APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 6
MENCARI APPLE
Sesuatu yang Aneh Telah Terjadi
Bryan
berdiri di depan rumah keluarga Apple, perasaan gelisah menggantung di dadanya.
Sudah dua hari ia kehilangan kontak dengan Apple, dan perasaan aneh bahwa
sesuatu yang besar telah terjadi terus mengusiknya. Ia mengetuk pintu rumah,
tetapi tidak ada jawaban. Setelah beberapa saat, pintu terbuka dan muncul Jo,
pengurus rumah keluarga Apple.
"Bryan, akhirnya kau datang. Apple beserta Bapak dan
Ibu... mereka sudah 2 hari tidak ada di sini. Aku juga tidak tahu ke mana
mereka pergi," ucap Jo dengan nada ragu.
Tanpa membuang waktu, Jo mengantarkan Bryan ke ruang kerja
Apple, sebuah ruang kerja arsitek yang tertata rapi. Di sana ada sketsa desain,
skema, dan beberapa maket penting. Ruangan itu rapi, ada rak buku dengan koleksi
buku dari berbagai genre. Namun, sesuatu menarik perhatiannya—sebuah novel
berjudul 'Apple 2050' terbuka di sudut baca yang berada di dalam ruang kerja.
Novel itu tampak familiar, judulnya sama dengan yang pernah Apple sebut
beberapa hari sebelum menghilang. Dengan perasaan penasaran bercampur curiga,
Bryan mengambilnya dan mulai membaca.
Belum setengah menit membolak balik halaman novel itu, tiba-tiba,
ruangan di sekelilingnya berputar. Ia merasa tubuhnya ringan, seperti ditarik
oleh kekuatan tak terlihat. Angin dingin menerpa wajahnya, dan dalam sekejap,ia
tidak lagi berada di ruang kerja Apple.
Secepat kilat Bryan tiba-tiba telah berada di tempat dengan
suasana sekitar seperti di tempat yang pernah di kenalnya, tapi kini terasa asing.
Di seberang jalan, di hadapannya terbentang sebuah pasar yang bergaya klasik
kotanya, sangat modern dan futuristik, pasar yang rapi dengan konsep arsitektur
hijau. Bangunan pasar dihiasi taman vertikal dan atap hijau yang memanen
matahari, sementara pencahayaan holografis memberikan suasana yang harmonis
antara teknologi dan alam. Di sekitarnya nampak manusia lalu lalang, beberapa robot
kecil terlihat membantu manusia untuk berbagai keperluan, dan kemudian beberapa
kendaraan tanpa sopir melintas di depannya dengan hening.
Ia berdiri di tepi sungai yang berkilauan keemasan—ia sangat
mengenal sungai ini. Sungai Emas. Airnya bening dengan pantulan cahaya yang
hampir magis, Bryan dapat melihat ikan-ikan berenang di bawah permukaan sungai.
Aroma makanan khas yang masih terasa asing baginya tetapi menggoda selera, aroma
ini berasal dari gerai-gerai terapung di Sungai Emas.
Bryan terengah-engah, berusaha memahami apa yang terjadi.
"Apple... di mana kau?. Aku di mana?" gumamnya, perasaan panik mulai
merayapi pikirannya. Apakah ini dunia yang sama dengan yang dilihat Apple? Ia
seperti mengenali kawasan ini namun dengan suasana yang sangat jauh berbeda.
Di Kota yang Sama pada Waktu Berbeda
Bryan
terengah-engah, berusaha memahami apa yang terjadi. "Apple... Apple…di
mana kau?" kembali ia bergumam, perasaan panik mulai merayapi pikirannya.
Apakah ini dunia yang sama dengan yang dilihat Apple?
Ia melangkah dengan hati-hati, menyeberangi jalan di
depannya, dan memasuki pasar yang sangat bersih. Matanya menelusuri setiap
sudut pasar yang terasa begitu hidup dengan berbagai aktivitas jual beli, namun
suasana ini masih asing baginya. Kapan pasar ini dibangun? Sebuah layar
holografis raksasa menampilkan berita terbaru, dan Bryan mencoba mencari tahu
apakah ada sesuatu yang bisa membantunya memahami dunia baru ini. Di antara
lalu lalang orang-orang, ia melihat sesosok wanita dengan rambut panjang dan
pakaian atas putih dengan rok hijau panjang berjalan dengan cepat melewati
kerumunan. Mengikuti sosok wanita di depannya yang terlihat lebih tua.
Jantung Bryan berdegup kencang. Itu... mirip sekali dengan
Apple!
Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari mengejarnya.
"Apple!" serunya, berharap wanita itu menoleh. Namun, tepat saat ia
hampir mendekat, sekelompok drone kecil melintas di depannya, menghalangi
pandangan.
Ketika akhirnya ia berhasil melewati kerumunan, sosok wanita
itu telah menghilang di antara bangunan sekitar yang juga bernuansa klasik
modern. Bryan berdiri terpaku, napasnya memburu. Apakah itu benar-benar Apple?
Ataukah hanya ilusi di tengah kebingungannya?
Ia sadar, ia harus mencari jawaban. Dan ia harus
menemukannya sebelum semuanya terlambat.
Saat ia masih berdiri termenung atas kejadian yang
menimpanya, matanya tertuju pada layar lebar lainnya yang menampilkan siaran
berita. Dengan suara yang tenang tetapi tegas, penyiar holografis mengumumkan:
"Hari ini, sistem pendeteksi Kota Zoukha melaporkan keberadaan Kapal
Pesiar Aurora yang membawa Apple dan keluarganya. Namun, kapal tersebut
tiba-tiba menghilang kembali di tengah Teluk Emas, meninggalkan misteri yang
belum terpecahkan."
Bryan terpaku. Kota Zoukha? Berarti ini kota tempat ia
tinggal! Namun, saat ini tahun 2050. Dia melihat tanggal digital yang tercantum
di layar yang juga memuat jam saat ini. Bagaimana mungkin? Apa yang sebenarnya
terjadi pada Apple dan keluarganya? juga pada dirinya? Kini ia semakin yakin
bahwa ia harus menemukan jawabannya, dan harus secepat mungkin.
Dengan
masih penuh tanda tanya, Bryan keluar dari kawasan pasar dan mulai menyusuri
tepi Sungai Emas. Airnya begitu bersih, berkilauan di bawah cahaya matahari
yang menyinari dengan lembut melalui lapisan kaca transparan yang melindungi
trotoar. Ia mendadak mengagumi bagaimana tata kota Zoukha telah berkembang
dengan luar biasa. Bangunan-bangunan klasik yang tinggi dengan desain ekologis,
disertai panel surya yang memanen matahari ada pada atap tiap bangunan dan
taman vertikal yang menjalar di dinding. Trotoar yang ia pijak dilapisi dengan
material cerdas yang mampu menyerap panas dan mengubahnya menjadi energi.
Bryan berjalan perlahan, matanya terpaku pada setiap detail
di sekitarnya. Di sini udara terasa begitu segar, seolah-olah kota ini
benar-benar telah menyatu dengan alam tanpa mencemari lingkungan. Kendaraan
yang melintas tidak mengeluarkan suara bising, hanya desiran lembut angin yang
berhembus di antara pepohonan yang menghasilkan oksigen murni.
Masih di tepi sungai, ia memasuki sebuah kawasan permukiman.
Area ini tampak lebih familiar—tempat di mana rumah Apple seharusnya berada. Itu
dia! Rumah berwarna putih itu terlihat lebih kekinian namun tetap alami, dengan
desain minimalis berbasis material daur ulang dan jendela besar yang
memantulkan langit biru. Bryan memasuki halaman yang pagarnya terbuka secara
otomatis ketia ia sampai di depannya. Bryan menapak masuk ke teras rumah dan
berjalan menuju pintu rumah. Pintu rumah
tampak canggih, dengan sensor pemindai identitas di sampingnya.
Saat Bryan mendekati pintu, tiba-tiba pintu rumah otomatis terbuka,
memperlihatkan dua sosok yang sangat ia kenal—orang tua Apple! Wajah mereka
tampak tidak berubah, seolah-olah tetap berada di usia mereka di tahun asal.
"Bryan, akhirnya kau datang," ucap ayah Apple
dengan nada lega.
Mereka mengajak Bryan duduk di teras rumah yang menghadap ke
Sungai Emas. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga dari taman di sekitar rumah.
Dengan nada penuh misteri, ibu Apple mulai bercerita tentang perjalanan aneh
mereka dan bagaimana mereka tiba di tahun 2050.
"Kami tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tetapi
saat istirahat 2 malam yang lalu tiba-tiba semuanya berubah. Kami berada di
kota yang sama, tetapi di waktu yang berbeda," jelas ayah Apple.
Bryan mendengarkan dengan saksama. "Dan Apple? Di mana
dia sekarang?"
Ibu Apple tersenyum tipis. "Apple sedang menelusuri
Kota Zoukha. Dia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang
kelak harus kita lakukan. Dia percaya pasti ada alasan mengapa kita semua
berada di sini."
Bryan menatap Sungai Emas yang membentang di hadapan mereka.
Ia tahu, petualangan mereka baru saja dimulai.
Saat ini
mereka telah pindah duduk di ruang tamu. Tiba-tiba, dari luar terdengar suara
langkah tergesa-gesa. Pintu rumah terbuka secara misterius, dan di ambangnya
berdiri dua sosok lain—Gio dan Fiskha. Wajah mereka pucat, mata mereka melebar
dengan kebingungan.
"Bryan? Apa yang terjadi? Di mana kita?" tanya
Fiskha dengan suara gemetar.
Gio memegang kepalanya, mencoba memahami kenyataan yang baru
saja mereka alami. "Aku... Aku ingat kita berada di ruang baca Apple. Lalu
tiba-tiba... ini terjadi.Novel itu…"
Bryan menatap mereka dengan tegang. Sekarang, lebih banyak
pertanyaan bermunculan, dan misteri yang mereka hadapi semakin dalam.
_______________
Di Kapal Pesiar Aurora
Di
atas Kapal Pesiar Aurora, Apple muda duduk dengan perasaan tidak menentu. Di
hadapannya duduk Apple 2050—versi dirinya yang lebih tua. Versi dirinya saat
ini. Ia mencoba mencerna kenyataan bahwa dirinya telah bertemu dengan versi
dirinya sendiri yang lebih dewasa, lebih matang, dan tampak terlalu tenang.
"Apple, ini saatnya kau tahu apa yang akan terjadi di
masa depan," ujar Apple yang lebih tua dengan nada lembut. “Mari ikut aku!”
Apple muda mengikuti langkahnya memasuki ruang keluarga di kapal pesiar. Ruang keluarga itu begitu modern dan nyaman. Dinding ruang
dilapisi layar interaktif yang menampilkan pemandangan laut yang tenang, ruang
ini dilengkapi furnitur elegan yang
didesain secara futuristik dan memberikan nuansa mewah namun tetap nyaman. Di
tengah ruangan, duduklah Bryan, kedua orang tua mereka, dan—yang lebih
mengejutkan lagi—di sana ada dua anak mereka yang telah dewasa.
Apple muda terdiam, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat
ke arah Bryan, yang menatapnya dengan sorot mata penuh keheranan.
"Ini... ini benar-benar masa depan?" tanya Apple
muda dengan suara bergetar.
Bryan berdiri dan menelan ludah, sementara Apple versi yang
lebih tua tersenyum tipis. "Ya, dan sekarang kau harus memutuskan, Apple.
Apa yang kau lihat di sini bukan sekadar gambaran, ini adalah kenyataan yang
akan kau jalani kelak. Sekarang putuskanlah bahwa kau harus kembali ke tahun
asalmu. Cita-citamu pasti akan berhasil walau dengan perjuangan yang berat. Kau
kelak akan menikah dengan Bryan dan memiliki 2 orang anak yang cerdas, cantik
dan gagah. Saat itu, aku seharusnya lebih sabar untuk terus berjuang pada waktu
yang normal. Namun ketidaksabaran telah mengantarku ke sini."
Apple muda merasakan gelombang emosi yang luar biasa. Di
hadapannya, masa depan kini terhampar dengan segala kejutan yang belum pernah
ia bayangkan sebelumnya.(Bersambung)
_______________
No comments:
Post a Comment