APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian
25
Pindah
ke Titik Anomali Lainnya
Pasar Sungai Emas semakin dipenuhi pasukan pengaman kota.
Lampu-lampu pemindai menyapu setiap sudut, menyoroti jalan-jalan dan
lorong-lorong sempit.
Bryan muda menatap dengan gelisah ke arah pusat titik
anomali, tempat mereka seharusnya berada. Namun, keadaan di depan mereka
terlalu berisiko. Jika mereka memaksa maju, semuanya bisa berakhir sebelum
mereka sempat mencapai tujuan.
Bryan versi 2050 berdiri sedikit di belakang, mengamati
dengan ekspresi tenang, seolah sudah mengantisipasi situasi ini. Kedua orang
tua Apple, baik versi 2025 maupun 2050, tampak saling bertukar pandang dengan
cemas.
“Kita tidak bisa ke sana,” bisik Bryan muda, mencoba mencari
solusi.
“Tapi ini satu-satunya jalur!” sahut Bryan 2050, meski suaranya
tetap tenang.
Bryan muda terdiam sejenak, lalu tiba-tiba sesuatu muncul di
benaknya. Sebuah ingatan samar—tentang sesuatu yang pernah disebutkan Apple
2050 sebelumnya. Sebuah jalan lain.
“Aku tahu jalan lain,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Tanpa menjelaskan lebih jauh, ia berbalik dan mulai bergerak cepat ke arah
timur, menjauh dari pasar dan mendekati deretan bangunan tua yang tertutupi
bayangan malam. Yang lain segera mengikuti, mempercayai naluri Bryan muda
sepenuhnya.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di depan sebuah tempat
yang tampak seperti tempat sampah berbentuk kotak besar di sudut jalan. Bryan
muda berlutut dan meraba-raba bagian bawahnya, mencari sesuatu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Mama Apple 2025 dengan nada
bingung.
Bryan tidak menjawab. Tangannya menyentuh sebuah permukaan
dingin dan datar, tidak seperti material logam biasa. Ia menarik napas dalam,
lalu mendorong sedikit. Seketika, benda itu bergeser, memperlihatkan lapisan
halogram berwarna biru yang berkedip-kedip.
Sebuah partisi halogram!
Bryan muda tersenyum tipis. Apple 2050 telah meninggalkan
petunjuk ini untuknya.
Ia menggerakkan tangannya ke udara, mencari panel
tersembunyi. Beberapa detik kemudian, layar holografik muncul, menampilkan
kode-kode kompleks yang mengambang di udara. Dengan cepat, ia menginput kode
yang ada di kepalanya—sebuah urutan angka dan simbol yang merupakan kode
rahasia mereka.
Hening sejenak.
Lalu, terdengar suara mendesis pelan.
Halogram biru memudar, membuka sebuah lorong gelap di bawahnya.
Sebuah tangga spiral mengarah ke bawah, menuju tempat yang belum pernah mereka
kunjungi sebelumnya.
“Kita harus cepat,” ucap Bryan muda, melirik ke arah pasar.
Dari kejauhan, pasukan pengaman mulai merayap lebih dekat.
Satu per satu, mereka turun ke dalam lorong, meninggalkan
jalanan yang semakin dipenuhi patroli keamanan. Begitu semua telah masuk, Bryan
menekan kembali panel holografik. Dalam sekejap, partisi halogram kembali
aktif, menyembunyikan pintu masuk.
Lorong itu panjang dan gelap, hanya diterangi oleh lampu-lampu
redup di sepanjang dinding. Dinding-dinding batu yang usang menunjukkan bahwa
ini bukan lorong biasa, melainkan bagian dari sejarah lama Kota Zoukha yang
terlupakan. Udara di dalamnya sejuk dan lembab, membawa aroma tanah yang
bercampur dengan bau logam tua.
“Kemana kita sekarang?” tanya Papa Apple 2025 dengan suara
pelan.
Bryan muda menyalakan perangkat pemindai kecil yang ia bawa.
Sebuah peta holografik muncul di udara, menunjukkan jalur lorong bawah tanah
ini.
“Reruntuhan Kota Lama,” jawabnya mantap. “Salah satu titik
anomali waktu yang tersisa.”
Mereka semua terdiam sejenak, memahami bahwa ini adalah
satu-satunya kesempatan mereka.
Tanpa berkata lagi, mereka melangkah lebih jauh dalam ke
lorong, sementara di atas sana, Kota Zoukha mau tak mau harus bersiap
menghadapi anomali waktu yang akan mengubah segalanya.(Bersambung)
_______________________
No comments:
Post a Comment