APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian
18
Petualangan
Berlanjut
Bryan versi 2050 dan keluarganya bergerak cepat menyusuri
Kota Zoukha yang diterangi cahaya matahari senja. Mereka tahu bahwa waktu
hampir habis. Stasiun Emas adalah satu-satunya jalan untuk mengembalikan waktu,
dan mereka harus segera tiba sebelum segalanya terlambat.
Sementara itu, Bryan muda baru saja keluar dari Pusat Arsip
Kota Zoukha, bersama dengan kedua orang tua Apple. Sedangkan Gio dan Fiskha
sudah lebih dahulu berjalan mengambil jalur yang berbeda, menuju Menara Jam
Kota Zoukha.
Bryan bersama dengan kedua orang tua Apple menuju Stasiun
Emas dengan langkah tergesa, tetapi langkah mereka tiba-tiba terhenti. Di
hadapan mereka berdiri Arman, pria yang selama ini bekerja di balik layar
menjaga Kota Zoukha agar tetap berada di anomali waktu.
"Aku tidak bisa membiarkan kalian pergi ke sana,"
kata Arman dengan suara tegas, matanya penuh ketegangan.
"Ini bukan pilihanmu, Arman!" seru Bryan muda.
"Kami sudah tahu kebenarannya. Waktu harus kembali seperti semula."
Arman menggeleng, ekspresinya mencerminkan perjuangan batin
yang luar biasa. "Kota ini adalah segalanya bagiku. Jika kalian berhasil,
semua yang kami bangun akan lenyap. Aku... tidak bisa menerima itu. Aku tak
tahu di mana kelak aku akan berada. Bahkan aku tak tahu, apakah aku masih ada?"
Tanpa banyak bicara, Bryan muda berlari menerobos penghalang
Arman, mengajak kedua orang tua Apple berlari mengikutinya. Arman mengeraskan
rahangnya, tetapi tidak mengejar. Ia hanya mampu menyaksikan mereka berlalu,
meninggalkan dirinya dalam ketidakpastian yang menyakitkan.
Di tempat lain, Gio dan Fiskha tiba di Menara Jam Zoukha.
Ketika mereka memasuki lantai dua, mereka segera menyadari ada yang aneh. Semua
orang di sana mengenakan pakaian modern yang lebih ramping dan minimalis, sementara
mereka sendiri masih mengenakan pakaian masa lalu. Mereka segera menjadi pusat
perhatian, orang-orang berbisik dan memperhatikan mereka dengan penuh
keheranan.
"Kita harus menemukan diri kita yang lain sebelum
terlambat," bisik Fiskha.
Mereka berjalan dengan gugup, sampai akhirnya di ujung
ruangan mereka melihat dua sosok yang begitu familiar. Itu adalah diri mereka
di tahun 2050—Gio dan Fiskha versi masa depan.
Diri mereka yang lebih tua menatap mereka dengan ekspresi
serius. "Kami tahu kalian akan datang," kata Fiskha versi 2050.
"Dan kami tahu mengapa kalian di sini."
"Tapi apakah kalian benar-benar siap untuk mengorbankan
Kota Zoukha seperti ini?" Gio versi 2050 bertanya, nada suaranya penuh
keraguan.
Fiskha muda menelan ludah. "Kita semua tahu ini tidak
benar. Kota ini tidak seharusnya ada dalam anomali waktu."
Gio muda mengangguk, meskipun ada ketegangan dalam dirinya.
"Ini satu-satunya cara agar dunia kembali berjalan sebagaimana
mestinya."
Mereka semua berpacu dengan waktu. Keputusan harus segera
diambil. Sementara itu, Arman berdiri di jalanan yang semakin sunyi, menatap
langit yang mulai berubah warna. Ia harus segera memutuskan apakah akan melawan
takdir atau menerimanya.
_____________________
Di Kantor Wali Kota Zoukha, yang terletak di perbukitan
hijau dengan bangunan modern sepenuhnya bertenaga energi terbarukan, suasana
mendadak menjadi tegang. Dari ruang Wali Kota, Leon dan Arman memandang
hamparan kota yang mereka bangun selama ini. Udara segar menyapu jendela besar,
memperlihatkan panorama Kota Zoukha yang indah lestari.
Arman menatap Wali Kota dengan ekspresi serius. "Wali
Kota, kita harus bertindak sekarang. Di keempat titik anomali waktu tidak boleh
terjadi pertemuan dari orang-orang masa lalu dan masa kini pada jam di mana
portal waktu terbuka. Jika mereka sampai ke sana saat anomali terjadi, maka
segalanya akan kembali seperti semula."
Leon menimpali, "Pasar Sungai Emas, Menara Jam Zoukha,
Lorong Bawah Tanah Stasiun Tua, dan Reruntuhan Kota Lama—semuanya harus kita
jaga. Kita tidak bisa membiarkan Apple 2050 merusak apa yang sudah kita
bangun."
Wali Kota terdiam sejenak, lalu menatap mereka berdua dengan
pandangan yang sulit dibaca. "Tapi ini Apple. Bukankah ini juga impiannya?
Kota Zoukha yang lestari, hijau, dan menjadi panutan dunia dalam keberlanjutan?
Mengapa saat ini dia sendiri yang ingin melenyapkannya?"
Arman menghela napas panjang. "Kami sudah
menyelidikinya. Apple telah merencanakan ini jauh sebelumnya. Dia yang
menyebabkan kapal pesiar itu hilang, dan dia yang 'memanggil' orang-orang dari
masa lalu. Semua ini untuk memperkuat energi pengembalian waktu."
Leon mengepalkan tangannya. "Apple ingin kembali ke
waktu asalnya, dan jika dia berhasil, maka kita juga akan kembali ke kehidupan
lama kita atau kita semua menghilang dari muka bumi. Aku tidak ingin kembali
menjadi pengacara yang bergelut dengan kasus melelahkan. Aku ingin Kota Zoukha
tetap seperti ini."
Wali Kota memejamkan mata sejenak. "Jadi, kalian datang
untuk meminta persetujuanku untuk mensterilkan keempat titik anomali?"
Arman dan Leon mengangguk.
"Baiklah," kata Wali Kota akhirnya, "Kita segera
mengerahkan tim khusus untuk mengamankan lokasi-lokasi tersebut. Kita harus
memastikan tidak ada satu orangpun berada di keempat titik itu saat anomali waktu
berada pada pusaran."
Leon menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dan kita juga
harus menemukan Apple 2050 sebelum semuanya terlambat. Hanya dia yang bisa
mempertahankan Kota Zoukha seperti ini."
Wali Kota berdiri, menghadap ke luar jendela, melihat laut
Teluk Emas yang tiba-tiba mulai surut.
Pertanda buruk akan hadirnya tsunami.
"Kita tidak punya banyak waktu. Mulai sekarang, kita
jalankan rencana ini dengan cepat dan tanpa kesalahan."
Arman dan Leon saling bertukar pandang, lalu mengangguk.
Mereka tahu, ini adalah pertarungan terakhir untuk
mempertahankan Kota Zoukha yang nyaman seperti yang telah mereka ciptakan.(Bersambung)
______________________
No comments:
Post a Comment