APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian
23
Sang
Jurnalis Misterius
Di sebuah rumah, di atas bukit bekas tambang yang kini telah
hijau dan indah, seorang pria paruh baya berdiri teguh. Angin sejuk berhembus
lembut, menyapu janggut tipisnya yang mulai memutih. Garis-garis di wajahnya mencerminkan
kebijaksanaan seorang pengamat waktu yang ikhlas. Tatapannya menyapu sekitarnya.
Kota Zoukha yang membentang di bawah sana—kota yang tumbuh dari reruntuhan bencana
dan ulah manusia, dengan tata ruang yang selaras dengan alam, kini menjadi mahakarya
yang harmoni.
Siapakah dia?
Tak ada satu pun di Kota Zoukha yang mengenalnya dengan nama
asli yang diberikan orang tuanya. Pria ini adalah Batara, seorang jurnalis yang
juga terseret dalam anomali waktu Kota Zoukha. Ia datang sebagai pencari
kebenaran, menyelidiki fenomena yang tak dapat dijelaskan oleh sains
konvensional. Namun, takdir berkata lain—ia tidak pernah kembali ke masanya.
Batara
hidup dalam bayang-bayang. Di Kota Zoukha dikenal sebagai seorang guru seni
yang memiliki acara tv yang diminati masyarakat. Namun dalam tugas jiwa, ia
memenuhi panggilan nuraninya. Ia menyusun sejarah Kota Zoukha, menulisnya
dengan nama samaran Yudha. Semua peristiwa, pembangunan, perubahan, dan misteri
kota ini telah ia dokumentasikan. Namun, ada lembaran-lembaran yang dihilangkan
dalam manuskripnya—disengaja, dihapus, disembunyikan. Ia tahu bahwa tidak semua
rahasia boleh menjadi konsumsi publik. Dokumen itu ditinggalkan di Pusat Arsip Kota. Sebuah Dokumen
Sejarah yang tidak terdata. Diletakkan di antara dokumen arsip sejarah.
Tak ada yang tahu bahwa Batara adalah saksi atas anomali waktu
yang telah mempersembahkan Kota Zoukha seperti sekarang. Ia memahami keempat
titik anomali waktu: Pasar Sungai Emas, Menara Jam Zoukha, Lorong Bawah Tanah
Stasiun Tua, dan Reruntuhan Kota Lama. Semua titik itu adalah simpul-simpul
yang merajut garis waktu kota ini, menjaga kestabilannya. Jika satu simpul
terurai, seluruh struktur waktu bisa runtuh. Dia juga tahu siapa aktor kunci anomali
waktu Kota Zoukha.
Namun kini, segalanya berubah.
Batara telah mengamati pergerakan Apple 2050 selama
bertahun-tahun, tanpa pernah benar-benar terdeteksi. Ia tahu Apple memiliki
kekuatan untuk menjaga atau meruntuhkan kota ini. Tapi mengapa sekarang Apple
memutuskan untuk kembali ke waktu asalnya? Bukankah ini adalah puncak dari
segala perjuangannya? Kota Zoukha yang hijau, cerdas, dan bebas dari bencana
adalah impiannya. Kota yang budayanya maju dengan masyarakat yang sejahtera. Lalu,
mengapa justru sang pencipta tatanan yang begitu harmoni ini ingin melenyapkannya?
Batara menghela napas panjang. Dalam kebisuannya, ia
berdebat dengan dirinya sendiri.
“Apakah ini keputusan yang benar, Apple?”
“Aku telah melihat kota ini tumbuh, dari reruntuhan menjadi
surga dunia. Aku telah melihat masyarakatnya hidup dalam kesejahteraan. Tidak
ada kemiskinan, tidak ada ketimpangan, tidak ada kehancuran.”
“Lalu, kau ingin semuanya kembali ke kondisi semula? Kembali
pada ketidakpastian? Kembali pada masa di mana harapan masih samar?”
Namun, di dalam hatinya, Batara juga memahami sesuatu yang
lebih dalam. Kota Zoukha memang sempurna, tetapi kehidupan bukan hanya tentang
mencapai kesempurnaan. Kehidupan adalah perjalanan, proses yang harus dijalani
dengan segala tantangan dan pengorbanannya.
Jika semua sudah sempurna, maka tidak ada lagi perjuangan.
Dan tanpa perjuangan, manusia kehilangan makna sejati dari kehidupan itu
sendiri.
Ia menatap langit malam yang mulai menaungi kota.
Bintang-bintang bersinar terang, seolah menjadi saksi atas segala pergulatan
batinnya.
“Mungkin Apple benar. Mungkin ini adalah jalannya. Kota
Zoukha memang indah, tetapi dunia di luar sana masih membutuhkan perjuangan.
Jika ini adalah keputusan Apple, maka aku akan menerima.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Batara membiarkan
takdir mengambil alih. Ia menyerahkan semuanya pada waktu, pada Apple 2050 yang
kini berada di Control Building, dan
pada anomali yang akan segera menentukan nasib Kota Zoukha.
Dari rumahnya di puncak bukit yang hijau, ia tersenyum
tipis.
“Semoga kau membuat keputusan yang tepat, Apple.” (Bersambung)
_______________
No comments:
Post a Comment