Thursday, March 6, 2025

BAGIAN 23: SANG JURNALIS MISTERIUS

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota

Bagian 23

Sang Jurnalis Misterius

Di sebuah rumah, di atas bukit bekas tambang yang kini telah hijau dan indah, seorang pria paruh baya berdiri teguh. Angin sejuk berhembus lembut, menyapu janggut tipisnya yang mulai memutih. Garis-garis di wajahnya mencerminkan kebijaksanaan seorang pengamat waktu yang ikhlas. Tatapannya menyapu sekitarnya. Kota Zoukha yang membentang di bawah sana—kota yang tumbuh dari reruntuhan bencana dan ulah manusia, dengan tata ruang yang selaras dengan alam, kini menjadi mahakarya yang harmoni.

Siapakah dia?

Tak ada satu pun di Kota Zoukha yang mengenalnya dengan nama asli yang diberikan orang tuanya. Pria ini adalah Batara, seorang jurnalis yang juga terseret dalam anomali waktu Kota Zoukha. Ia datang sebagai pencari kebenaran, menyelidiki fenomena yang tak dapat dijelaskan oleh sains konvensional. Namun, takdir berkata lain—ia tidak pernah kembali ke masanya.

Batara hidup dalam bayang-bayang. Di Kota Zoukha dikenal sebagai seorang guru seni yang memiliki acara tv yang diminati masyarakat. Namun dalam tugas jiwa, ia memenuhi panggilan nuraninya. Ia menyusun sejarah Kota Zoukha, menulisnya dengan nama samaran Yudha. Semua peristiwa, pembangunan, perubahan, dan misteri kota ini telah ia dokumentasikan. Namun, ada lembaran-lembaran yang dihilangkan dalam manuskripnya—disengaja, dihapus, disembunyikan. Ia tahu bahwa tidak semua rahasia boleh menjadi konsumsi publik. Dokumen itu ditinggalkan di Pusat Arsip Kota. Sebuah Dokumen Sejarah yang tidak terdata. Diletakkan di antara dokumen arsip sejarah.

Tak ada yang tahu bahwa Batara adalah saksi atas anomali waktu yang telah mempersembahkan Kota Zoukha seperti sekarang. Ia memahami keempat titik anomali waktu: Pasar Sungai Emas, Menara Jam Zoukha, Lorong Bawah Tanah Stasiun Tua, dan Reruntuhan Kota Lama. Semua titik itu adalah simpul-simpul yang merajut garis waktu kota ini, menjaga kestabilannya. Jika satu simpul terurai, seluruh struktur waktu bisa runtuh. Dia juga tahu siapa aktor kunci anomali waktu Kota Zoukha.

Namun kini, segalanya berubah.

Batara telah mengamati pergerakan Apple 2050 selama bertahun-tahun, tanpa pernah benar-benar terdeteksi. Ia tahu Apple memiliki kekuatan untuk menjaga atau meruntuhkan kota ini. Tapi mengapa sekarang Apple memutuskan untuk kembali ke waktu asalnya? Bukankah ini adalah puncak dari segala perjuangannya? Kota Zoukha yang hijau, cerdas, dan bebas dari bencana adalah impiannya. Kota yang budayanya maju dengan masyarakat yang sejahtera. Lalu, mengapa justru sang pencipta tatanan yang begitu harmoni ini ingin melenyapkannya?

Batara menghela napas panjang. Dalam kebisuannya, ia berdebat dengan dirinya sendiri.

“Apakah ini keputusan yang benar, Apple?”

“Aku telah melihat kota ini tumbuh, dari reruntuhan menjadi surga dunia. Aku telah melihat masyarakatnya hidup dalam kesejahteraan. Tidak ada kemiskinan, tidak ada ketimpangan, tidak ada kehancuran.”

“Lalu, kau ingin semuanya kembali ke kondisi semula? Kembali pada ketidakpastian? Kembali pada masa di mana harapan masih samar?”

Namun, di dalam hatinya, Batara juga memahami sesuatu yang lebih dalam. Kota Zoukha memang sempurna, tetapi kehidupan bukan hanya tentang mencapai kesempurnaan. Kehidupan adalah perjalanan, proses yang harus dijalani dengan segala tantangan dan pengorbanannya.

Jika semua sudah sempurna, maka tidak ada lagi perjuangan. Dan tanpa perjuangan, manusia kehilangan makna sejati dari kehidupan itu sendiri.

Ia menatap langit malam yang mulai menaungi kota. Bintang-bintang bersinar terang, seolah menjadi saksi atas segala pergulatan batinnya.

“Mungkin Apple benar. Mungkin ini adalah jalannya. Kota Zoukha memang indah, tetapi dunia di luar sana masih membutuhkan perjuangan. Jika ini adalah keputusan Apple, maka aku akan menerima.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Batara membiarkan takdir mengambil alih. Ia menyerahkan semuanya pada waktu, pada Apple 2050 yang kini berada di Control Building, dan pada anomali yang akan segera menentukan nasib Kota Zoukha.

Dari rumahnya di puncak bukit yang hijau, ia tersenyum tipis.

“Semoga kau membuat keputusan yang tepat, Apple.” (Bersambung)

_______________


 

No comments:

Post a Comment