APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian 13
Tiga Pria dan Takdir Kota
Zoukha
Di dalam sebuah
ruangan yang nyaman namuntersembunyi, di pusat Kota Zoukha, tiga pria berdiri mengelilingi meja
holografik. Peta kota terpampang di atasnya, dengan titik-titik bercahaya yang
menandai lokasi-lokasi anomali waktu. Cahaya biru dari peta itu memantulkan
bayangan tajam di wajah mereka yang dipenuhi rahasia.
Di satu sisi
berdiri Arman,
lelaki berusia awal empat puluhan dengan ekspresi yang selalu tenang dan
dingin. Tatapannya penuh perhitungan, seolah ia adalah seorang pemain catur
yang sudah memikirkan lusinan langkah ke depan. Baginya, Kota Zoukha adalah
mahakarya yang tidak boleh hancur.
Di sisi lain, pria dengan kemeja hitam hampir sepanjang
jubah berdiri tegak, hampir tak bergerak. Wajahnya sebagian
besar tersembunyi oleh bayang-bayang tudung jubahnya. Namun, sorot matanya yang
tajam mengungkapkan betapa ia memahami kekuatan waktu lebih dari siapa pun.
Dan di antara
mereka, seorang pria paruh baya
dengan janggut tipis dan garis-garis wajah yang menunjukkan kebijaksanaan
berdiri teguh. Tidak ada rasa gentar di wajahnya. Hanya keyakinan yang kuat.
Dialah yang berusaha mengembalikan dunia pada jalur yang seharusnya.
Sebuah Negosiasi yang Mustahil
Arman menatap pria berkemeja hitam panjang, lalu
beralih pada sosok paruh baya di hadapannya. "Jadi, kini akhirnya kita
bertemu," katanya dengan suara rendah.
Pria paruh baya
menyipitkan mata. "Aku tahu kalian berdua akan berusaha mempertahankan
kota ini. Tapi kau juga tahu, Arman... ini tidak bisa terus berlangsung. Kota
ini ada di luar takdirnya. Kita harus mengembalikan semuanya pada jalur yang
benar."
Pria berkemeja
hitam panjang akhirnya berbicara, suaranya dalam dan penuh keyakinan.
"Kota Zoukha adalah titik unik dalam aliran waktu. Ia tidak berada di masa
lalu atau masa depan—ia adalah persimpangan bagi segala kemungkinan. Jika kita
mengembalikannya, kita akan kehilangan lebih dari sekadar sebuah kota."
Pria paruh baya
tersenyum tipis. "Namun kita akan kehilangan kebohongan yang sudah
berlangsung terlalu lama."
Arman mengepalkan
tangannya. "Kau tidak mengerti. Jika Kota Zoukha lenyap, semua yang ada di
sini akan hilang. Orang-orang yang hidup di dalamnya, yang selama ini menjadi
bagian dari realitas ini, akan terhapus dari sejarah!"
Pria paruh baya
menggeleng. Dia memahami. Arman tak ingin kehilangan segalanya. Arman tentu tak
menginginkan seluruh kekayaannya musnah. "Bukan. Mereka dan kita hanya akan
kembali ke tempat seharusnya berada."
Pria berkemeja
hitam panjang bergerak mendekat, suaranya lebih dingin. "Dan bagaimana
jika tempat mereka seharusnya berada adalah kehampaan? Kota ini bukan hanya
sekadar kesalahan. Ini adalah peluang untuk sesuatu yang lebih besar. Ini
adalah eksperimen waktu yang berhasil. Dan aku berhasil di sini dengan
kehidupan damai sejahtera seperti impianku."
Pria paruh baya itu
menatap langsung ke mata pria berkemeja hitam panjang. "Eksperimen? Kau
menyebut ini eksperimen? Kau tahu ini adalah sebuah kekacauan. Seharusnya tidak
ada manusia yang terjebak dalam percobaan semacam ini."
Arman menekan
tombol di meja holografik. Seketika, peta kota berubah, menampilkan empat titik
anomali yang berkedip semakin cepat.
"Kita hanya
punya waktu sebelum semuanya mencapai titik kulminasi," kata Arman dengan
nada serius. "Jika tidak ada yang kita lakukan, dan Apple menguasai Control Building maka Kota Zoukha hancur
dan kita akan kehilangan segalanya."
Pria paruh baya
tersenyum tipis. "Dan itu adalah harga yang harus dibayar untuk
mengembalikan keseimbangan waktu."
Dua Kubu, Dua Keputusan
Ruangan itu dipenuhi ketegangan.
Di satu sisi, Arman
dan pria berkemeja hitam panjang berusaha mempertahankan Kota
Zoukha tetap berdiri. Mereka melihat kota ini sebagai keajaiban yang seharusnya
tetap ada—sebuah anomali yang justru bisa menjadi kunci untuk mengendalikan
waktu.
Di sisi lain, pria paruh baya bersikeras
bahwa kota ini harus kembali ke jalurnya. Ia berharap waktu dapat kembali
normal, meskipun itu berarti menghapus Zoukha dari jejak sejarah.
Arman menatap pria
berkemeja hitam panjang. "Kita tidak bisa membiarkan Apple menghancurkan
semuanya."
Pria berkemeja hitam
panjang mengangguk perlahan. "Aku setuju."
Mereka berdua
berpaling kepada pria paruh baya. "Jika kau berani mencoba menghalangi,
maka kau akan berhadapan langsung dengan kami."
Pria paruh baya
tersenyum kecil, sama sekali tidak gentar.
"Baiklah,"
katanya dengan suara penuh ketenangan. "Kita lihat siapa yang benar-benar
memiliki kendali atas waktu. Kalian berdua atau Apple"
Seketika, ruangan
dipenuhi oleh denyutan energi yang aneh.
Dan pertarungan
keberpihakan untuk nasib Kota Zoukha pun dimulai.(Bersambung)
_________________________
No comments:
Post a Comment