menentu. “Sudah tiba saatnya.” Fiskha versi 2050 bergumam.Jam berdendang…

Di reruntuhan Kota Lama, Bryan muda bersama kedua orang tua Apple dan Bryan 2050 dengan kedua orang tua Apple 2050 sudah bersiap di titik anomali. Tanah berguncang hebat, membuat bangunan-bangunan tua di sekitar mereka semakin roboh. Asap dan debu mengepul di udara. Mereka saling menggenggam erat, mata mereka menatap takjub dan penuh ketakutan pada langit yang mulai retak, menampakkan kilatan cahaya waktu yang berputar. Mereka tahu, kini telah waktunya Kota Zoukha kembali ke asalnya.

Di pusat Kota Zoukha, masyarakat berteriak panik. Beberapa bangunan runtuh, dan jalanan terbelah.

Wali Kota Zoukha menatap layar besar di ruangannya, menyaksikan kota yang telah dibangunnya dengan susah payah mulai tercerai-berai dalam pusaran waktu.

Ia akhirnya mengambil keputusan.

"Aku tidak akan membiarkan kota ini lenyap begitu saja..." Dengan langkah cepat, ia keluar dari ruangannya, berniat bergabung dengan Leon yang kini telah memasuki Control Building. Namun terlambat, bangunan kantor rubuh dan dia terhalang untuk bergabung dengan Leon.

Di tengah semua kekacauan ini, dua anak Apple dan Bryan yang tadi berpisah dengan papa mereka, berdiri di balkon rumah. Bumi terus bergoncang dengan intensitas yang makin tinggi.

Mereka menyaksikan langit berubah warna dengan mata penuh kebingungan dan ketakutan. Mereka belum memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi, tapi hati kecil mereka tahu... sesuatu yang besar akan mengubah segalanya. Sesuatu yang dikendalikan ibu mereka Apple 2050.

Mereka percaya, ibu mereka telah menimbang segalanya dengan baik, sebelum mengambil keputusan. Mereka yakin kalaupun semua ini hilang, mereka akan ada di sini di masa yang akan datang.

Apple dan Apple berdiri tegak menatap layar besar yang menunjukkan perubahan dramatis ini. Mereka tahu bahwa ini adalah harga yang harus dibayar untuk mengembalikan keseimbangan waktu. Apple 2050 menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Apple muda yang berdiri di sampingnya dengan mata penuh harapan. "Semua ada waktunya," kata Apple 2050, "dan sekarang, tugasmu adalah berada selalu setia pada jalan hidupmu, dengan tekad yang lebih kuat."

“Sampai jumpa lagi Leon.”

Apple 2050 menatap Leon yang nampak sudah terhuyung-huyung karena goncangan.

“Kita akan jumpa lagi dalam situasi yang alami.”

Dengan lemah Leon mengangguk tanpa kata.

Di detik yang sama, Apple muda menatap Apple 2050 dalam-dalam. Menatapnya dengan rasa hormat dan keyakinan.

"Terima kasih atas semua pelajaran berharga ini," bisiknya.

Mereka kemudian berpelukan.

Lalu, Apple 2050 menekan tombol END berwarna merah pada layar hologram di depan mereka.

Dengan satu guncangan yang sangat dahsyat, dunia seketika berubah.

_______________



No comments:

Post a Comment