APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 9
PENONTON DAN PENJAGA GERBANG WAKTU
Arman menatap peta
Kota Zoukha sekali lagi, matanya terpaku pada titik-titik yang kini berpendar
samar. Pria berkemeja hitam panjang berdiri di sampingnya, diam-diam mengamati
dengan cermat.
"Ada empat
titik di kota ini yang menjadi kunci gerbang waktu," kata pria berkemeja
hitam, suaranya nyaris seperti bisikan. "Empat jalur yang menghubungkan
masa lalu dan masa depan. Jika mereka dapat bertemu di dua lokasi saja, maka kita
kehilangan kendali. Mereka kembali ke waktu asalnya, dan kita musnah bersama
kota ini. Apalagi jika Apple berhasil mengendalikan Control Building."
Arman mengangguk.
Ia sudah tahu tentang titik-titik itu—lokasi-lokasi anomali yang tidak pernah
bisa dijelaskan dengan logika biasa.
1. Pasar
Sungai Emas
2. Menara Jam Zoukha
3. Lorong Bawah Tanah Stasiun
Tua, di sini terletak Control Building.
4. Reruntuhan Kota Lama
Setiap tempat itu
memiliki sejarah aneh—orang-orang yang menghilang tanpa jejak, benda-benda dari
zaman lain yang tiba-tiba muncul, dan yang paling gila, saksi mata yang melihat
bayangan orang-orang berpakaian dari masa lalu berjalan dari sana dan muncul di
tengah kota. Hanya bayangan.
"Jika orang
dari masa lalu dan masa kini bertemu di tempat-tempat ini, lapisan waktu akan
runtuh," lanjut pria berkemeja hitam panjang. "Dan kita tidak bisa
membayangkan bencana apa yang terjadi setelahnya."
Arman menghela
napas. Ia tahu bahwa ini bukan sekadar mencegah pertemuan biasa—ini adalah
perang melawan sesuatu yang lebih besar dari mereka.
"Aku akan
menangani Pasar Sungai Emas dan Menara Jam Zoukha," kata Arman. "Kau
tangani dua tempat lainnya. Kita cegah mereka sampai ke sana."
Pria berkemeja hitam
panjang menoleh ke arahnya, matanya berkilat dalam kegelapan. "Tidak
semudah itu," katanya. "Kita bukan satu-satunya yang tahu tentang
ini."
Arman menegang.
"Maksudmu?"
"Ada yang
menginginkan mereka bertemu," kata pria berjubah hitam. "Ada yang
menginginkan batasan ini runtuh."
Arman membelalakkan
mata. "Siapa?"
Pria berkemeja hitam
panjang mengangkat satu tangan, dan dalam sekejap, bayangan di ruangan itu
bergerak. Dari dalam kegelapan, muncul siluet seseorang—sesosok pria dengan
mata tajam dan senyum samar namun tetap terlihat bijaksana.
"Kau?"
suara Arman tercekat.
Sosok itu melangkah
maju, cahaya remang-remang menyorot wajahnya. Arman mengenalnya—seseorang dari
masa lalu yang seharusnya sudah lama menghilang.Kini ada di hadapannya.
"Aku hanya
ingin melihat apa yang terjadi jika kita membiarkan mereka bertemu,"
katanya dengan suara pelan. "Kau tak ingin tahu bagaimana akhirnya semua
ini?"
Arman mengepalkan
tangan. Ini bukan lagi sekadar misi untuk menjaga keseimbangan. Ini adalah
permainan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.
"Jika kau
mengacaukan ini..." Arman menatap sosok itu tajam. "Kau tahu
akibatnya."
Pria berkemeja
hitam panjang tetap diam, tetapi ada ketegangan yang jelas di antara mereka
bertiga.
"Baiklah,"
kata sosok itu akhirnya, mengangkat bahunya seolah tidak peduli. "Mari
kita lihat siapa yang lebih dulu mencapai mereka. Juga akan ke arah manakah
takdir menuju."
Dan dalam sekejap, ia menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan Arman dan pria berkemeja hitam panjang dengan rencana mereka yang kini harus dipercepat—sebelum semuanya terlambat.(Bersambung)
_______________
No comments:
Post a Comment