Tuesday, March 4, 2025

BAGIAN 13: TIGA PRIA DAN TAKDIR KOTA ZOUKHA

APPLE 2050

Pingkan Hamzens

Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota 

Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota


 

Bagian 13

 

Tiga Pria dan Takdir Kota Zoukha

Di dalam sebuah ruangan yang nyaman namuntersembunyi, di pusat Kota Zoukha, tiga pria berdiri mengelilingi meja holografik. Peta kota terpampang di atasnya, dengan titik-titik bercahaya yang menandai lokasi-lokasi anomali waktu. Cahaya biru dari peta itu memantulkan bayangan tajam di wajah mereka yang dipenuhi rahasia.

Di satu sisi berdiri Arman, lelaki berusia awal empat puluhan dengan ekspresi yang selalu tenang dan dingin. Tatapannya penuh perhitungan, seolah ia adalah seorang pemain catur yang sudah memikirkan lusinan langkah ke depan. Baginya, Kota Zoukha adalah mahakarya yang tidak boleh hancur.

Di sisi lain, pria dengan kemeja hitam hampir sepanjang jubah berdiri tegak, hampir tak bergerak. Wajahnya sebagian besar tersembunyi oleh bayang-bayang tudung jubahnya. Namun, sorot matanya yang tajam mengungkapkan betapa ia memahami kekuatan waktu lebih dari siapa pun.

Dan di antara mereka, seorang pria paruh baya dengan janggut tipis dan garis-garis wajah yang menunjukkan kebijaksanaan berdiri teguh. Tidak ada rasa gentar di wajahnya. Hanya keyakinan yang kuat. Dialah yang berusaha mengembalikan dunia pada jalur yang seharusnya.

Sebuah Negosiasi yang Mustahil

Arman menatap pria berkemeja hitam panjang, lalu beralih pada sosok paruh baya di hadapannya. "Jadi, kini akhirnya kita bertemu," katanya dengan suara rendah.

Pria paruh baya menyipitkan mata. "Aku tahu kalian berdua akan berusaha mempertahankan kota ini. Tapi kau juga tahu, Arman... ini tidak bisa terus berlangsung. Kota ini ada di luar takdirnya. Kita harus mengembalikan semuanya pada jalur yang benar."

Pria berkemeja hitam panjang akhirnya berbicara, suaranya dalam dan penuh keyakinan. "Kota Zoukha adalah titik unik dalam aliran waktu. Ia tidak berada di masa lalu atau masa depan—ia adalah persimpangan bagi segala kemungkinan. Jika kita mengembalikannya, kita akan kehilangan lebih dari sekadar sebuah kota."

Pria paruh baya tersenyum tipis. "Namun kita akan kehilangan kebohongan yang sudah berlangsung terlalu lama."

Arman mengepalkan tangannya. "Kau tidak mengerti. Jika Kota Zoukha lenyap, semua yang ada di sini akan hilang. Orang-orang yang hidup di dalamnya, yang selama ini menjadi bagian dari realitas ini, akan terhapus dari sejarah!"

Pria paruh baya menggeleng. Dia memahami. Arman tak ingin kehilangan segalanya. Arman tentu tak menginginkan seluruh kekayaannya musnah. "Bukan. Mereka dan kita hanya akan kembali ke tempat seharusnya berada."

Pria berkemeja hitam panjang bergerak mendekat, suaranya lebih dingin. "Dan bagaimana jika tempat mereka seharusnya berada adalah kehampaan? Kota ini bukan hanya sekadar kesalahan. Ini adalah peluang untuk sesuatu yang lebih besar. Ini adalah eksperimen waktu yang berhasil. Dan aku berhasil di sini dengan kehidupan damai sejahtera seperti impianku."

Pria paruh baya itu menatap langsung ke mata pria berkemeja hitam panjang. "Eksperimen? Kau menyebut ini eksperimen? Kau tahu ini adalah sebuah kekacauan. Seharusnya tidak ada manusia yang terjebak dalam percobaan semacam ini."

Arman menekan tombol di meja holografik. Seketika, peta kota berubah, menampilkan empat titik anomali yang berkedip semakin cepat.

"Kita hanya punya waktu sebelum semuanya mencapai titik kulminasi," kata Arman dengan nada serius. "Jika tidak ada yang kita lakukan, dan Apple menguasai Control Building maka Kota Zoukha hancur dan kita akan kehilangan segalanya."

Pria paruh baya tersenyum tipis. "Dan itu adalah harga yang harus dibayar untuk mengembalikan keseimbangan waktu."

Dua Kubu, Dua Keputusan

Ruangan itu dipenuhi ketegangan.

Di satu sisi, Arman dan pria berkemeja hitam panjang berusaha mempertahankan Kota Zoukha tetap berdiri. Mereka melihat kota ini sebagai keajaiban yang seharusnya tetap ada—sebuah anomali yang justru bisa menjadi kunci untuk mengendalikan waktu.

Di sisi lain, pria paruh baya bersikeras bahwa kota ini harus kembali ke jalurnya. Ia berharap waktu dapat kembali normal, meskipun itu berarti menghapus Zoukha dari jejak sejarah.

Arman menatap pria berkemeja hitam panjang. "Kita tidak bisa membiarkan Apple menghancurkan semuanya."

Pria berkemeja hitam panjang mengangguk perlahan. "Aku setuju."

Mereka berdua berpaling kepada pria paruh baya. "Jika kau berani mencoba menghalangi, maka kau akan berhadapan langsung dengan kami."

Pria paruh baya tersenyum kecil, sama sekali tidak gentar.

"Baiklah," katanya dengan suara penuh ketenangan. "Kita lihat siapa yang benar-benar memiliki kendali atas waktu. Kalian berdua atau Apple"

Seketika, ruangan dipenuhi oleh denyutan energi yang aneh.

Dan pertarungan keberpihakan untuk nasib Kota Zoukha pun dimulai.(Bersambung)

_________________________


No comments:

Post a Comment