Setelah makan malam
selesai, Matahari berdiri di balkon restoran, menatap aliran Sungai Emas yang
berkilauan diterpa cahaya lampu kota. Udara malam terasa sejuk, membawa
ketenangan yang ia butuhkan setelah mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Langkah kaki yang familiar terdengar mendekat. Profesor Halley berdiri di sampingnya, menyandarkan tangannya di pagar balkon. Mereka berdua menikmati pemandangan Kota Zoukha yang indah dalam keheningan sejenak.
“Jadi, kamu benar-benar sudah memutuskan?” tanya Profesor Halley dengan suara tenang, matanya penuh kebanggaan.
Matahari mengangguk pelan. “Ya, Ayah. Aku ingin masuk Sekolah Kejujuran. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya Ayah bangun selama ini. Juga aku ingin menjadi manusia yang jujur.”
Profesor Halley
tersenyum. “Sekolah ini bukan
hanya tentang aturan atau ujian, Matahari. Ini adalah tentang bagaimana kita
hidup dengan kejujuran, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Ini bukan hal
yang mudah, tapi aku yakin kamu bisa melaluinya.”
Matahari menoleh ke ayahnya, ada keraguan di matanya. “Ayah, kenapa kejujuran begitu sulit? Aku melihat banyak orang sukses tanpa harus selalu jujur. Apakah kejujuran benar-benar membuat hidup akan lebih baik?”
Profesor Halley menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan, lalu menatap sungai yang mengalir di bawah mereka.
“Dunia
ini memang sering memberikan kesan bahwa kejujuran bisa dikalahkan oleh
kepandaian atau kelicikan. Tapi pada akhirnya, mereka yang jujur akan memiliki
sesuatu yang jauh lebih berharga—kepercayaan
dan kedamaian.
Matahari, tanpa kepercayaan dan kedamaian jiwa, tidak ada hubungan yang bisa bertahan
lama,tidak
ada ketenangan hidup, juga tidak ada bangsa yang bisa maju
dengan beretika.”
Matahari merenung
sejenak. “Tapi bagaimana jika
aku gagal? Bagaimana jika aku diuji dan aku tidak bisa melewatinya?”
Profesor Halley menoleh dan menatap dalam mata putrinya.
“Kegagalan
bukanlah lawan dari kejujuran, Matahari. Kegagalan adalah bagian dari proses
belajar. Yang penting bukan apakah kamu gagal atau sukses, tetapi apakah kamu
berani mengakui kesalahanmu dan belajar dari kegagalan itu. Sekolah Kejujuran
tidak mencari anak-anak yang sempurna, tapi menciptakan
anak-anak yang
berani menghadapi diri mereka sendiri. Berani mengalahkan hal-hal negatif yang
melekat di diri. Membentuk menjadi manusia yang
teguh pada kemurnian hidup.”
Matahari tersenyum kecil. Kata-kata ayahnya memberinya keberanian baru. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah, tapi sekarang ia lebih siap menghadapinya.
“Terima kasih, Ayah. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku sangat ingin segera memulainya.”
Profesor Halley tersenyum bangga, menepuk lembut bahu putrinya. “Dan Ayah akan selalu ada untuk mendukungmu menjadi orang yang lebih baik dari waktu ke waktu. Hingga kau temukan tugas kehidupanmu.”
Menara Jam yang bercahaya di atas Restoran Sungai Emas berdiri megah, menunjukkan waktu yang menandakan malam telah cukup larut.
Menara Jam Kota Zoukha menjadi saksi keputusan besar yang diambil seorang
gadis muda malam itu—keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
_______________ (B e r s a m b u n g)
No comments:
Post a Comment