Wednesday, March 19, 2025

BAGIAN 1: MATAHARI DAN KEPUTUSAN BESARNYA

 

_____________________________________


Sebuah Novel Penyuluhan untuk Pembentukan Karakter 
"Misteri di Sekolah Kejujuran"


Bagian 1
Matahari dan Keputusan Besarnya

Suasana malam di Kota Zoukha terasa damai. Angin sejuk berembus dari arah sungai, membawa aroma khas air jernih yang mengalir di bawah Restoran Sungai Emas. Di lantai atas restoran, keluarga Profesor Halley sedang menikmati makan malam bersama. Mereka makan malam di restoran mereka sendiri. Restoran yang dikelola Ibu Lyra, ibu dari Matahari dan Altair.

Matahari duduk di antara ayah dan kakaknya, sementara ibunya sibuk menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk mereka. Meja makan dipenuhi hidangan favorit keluarga—ikan bakar, sayur tumis, dan roti gandum yang baru saja keluar dari oven.

Malam itu, mereka berkumpul bukan sekadar untuk menikmati makanan, tetapi untuk membahas keputusan besar yang akan diambil oleh Matahari.

“Jadi, bagaimana menurutmu, Matahari? Apa kamu sudah yakin ingin bersekolah di Sekolah Kejujuran?” tanya Profesor Halley, menatap putrinya dengan penuh perhatian.

Matahari menggigit ujung sumpitnya, ragu-ragu sebelum menjawab. “Aku masih memikirkannya, Ayah. Sekolah ini akan sangat berbeda dari yang lain, kan?”

Ibu Lyra tersenyum sambil meletakkan sendoknya. “Tentu saja berbeda, Sayang. Sekolah ini bukan hanya tentang akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter. Kamu akan menghadapi banyak tantangan. Apakah kamu siap untuk itu?”

Altair, kakaknya, yang sejak tadi diam sambil menyendok nasi, akhirnya angkat bicara. “Aku salut kalau kamu berani ikut, Matahari. Tapi jangan anggap enteng. Aku dengar, sekolah ini akan menguji integritas setiap siswanya dalam berbagai situasi. Kamu harus siap menghadapi ujian yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.”

Matahari menarik napas dalam, lalu meletakkan sumpitnya. “Itu yang aku khawatirkan, Kak. Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku mengecewakan Ayah dan Ibu?”

Profesor Halley tersenyum lembut. “Kejujuran itu bukan tentang tidak pernah gagal, Matahari. Tapi tentang bagaimana kita menghadapi kegagalan dengan benar. Di sekolah ini, kamu akan belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses, asalkan kamu berani mengakuinya dan belajar darinya.”

Matahari terdiam. Ia menatap ibunya yang mengangguk penuh dukungan, lalu beralih ke kakaknya yang menatapnya dengan ekspresi serius.

“Aku percaya kamu bisa,” kata Altair akhirnya. “Aku tahu kamu punya prinsip yang kuat, dan cocok berada di sekolah itu. Kamu akan menjadi bagian dari angkatan pertama Sekolah Kejujuran.”

Matahari menghembuskan napas pelan. Di satu sisi, ia merasa takut. Namun di sisi lain, ada rasa penasaran dan semangat yang perlahan menyala di dalam dirinya.

Ia menatap ayahnya,ibunya, dan Altair, disertai senyum kecil. “Baiklah, Ayah, Ibu, dan kak Altair. Aku akan masuk ke Sekolah Kejujuran.”

Ibunya tersenyum bangga, sementara ayahnya mengangguk mantap.

“Itu satu keputusan yang berani, Matahari. Aku yakin ini akan menjadi perjalanan yang luar biasa untukmu.” Ibu Lyra mengusap rambut Matahari.

Di luar jendela, langit Kota Zoukha mulai dipenuhi cahaya bintang. Air Sungai Emas yang mengalir di bawah restoran berkilauan diterpa sinar lampu. Malam itu, Matahari telah mengambil langkah pertamanya menuju masa depan yang penuh tantangan—sebuah perjalanan yang akan menguji kejujurannya dalam cara yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

 _______________ (B e r s a m b u n g)








No comments:

Post a Comment