Sunday, March 2, 2025

BAGIAN 9: PENONTON DAN PENJAGA GERBANG WAKTU

 APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota

Bagian 9

PENONTON DAN PENJAGA GERBANG WAKTU

Arman menatap peta Kota Zoukha sekali lagi, matanya terpaku pada titik-titik yang kini berpendar samar. Pria berkemeja hitam panjang berdiri di sampingnya, diam-diam mengamati dengan cermat.

"Ada empat titik di kota ini yang menjadi kunci gerbang waktu," kata pria berkemeja hitam, suaranya nyaris seperti bisikan. "Empat jalur yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Jika mereka dapat bertemu di dua lokasi saja, maka kita kehilangan kendali. Mereka kembali ke waktu asalnya, dan kita musnah bersama kota ini. Apalagi jika Apple berhasil mengendalikan Control Building."

Arman mengangguk. Ia sudah tahu tentang titik-titik itu—lokasi-lokasi anomali yang tidak pernah bisa dijelaskan dengan logika biasa.

1. Pasar Sungai Emas
2. Menara Jam Zoukha
3. Lorong Bawah Tanah Stasiun Tua, di sini terletak Control Building.
4. Reruntuhan Kota Lama

Setiap tempat itu memiliki sejarah aneh—orang-orang yang menghilang tanpa jejak, benda-benda dari zaman lain yang tiba-tiba muncul, dan yang paling gila, saksi mata yang melihat bayangan orang-orang berpakaian dari masa lalu berjalan dari sana dan muncul di tengah kota. Hanya bayangan.

"Jika orang dari masa lalu dan masa kini bertemu di tempat-tempat ini, lapisan waktu akan runtuh," lanjut pria berkemeja hitam panjang. "Dan kita tidak bisa membayangkan bencana apa yang terjadi setelahnya."

Arman menghela napas. Ia tahu bahwa ini bukan sekadar mencegah pertemuan biasa—ini adalah perang melawan sesuatu yang lebih besar dari mereka.

"Aku akan menangani Pasar Sungai Emas dan Menara Jam Zoukha," kata Arman. "Kau tangani dua tempat lainnya. Kita cegah mereka sampai ke sana."

Pria berkemeja hitam panjang menoleh ke arahnya, matanya berkilat dalam kegelapan. "Tidak semudah itu," katanya. "Kita bukan satu-satunya yang tahu tentang ini."

Arman menegang. "Maksudmu?"

"Ada yang menginginkan mereka bertemu," kata pria berjubah hitam. "Ada yang menginginkan batasan ini runtuh."

Arman membelalakkan mata. "Siapa?"

Pria berkemeja hitam panjang mengangkat satu tangan, dan dalam sekejap, bayangan di ruangan itu bergerak. Dari dalam kegelapan, muncul siluet seseorang—sesosok pria dengan mata tajam dan senyum samar namun tetap terlihat bijaksana.

"Kau?" suara Arman tercekat.

Sosok itu melangkah maju, cahaya remang-remang menyorot wajahnya. Arman mengenalnya—seseorang dari masa lalu yang seharusnya sudah lama menghilang.Kini ada di hadapannya.

"Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi jika kita membiarkan mereka bertemu," katanya dengan suara pelan. "Kau tak ingin tahu bagaimana akhirnya semua ini?"

Arman mengepalkan tangan. Ini bukan lagi sekadar misi untuk menjaga keseimbangan. Ini adalah permainan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.

"Jika kau mengacaukan ini..." Arman menatap sosok itu tajam. "Kau tahu akibatnya."

Pria berkemeja hitam panjang tetap diam, tetapi ada ketegangan yang jelas di antara mereka bertiga.

"Baiklah," kata sosok itu akhirnya, mengangkat bahunya seolah tidak peduli. "Mari kita lihat siapa yang lebih dulu mencapai mereka. Juga akan ke arah manakah takdir menuju."

Dan dalam sekejap, ia menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan Arman dan pria berkemeja hitam panjang dengan rencana mereka yang kini harus dipercepat—sebelum semuanya terlambat.(Bersambung)

_______________

 



No comments:

Post a Comment