APPLE 2050
Pingkan Hamzens
Novel Penyuluhan untuk Pembangunan Kota
Misteri Perjalanan Waktu di Sebuah Kota
Bagian
20
Menuju
Terbukanya Portal Waktu
Di atas Sungai Emas, di area taman restoran terapung yang menjadi bagian dari Menara Jam Kota
Zoukha, mulai dikelilingi oleh petugas keamanan. Wali Kota Zoukha telah
mengeluarkan perintah untuk mensterilkan area tersebut. Dari lantai dua Menara
Jam, yang terletak di atas restoran, Gio dan Fiskha muda bersembunyi di sudut
yang tak terlihat langsung, mereka berempat bersama dengan versi mereka dari
tahun 2050.
Gio 2050 menatap tajam ke luar jendela, mengamati gerakan
petugas di bawah. "Mereka sudah mulai bergerak. Wali Kota tidak main-main.
Apple 2050 benar-benar menjadi ancaman bagi mereka."
Fiskha muda menoleh, wajahnya masih menyimpan kebingungan.
"Jadi benar, Apple 2050 ingin mengembalikan Kota Zoukha ke waktu
asalnya?"
Fiskha 2050 mengangguk pelan. "Iya, dia telah menyadari
sesuatu yang lebih besar. Kota Zoukha yang hijau, cerdas, dan tangguh ini
memang impian kita semua, tetapi dia mengerti bahwa kehidupan bukan hanya
tentang pencapaian. Ini tentang perjalanan. Tentang pengabdian yang
sejati."
Gio muda mengerutkan dahi. "Tapi, apa yang salah dengan
kehidupan di sini? Kota ini sempurna. Semua yang diimpikan manusia sudah
terwujud di sini. Tak ada kemiskinan di sini. Kenapa harus
mengembalikannya?"
Gio 2050 tersenyum tipis. "Karena ada harga yang harus
dibayar. Apple 2050 akhirnya memahami bahwa anomali waktu telah menciptakan
paradoks yang tidak seharusnya terjadi. Dia telah melihat sesuatu yang tidak
kita ketahui sebelumnya. Kehidupan ini harus berjalan sebagaimana mestinya,
dengan segala tantangannya, dengan segala perjuangannya. Bukan hanya sekadar
hasil akhir yang sempurna, tetapi perjalanan yang penuh makna."
Fiskha muda terdiam, merenungkan kata-kata itu.
"Jadi... kalian juga mendukung Apple 2050?"
Fiskha 2050 menatapnya lembut. "Kita semua sudah ada di
titik ini karena perjuangan. Tapi pada akhirnya, kita harus menerima bahwa
takdir bukan sesuatu yang bisa kita atur seenaknya. Kita hanya bisa
menjalaninya dengan sebaik mungkin. Dan Apple 2050 sudah memilih jalannya. Kita
harus percaya padanya."
Gio muda menarik napas dalam. "Jadi, apa yang harus
kita lakukan sekarang?"
Gio 2050 melirik ke arah luar lagi. “ Kita harus tetap di
sini. Tetap berada di area
Menara Jam Kota Zoukha. Kita harus tidak diketahui sudah berada di sini. Sambil
menunggu momen tepat pada pukul 00.00 untuk bersama masuk ke dalam pusaran anomali
waktu.”
Tiba-tiba terdengar
beberapa langkah memasuki ruangan tempat mereka berempat bersembunyi. Waktu
menunjukkan pukul 23.17.
_______________
Bryan muda dan kedua orang tua Apple tengah bergerak cepat
menuju Pasar Sungai Emas. Namun, perjalanan mereka tidak mudah. Kota Zoukha
mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan akibat perubahan anomali waktu.
Lampu-lampu jalan berkedip-kedip, beberapa kendaraan listrik mendadak berhenti,
dan jalanan yang biasanya tertata rapi kini terasa bergetar pelan.
Tiba-tiba, sebuah patroli keamanan kota—yang pasti atas
instruksi Wali Kota, mulai memeriksa setiap orang yang bergerak menuju
titik-titik anomali waktu. Mereka harus mencari cara untuk menghindari
pemeriksaan ini. Bagaimana mereka akan melewati keamanan tanpa menarik
perhatian?
Sementara itu, Bryan versi 2050 telah lebih dulu sampai di
Pasar Sungai Emas dan bersembunyi di sebuah area tersembunyi di balik rak-rak
penyimpanan bahan pangan. Ia bersama kedua orang tua Apple 2050, yang sudah
mulai memahami bahwa waktu mereka di di sini semakin sedikit. Namun, mereka
juga tahu bahwa masih ada kemungkinan besar para petugas atas perintah Wali
Kota akan berusaha mencegah mereka mencapai titik anomali.
Sementara itu…
Bryan muda dan
kedua orang tua Apple mempercepat langkah mereka menuju Pasar Sungai Emas.
Namun, baru saja mereka berbelok di sebuah gang sempit yang mengarah ke pasar,
suara mekanik dari drone keamanan terdengar mendekat.
"Mereka
sedang memperketat pengawasan!" bisik Bryan muda dengan napas memburu.
Dari atas,
drone-drone berteknologi tinggi milik Pemerintah Kota Zoukha melayang perlahan,
memindai wajah-wajah orang yang melintas. Bryan muda menyadari bahwa sistem
pengenalan wajah bisa saja mengenalinya—dan jika itu terjadi, mereka akan
langsung ditangkap dan dihalangi untuk mencapai titik anomali waktu.
"Kita tidak bisa melewati jalan utama, terlalu berisiko," kata papa Apple, dengan
wajah tegang.
"Tapi
kita harus cepat, waktu kita hampir habis," tambah mama Apple,
menggenggam lengan Bryan muda.
Mereka mengalihkan
jalur ke lorong belakang sebuah restoran tua yang kini hampir tak terpakai.
Aroma masakan dari dapur-dapur modern di sekitarnya bercampur dengan suara
bising pasar. Bryan muda melihat ke sekeliling—mereka harus berbaur, menyelinap
tanpa menarik perhatian.
Namun, tepat saat
mereka keluar dari lorong sempit itu, seorang pria dengan seragam keamanan
menghadang mereka.
"Tunggu,
kalian mau ke mana?" tanyanya, matanya tajam menatap mereka bertiga.
Bryan muda berpikir
cepat. Ia menarik lengan papa dan mama Apple, berpura-pura tertawa sambil
menjawab, "Kami hanya
mencari bahan makanan. Ibu saya ingin memasak hidangan istimewa malam
ini."
Penjaga itu
memandang mereka curiga. Waktu seakan berjalan lambat. Namun, sebelum pria itu bertanya
lebih lanjut, suara ledakan kecil terdengar dari arah lain pasar. Beberapa
orang berteriak kaget, membuat penjaga itu beralih perhatian dan langsung
berlari ke arah sumber suara.
Tanpa membuang
waktu, Bryan muda dan kedua orang tua Apple langsung menyelinap masuk ke dalam
Pasar Sungai Emas.
_______________
No comments:
Post a Comment