Sunday, March 2, 2025

BAGIAN 8: BAYANGAN DI BALIK KOTA ZOUKHA

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota

 


Bagian 8

BAYANGAN DI BALIK KOTA ZOUKHA


Arman menyipitkan mata, jari-jarinya perlahan mengikuti garis-garis di peta Kota Zoukha yang terbentang di layar yang terletak di atas meja kayu besar dengan desain moderen. Cahaya redup dari lampu meja menciptakan bayangan samar di ruangan itu, menambah kesan misterius pada segala sesuatu di sekitarnya. Dia tengah berpikir keras dan membutuhkan suasana seperti ini.

Di peta holografis itu, ada sesuatu yang mengganggunya. Ia telah mempelajari pola aneh ini selama bertahun-tahun, tetapi baru sekarang ia menemukan sebuah keterkaitan yang selama ini tersembunyi. Garis-garis yang tampak seperti jaringan jalan ternyata bukan sekadar rute transportasi biasa—mereka membentuk simbol tertentu, sesuatu yang mengarah pada fenomena yang lebih besar.

"Apa ini...?" gumamnya.

Tanda-tanda itu bukan sekadar kebetulan. Beberapa titik merah kecil yang ia lingkari dengan tinta hitam terhubung dalam formasi tertentu—pusat-pusat anomali di mana kejadian aneh sering terjadi. Salah satu titik paling terang berada di seberang Sungai Emas, tepat di area pasar, titik itu baru saja muncul dengan jelas.Berkedip-kedip.

Sebuah suara berat dan dalam memecah keheningan.

"Kau mulai melihatnya, bukan?"

Arman mendongak. Di sudut ruangan, di antara bayangan yang panjang, berdiri sosok pria berkemeja hitam hampir menyerupai jubah. Wajahnya tertutup sebagian oleh tudung gelap, hanya memperlihatkan dagu yang tegas dengan sedikit janggut putih yang rapi. Ia muncul begitu saja, seolah-olah menyatu dengan kegelapan.

Arman tidak terkejut. Ia sudah menduga pria ini akan datang.

"Aku tahu kau terlibat dalam semua ini," kata Arman dengan suara datar, tangannya mengepal di atas meja. "Kau tahu tentang anomali waktu di Kota Zoukha lebih dari siapa pun, bukan?"

Pria yang baru datang itu tidak langsung menjawab. Ia melangkah perlahan mendekat, ujung kemejanya yang panjang terlihat berayun dengan lembut.

"Aku bukan penyebabnya," katanya dengan nada tenang. "Aku hanya penjaga keseimbangan."

Arman mengerutkan kening. "Keseimbangan?"

Pria itu menghela napas, lalu mengangkat tangannya ke arah peta. Saat itu juga, garis-garis di peta tampak berpendar samar, seolah-olah ada energi yang mengalir di dalamnya.

"Kota ini... bukan sekadar kota biasa," lanjut pria itu. "Ia dibangun di atas fondasi yang lebih tua dari yang kau kira. Ada sesuatu yang tersembunyi di bawahnya, sesuatu yang telah menunggu selama berabad-abad untuk bangkit kembali."

Arman merasa tenggorokannya mengering.

"Dan sekarang... mereka yang tak seharusnya ada di sini sudah mulai terlibat."

Arman tahu siapa yang dimaksud pria itu. Apple. Bryan. dan orang-orang yang tanpa sadar terseret ke dalam pusaran waktu yang tidak seharusnya mereka sentuh.

Pria itu melirik peta sekali lagi, lalu menatap Arman dengan sorot mata tajam yang penuh arti.

"Waktunya semakin dekat."

Arman mengepalkan tangan. Jika semua ini benar, maka bencana atau keajaiban bisa saja terjadi di Kota Zoukha. Dan ia harus memilih—tetap diam sebagai pengamat, atau akhirnya turun tangan dalam permainan ini.

Cahaya redup dari lampu meja berpendar lembut di atas peta Kota Zoukha, menyoroti jalur-jalur yang kini terlihat berpendar samar. Arman menatap pria itu dengan tatapan penuh selidik.

"Kau bilang ini tentang keseimbangan," kata Arman, suaranya nyaris berbisik. "Tapi kenyataannya, kita semakin kehilangan kendali, bukan?"

Pria berkemeja panjang berwarna hitam menatap peta itu, lalu mengangguk pelan. "Bukan hanya kehilangan kendali... tapi kita di ambang bencana. Mereka yang tak seharusnya bertemu sedang menuju ke arah yang sama. Jika mereka bertemu, masa kini dan masa lalu-"

"—Maka batas waktu akan runtuh," potong Arman.

Pria berkemaja hitam panjang menghela napas, lalu menarik kursi di seberang meja dan duduk perlahan. Wajahnya masih tersembunyi di balik bayangan tudung, tapi nada suaranya terdengar lebih tegas.

"Kau tahu tentang orang-orang masa lalu yang terjebak di sini, bukan?" katanya. "Mereka sudah terlalu lama mencari jalan pulang. Tapi mereka tidak boleh bertemu dengan yang datang dari masa kini. Itu akan menjadi pemicu ketidakseimbangan terbesar yang pernah ada."

Arman mengetuk permukaan meja dengan ujung jarinya, berpikir. "Lalu bagaimana dengan Apple dan Bryan?" tanyanya. "Apa mereka hanya kebetulan masuk ke dalam anomali ini, atau—"

"Tidak ada yang kebetulan," potong pria itu. "Mereka ditarik ke sini karena sesuatu yang lebih besar. Kota ini... memilih mereka."

Arman menegang. "Memilih?"

"Kota Zoukha bukan sekadar kota biasa," pria itu melanjutkan. "Kau tahu sejarahnya, kan? Kota ini dibangun di atas lapisan waktu yang saling bertumpuk. Ada yang datang dari masa lalu, ada yang datang dari masa depan. Tapi semuanya tetap ada di sini... semua terjebak."

Arman menarik napas dalam. Ia sudah lama menduga ada sesuatu yang lebih besar tentang Kota Zoukha, tapi ia tak pernah menyangka bahwa kota ini dapat memilih siapa yang boleh datang dan siapa yang harus tetap tinggal.

"Kau ingin aku membantumu mencegah pertemuan mereka?" tanya Arman.

Pria berjubah hitam mengangguk. "Ya. Jika Apple dan Bryan bertemu dengan orang-orang yang berasal dari masa lalu di tempat yang tepat, maka seluruh sistem ini akan hancur. Lapisan waktu akan runtuh, dan kita tak bisa lagi mengontrol siapa yang masuk dan siapa yang keluar."

Arman berpikir sejenak, lalu bertanya, "Dan jika itu terjadi... apakah akan ada jalan keluar bagi mereka?"

Pria berjubah hitam terdiam. Lalu, setelah beberapa detik, ia berkata pelan, "Yang terjadi kita semua akan musnah, dan waktu berjalan normal kembali. Semua akan kembali dalam waktu yang sebenarnya. Kembali ke tempat asalnya. Namun tidak dengan kita. Kita bukan berasal dari Kota Zoukha. Entahlah nanti kita berada di mana. Atau tidak ada sama sekali."

Arman mengepalkan tangan. Ia tidak ingin menjadi bagian dari permainan ini, tapi kini ia sadar bahwa ia sudah terlalu dalam terjebak di Kota Zoukha dan baginya sangat membahagiakan berada di sini.

"Baik," katanya akhirnya. "Katakan apa yang harus kulakukan."

Pria berkemeja hitam panjang menoleh ke arah jendela, menatap jauh ke luar sana—ke arah Sungai Emas yang berkilauan dalam cahaya malam.

"Kita harus menemukan mereka yang baru saja sampai di kota ini. Intinya cegah pertemuan Apple dan Bryan masa lalu dengan Apple dan Bryan saat ini. Cegah mereka sampai ke titik-titik anomali sebelum semuanya terlambat. Atau kita akan musnah bersama kota ini." (Bersambung)

_______________


No comments:

Post a Comment