APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 16
Mengungkap Rahasia Besar
Suara langkah kaki
mereka bergaung di sepanjang lorong. Dinding beton yang kokoh terasa dingin di
ujung jari Apple muda saat ia meraba sisi lorong untuk menjaga keseimbangan.
Cahaya dari lampu-lampu LED di dinding memberikan penerangan redup, menciptakan
bayangan panjang dari dua sosok yang berjalan berjejeran.Bergegas.
Di depan mereka, pintu
baja ganda bertuliskan "Zona Evakuasi Kota Zoukha"
menandai bahwa mereka sedang memasuki bagian terdalam dari lorong mitigasi
bencana. Sebuah jalur rahasia yang hanya sedikit orang tahu
keberadaannya.
"Sangat
cerdas,"
pikir Apple muda. Kota Zoukha 2050 memang benar-benar dirancang dengan sistem
keamanan yang nyaris sempurna. Jalur ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur evakuasi
dalam bencana, tapi juga jalan tersembunyi yang bisa
digunakan untuk meninggalkan kota ini tanpa diketahui siapa pun.
Namun, yang
membuatnya tidak nyaman bukanlah lorong ini—melainkan sosok
yang berjalan di sebelahnya.Dirinya sendiri.
Apple versi 2050.
Sosok dirinya dari
masa depan.
Perempuan yang
telah berhasil mewujudkan segala mimpinya.
Kota yang ia
impikan, sistem yang ia rancang, semuanya menjadi nyata.
Namun, di balik
kesempurnaan itu, Apple muda tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ia dipaksa
datang ke sini.
Dan sekarang, ia
ingin jawaban.
Rahasia besar keberadaan kota ini perlu
diungkap.
Apple muda berhenti
melangkah.
"Berhenti
dulu," katanya tajam.
Apple versi 2050
menoleh, matanya yang tajam dan penuh ketegasan memantulkan cahaya redup dari
lorong itu.
"Kita tidak
punya banyak waktu," katanya.
Apple muda melipat
tangan di dadanya. "Aku tidak peduli. Aku ingin tahu mengapa
aku ada di sini?"
Apple versi 2050
diam sejenak. Lalu ia menarik napas dalam-dalam dan akhirnya berkata,
"Karena aku
yang memerintahkanmu datang ke sini."
Kata-kata itu
seperti pukulan keras bagi Apple muda.
Matanya membesar.
"Apa maksudmu?"
Apple versi 2050
menatapnya lurus. "Aku sudah merencanakan ini sejak lama. Kapal
pesiar itu tidak menghilang begitu saja. Aku yang menghapusnya dari jalur
waktu."
Apple muda
merasakan jantungnya berdegup lebih kencang.
"Apa?!"
Apple versi 2050
tetap tenang, meskipun ekspresi di wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah
memperkirakan reaksi ini.
"Kau harus
mengerti," katanya. "Aku membutuhkanmu di sini. Aku telah membuat kau
menemukan novel itu. Aku tahu kau akan membaca cerita tentang masa depanmu. Dan
aku tahu bahwa satu-satunya cara memastikan Kota
Zoukha tetap berada di jalur ini atau kembali ke kondisi semula adalah dengan
membawamu ke sini."
Apple muda mundur
selangkah.
Ia
menggeleng-gelengkan kepala.
"Jadi… aku
tidak masuk ke sini secara kebetulan?" suaranya bergetar. "Aku tidak… tersedot oleh anomali
waktu secara alami?"
"Tidak,"
jawab Apple versi 2050 tegas. "Aku yang mengatur segalanya."
Hening.
Apple muda merasa tertipu.
Ia selama ini
percaya bahwa anomali waktu adalah sesuatu yang di luar kendali manusia. Bahwa
ia dan teman-temannya hanyalah korban dari sesuatu yang tidak
bisa dijelaskan.
Tapi ternyata… semua
ini sudah diatur.
"Oke."
Apple muda menatap tajam sosok dirinya yang lebih tua. "Kalau begitu,
kenapa aku?"
Apple versi 2050
tersenyum tipis. "Karena hanya kau yang bisa menggantikan aku."
Perdebatan di Lorong Mitigasi
Apple muda menggeleng dengan ekspresi marah.
"Kau tidak bisa memaksaku mengambil alih hidupmu. Aku masih memiliki
kehidupanku sendiri!"
Apple versi 2050
menatapnya dengan tajam. "Apakah kau benar-benar bahagia dengan hidupmu
saat ini?"
"Tentu
saja!" Apple muda membalas dengan cepat. "Aku punya mama dan papa, Bryan,
persahabata dn lingkungan yang mendukung, aku punya pekerjaan. Hidupku memang
tidak sempurna, tapi aku selalu baik-baik saja."
Apple versi 2050
mendekat, menatap Apple muda dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau
pikir 'baik-baik saja' sudah cukup?"
Apple muda merasa
amarahnya naik ke permukaan. "Kau tidak punya hak untuk menentukan
bagaimana aku menjalani hidupku!"
"Tapi aku tahu
seperti apa masa depanmu."
Apple muda membeku.
Apple versi 2050
melanjutkan, suaranya kini lebih lembut. "Aku tahu bahwa jika kau kembali
ke masa lalumu, kau kemungkinan besar tidak akan pernah memiliki kesempatan
untuk membangun Kota Zoukha seperti ini. Kau akan terjebak dalam siklus yang
sama, selalu bermimpi tapi tidak pernah memiliki keberanian untuk melangkah
karena berbagai situasi dan berbagai kepentingan menahanmu melangkah sempurna."
Apple muda
mengepalkan tangannya.
"Itu bukan
hakmu untuk memutuskan."
Apple versi 2050
tersenyum pahit.
"Kau benar.
Itu bukan hakku. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan semua yang sudah kubangun
menghilang begitu saja."
Apple muda
menatapnya tajam. "Itulah perbedaan kita dan bagian ini adalah urusanmu.
Bukan urusanku."
Apple versi 2050
mengerutkan alis.
"Apa
maksudmu?"
Apple muda menarik
napas dalam-dalam.
"Kau berpikir
bahwa kesuksesan ini lebih penting daripada kehidupan
nyata."
Apple versi 2050
diam.
"Kau
mengorbankan terlalu banyak hal demi impian ini," lanjut Apple muda.
"Tapi aku... aku bahagia dengan hidupku sekarang. Aku
tidak perlu menjadi Apple 2050 untuk merasa sukses. Aku bahagia dengan segala
yang terjadi. Aku menerima semuanya. Tentunya setelah aku bekerja keras."
Hening yang
mencekam memenuhi lorong.
Apple versi 2050
akhirnya menghela napas dan menatap lurus ke arah Apple muda.
"Kita lihat
saja siapa yang benar."
Apple muda tidak
menjawab. Ia hanya mengeraskan rahangnya dan melanjutkan langkahnya menuju stasiun
tua yang semakin dekat.
Waktu mereka makin
berkurang.
Pertarungan antara dua
versi Apple terlihat seperti baru saja dimulai.
Namun jauh di lubuk
hati, Apple versi 2050 telah menentukan sikapnya.
________________________
No comments:
Post a Comment