Tuesday, March 4, 2025

BAGIAN 16: MENGUNGKAP RAHASIA BESAR

 

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota



Bagian 16

Mengungkap Rahasia Besar


Suara langkah kaki mereka bergaung di sepanjang lorong. Dinding beton yang kokoh terasa dingin di ujung jari Apple muda saat ia meraba sisi lorong untuk menjaga keseimbangan. Cahaya dari lampu-lampu LED di dinding memberikan penerangan redup, menciptakan bayangan panjang dari dua sosok yang berjalan berjejeran.Bergegas.

Di depan mereka, pintu baja ganda bertuliskan "Zona Evakuasi Kota Zoukha" menandai bahwa mereka sedang memasuki bagian terdalam dari lorong mitigasi bencana. Sebuah jalur rahasia yang hanya sedikit orang tahu keberadaannya.

"Sangat cerdas," pikir Apple muda. Kota Zoukha 2050 memang benar-benar dirancang dengan sistem keamanan yang nyaris sempurna. Jalur ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur evakuasi dalam bencana, tapi juga jalan tersembunyi yang bisa digunakan untuk meninggalkan kota ini tanpa diketahui siapa pun.

Namun, yang membuatnya tidak nyaman bukanlah lorong ini—melainkan sosok yang berjalan di sebelahnya.Dirinya sendiri.

Apple versi 2050.

Sosok dirinya dari masa depan.

Perempuan yang telah berhasil mewujudkan segala mimpinya.

Kota yang ia impikan, sistem yang ia rancang, semuanya menjadi nyata.

Namun, di balik kesempurnaan itu, Apple muda tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ia dipaksa datang ke sini.

Dan sekarang, ia ingin jawaban.

Rahasia besar keberadaan kota ini perlu diungkap.

Apple muda berhenti melangkah.

"Berhenti dulu," katanya tajam.

Apple versi 2050 menoleh, matanya yang tajam dan penuh ketegasan memantulkan cahaya redup dari lorong itu.

"Kita tidak punya banyak waktu," katanya.

Apple muda melipat tangan di dadanya. "Aku tidak peduli. Aku ingin tahu mengapa aku ada di sini?"

Apple versi 2050 diam sejenak. Lalu ia menarik napas dalam-dalam dan akhirnya berkata,

"Karena aku yang memerintahkanmu datang ke sini."

Kata-kata itu seperti pukulan keras bagi Apple muda.

Matanya membesar. "Apa maksudmu?"

Apple versi 2050 menatapnya lurus. "Aku sudah merencanakan ini sejak lama. Kapal pesiar itu tidak menghilang begitu saja. Aku yang menghapusnya dari jalur waktu."

Apple muda merasakan jantungnya berdegup lebih kencang.

"Apa?!"

Apple versi 2050 tetap tenang, meskipun ekspresi di wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah memperkirakan reaksi ini.

"Kau harus mengerti," katanya. "Aku membutuhkanmu di sini. Aku telah membuat kau menemukan novel itu. Aku tahu kau akan membaca cerita tentang masa depanmu. Dan aku tahu bahwa satu-satunya cara memastikan Kota Zoukha tetap berada di jalur ini atau kembali ke kondisi semula adalah dengan membawamu ke sini."

Apple muda mundur selangkah.

Ia menggeleng-gelengkan kepala.

"Jadi… aku tidak masuk ke sini secara kebetulan?" suaranya bergetar. "Aku tidak… tersedot oleh anomali waktu secara alami?"

"Tidak," jawab Apple versi 2050 tegas. "Aku yang mengatur segalanya."

Hening.

Apple muda merasa tertipu.

Ia selama ini percaya bahwa anomali waktu adalah sesuatu yang di luar kendali manusia. Bahwa ia dan teman-temannya hanyalah korban dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Tapi ternyata… semua ini sudah diatur.

"Oke." Apple muda menatap tajam sosok dirinya yang lebih tua. "Kalau begitu, kenapa aku?"

Apple versi 2050 tersenyum tipis. "Karena hanya kau yang bisa menggantikan aku."

Perdebatan di Lorong Mitigasi

Apple muda menggeleng dengan ekspresi marah. "Kau tidak bisa memaksaku mengambil alih hidupmu. Aku masih memiliki kehidupanku sendiri!"

Apple versi 2050 menatapnya dengan tajam. "Apakah kau benar-benar bahagia dengan hidupmu saat ini?"

"Tentu saja!" Apple muda membalas dengan cepat. "Aku punya mama dan papa, Bryan, persahabata dn lingkungan yang mendukung, aku punya pekerjaan. Hidupku memang tidak sempurna, tapi aku selalu baik-baik saja."

Apple versi 2050 mendekat, menatap Apple muda dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau pikir 'baik-baik saja' sudah cukup?"

Apple muda merasa amarahnya naik ke permukaan. "Kau tidak punya hak untuk menentukan bagaimana aku menjalani hidupku!"

"Tapi aku tahu seperti apa masa depanmu."

Apple muda membeku.

Apple versi 2050 melanjutkan, suaranya kini lebih lembut. "Aku tahu bahwa jika kau kembali ke masa lalumu, kau kemungkinan besar tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk membangun Kota Zoukha seperti ini. Kau akan terjebak dalam siklus yang sama, selalu bermimpi tapi tidak pernah memiliki keberanian untuk melangkah karena berbagai situasi dan berbagai kepentingan menahanmu melangkah sempurna."

Apple muda mengepalkan tangannya.

"Itu bukan hakmu untuk memutuskan."

Apple versi 2050 tersenyum pahit.

"Kau benar. Itu bukan hakku. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan semua yang sudah kubangun menghilang begitu saja."

Apple muda menatapnya tajam. "Itulah perbedaan kita dan bagian ini adalah urusanmu. Bukan urusanku."

Apple versi 2050 mengerutkan alis.

"Apa maksudmu?"

Apple muda menarik napas dalam-dalam.

"Kau berpikir bahwa kesuksesan ini lebih penting daripada kehidupan nyata."

Apple versi 2050 diam.

"Kau mengorbankan terlalu banyak hal demi impian ini," lanjut Apple muda. "Tapi aku... aku bahagia dengan hidupku sekarang. Aku tidak perlu menjadi Apple 2050 untuk merasa sukses. Aku bahagia dengan segala yang terjadi. Aku menerima semuanya. Tentunya setelah aku bekerja keras."

Hening yang mencekam memenuhi lorong.

Apple versi 2050 akhirnya menghela napas dan menatap lurus ke arah Apple muda.

"Kita lihat saja siapa yang benar."

Apple muda tidak menjawab. Ia hanya mengeraskan rahangnya dan melanjutkan langkahnya menuju stasiun tua yang semakin dekat.

Waktu mereka makin berkurang.

Pertarungan antara dua versi Apple terlihat seperti baru saja dimulai.

Namun jauh di lubuk hati, Apple versi 2050 telah menentukan sikapnya.

________________________


No comments:

Post a Comment