APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 8
BAYANGAN DI BALIK KOTA ZOUKHA
Arman menyipitkan
mata, jari-jarinya perlahan mengikuti garis-garis di peta Kota Zoukha yang
terbentang di layar yang terletak di atas meja kayu besar dengan desain moderen. Cahaya redup dari
lampu meja menciptakan bayangan samar di ruangan itu, menambah kesan misterius
pada segala sesuatu di sekitarnya. Dia tengah berpikir keras dan membutuhkan
suasana seperti ini.
Di peta holografis itu,
ada sesuatu yang mengganggunya. Ia telah mempelajari pola aneh ini selama
bertahun-tahun, tetapi baru sekarang ia menemukan sebuah keterkaitan yang
selama ini tersembunyi. Garis-garis yang tampak seperti jaringan jalan ternyata
bukan sekadar rute transportasi biasa—mereka membentuk simbol tertentu, sesuatu
yang mengarah pada fenomena yang lebih besar.
"Apa
ini...?" gumamnya.
Tanda-tanda itu
bukan sekadar kebetulan. Beberapa titik merah kecil yang ia lingkari dengan
tinta hitam terhubung dalam formasi tertentu—pusat-pusat anomali di mana
kejadian aneh sering terjadi. Salah satu titik paling terang berada di seberang
Sungai Emas, tepat di area pasar, titik itu baru saja muncul dengan jelas.Berkedip-kedip.
Sebuah suara berat
dan dalam memecah keheningan.
"Kau mulai
melihatnya, bukan?"
Arman mendongak. Di
sudut ruangan, di antara bayangan yang panjang, berdiri sosok pria berkemeja
hitam hampir menyerupai jubah. Wajahnya tertutup sebagian oleh tudung gelap,
hanya memperlihatkan dagu yang tegas dengan sedikit janggut putih yang rapi. Ia
muncul begitu saja, seolah-olah menyatu dengan kegelapan.
Arman tidak
terkejut. Ia sudah menduga pria ini akan datang.
"Aku tahu kau
terlibat dalam semua ini," kata Arman dengan suara datar, tangannya
mengepal di atas meja. "Kau tahu tentang anomali waktu di Kota Zoukha
lebih dari siapa pun, bukan?"
Pria yang baru
datang itu tidak langsung menjawab. Ia melangkah perlahan mendekat, ujung kemejanya
yang panjang terlihat berayun dengan lembut.
"Aku bukan
penyebabnya," katanya dengan nada tenang. "Aku hanya penjaga
keseimbangan."
Arman mengerutkan
kening. "Keseimbangan?"
Pria itu menghela
napas, lalu mengangkat tangannya ke arah peta. Saat itu juga, garis-garis di
peta tampak berpendar samar, seolah-olah ada energi yang mengalir di dalamnya.
"Kota ini...
bukan sekadar kota biasa," lanjut pria itu. "Ia dibangun di atas
fondasi yang lebih tua dari yang kau kira. Ada sesuatu yang tersembunyi di
bawahnya, sesuatu yang telah menunggu selama berabad-abad untuk bangkit
kembali."
Arman merasa
tenggorokannya mengering.
"Dan
sekarang... mereka yang tak seharusnya ada di sini sudah mulai terlibat."
Arman tahu siapa
yang dimaksud pria itu. Apple. Bryan. dan orang-orang yang tanpa sadar terseret
ke dalam pusaran waktu yang tidak seharusnya mereka sentuh.
Pria itu melirik
peta sekali lagi, lalu menatap Arman dengan sorot mata tajam yang penuh arti.
"Waktunya
semakin dekat."
Arman mengepalkan
tangan. Jika semua ini benar, maka bencana atau keajaiban bisa saja terjadi di
Kota Zoukha. Dan ia harus memilih—tetap diam sebagai pengamat, atau akhirnya
turun tangan dalam permainan ini.
Cahaya redup dari
lampu meja berpendar lembut di atas peta Kota Zoukha, menyoroti jalur-jalur
yang kini terlihat berpendar samar. Arman menatap pria itu dengan tatapan penuh
selidik.
"Kau bilang
ini tentang keseimbangan," kata Arman, suaranya nyaris berbisik.
"Tapi kenyataannya, kita semakin kehilangan kendali, bukan?"
Pria berkemeja panjang
berwarna hitam menatap peta itu, lalu mengangguk pelan. "Bukan hanya
kehilangan kendali... tapi kita di ambang bencana. Mereka yang tak seharusnya
bertemu sedang menuju ke arah yang sama. Jika mereka bertemu, masa kini dan
masa lalu-"
"—Maka batas
waktu akan runtuh," potong Arman.
Pria berkemaja
hitam panjang menghela napas, lalu menarik kursi di seberang meja dan duduk perlahan.
Wajahnya masih tersembunyi di balik bayangan tudung, tapi nada suaranya
terdengar lebih tegas.
"Kau tahu
tentang orang-orang masa lalu yang terjebak di sini, bukan?" katanya.
"Mereka sudah terlalu lama mencari jalan pulang. Tapi mereka tidak boleh
bertemu dengan yang datang dari masa kini. Itu akan menjadi pemicu
ketidakseimbangan terbesar yang pernah ada."
Arman mengetuk
permukaan meja dengan ujung jarinya, berpikir. "Lalu bagaimana dengan
Apple dan Bryan?" tanyanya. "Apa mereka hanya kebetulan masuk ke
dalam anomali ini, atau—"
"Tidak ada
yang kebetulan," potong pria itu. "Mereka ditarik ke sini karena
sesuatu yang lebih besar. Kota ini... memilih mereka."
Arman menegang.
"Memilih?"
"Kota Zoukha
bukan sekadar kota biasa," pria itu melanjutkan. "Kau tahu
sejarahnya, kan? Kota ini dibangun di atas lapisan waktu yang saling bertumpuk.
Ada yang datang dari masa lalu, ada yang datang dari masa depan. Tapi semuanya
tetap ada di sini... semua terjebak."
Arman menarik napas
dalam. Ia sudah lama menduga ada sesuatu yang lebih besar tentang Kota Zoukha,
tapi ia tak pernah menyangka bahwa kota ini dapat memilih siapa yang boleh datang dan siapa yang harus
tetap tinggal.
"Kau ingin aku
membantumu mencegah pertemuan mereka?" tanya Arman.
Pria berjubah hitam
mengangguk. "Ya. Jika Apple dan Bryan bertemu dengan orang-orang yang
berasal dari masa lalu di tempat yang tepat, maka seluruh sistem ini akan
hancur. Lapisan waktu akan runtuh, dan kita tak bisa lagi mengontrol siapa yang
masuk dan siapa yang keluar."
Arman berpikir
sejenak, lalu bertanya, "Dan jika itu terjadi... apakah akan ada jalan
keluar bagi mereka?"
Pria berjubah hitam
terdiam. Lalu, setelah beberapa detik, ia berkata pelan, "Yang terjadi
kita semua akan musnah, dan waktu berjalan normal kembali. Semua akan kembali
dalam waktu yang sebenarnya. Kembali ke tempat asalnya. Namun tidak dengan
kita. Kita bukan berasal dari Kota Zoukha. Entahlah nanti kita berada di mana.
Atau tidak ada sama sekali."
Arman mengepalkan
tangan. Ia tidak ingin menjadi bagian dari permainan ini, tapi kini ia sadar
bahwa ia sudah terlalu dalam terjebak di Kota Zoukha dan baginya sangat
membahagiakan berada di sini.
"Baik,"
katanya akhirnya. "Katakan apa yang harus kulakukan."
Pria berkemeja
hitam panjang menoleh ke arah jendela, menatap jauh ke luar sana—ke arah Sungai
Emas yang berkilauan dalam cahaya malam.
"Kita harus
menemukan mereka yang baru saja sampai di kota ini. Intinya cegah pertemuan Apple
dan Bryan masa lalu dengan Apple dan Bryan saat ini. Cegah mereka sampai ke
titik-titik anomali sebelum semuanya terlambat. Atau kita akan musnah bersama
kota ini." (Bersambung)
_______________
No comments:
Post a Comment