Sunday, March 9, 2025

SERI PENYULUHAN PEMBANGUNAN: MENGENAL GEO KORO SEGI TIGA SEJARAH KEBENCANAAN KOTA PALU

 




Pengantar

Tulisan Mengenal GEO KORO Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu hadir untuk mengabadikan momen bersejarah yang terjadi di Kota Palu dan sekitarnya pada senja hari di tanggal 28 September 2024.

Jum’at senja gempa bumi 7,4 SR mengguncang Kota Palu disertai tsunami dan likuefaksi. Senja bersejarah bagi warga Kota Palu yang memiliki warisan bumi Sesar Palu-Koro hingga perlu dicatat sebagai hari bersejarah yang penting dan perlu dimaknai dengan hikmat dan penuh perenungan. 

Senja yang patut tetap diketahui dan dikenang oleh para pewaris Kota Palu. 

Senja 28 September 2018 menyampaikan ‘pesan’ penting bagi Warga Kota Palu. Suatu senja yang patut diingat sebagai rangkaian perjalanan Warga Kota Palu bertutur sapa dengan alam.

Senja 28 September 2018 telah melahirkan Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu. Suatu bukti bahwa alam dan manusia sesungguhnya berinteraksi.

Tulisan ini menampilkan khusus tentang GEO KORO Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu.

Selamat membaca.

___________________________________________________________________________________

Sejarah Baru Kota Palu

Warga Kota Palu terhenyak ketika guncangan hebat melanda kota di senja Jum’at 28 September 2018. Guncangan hebat yang dimaksud adalah gempa bumi yang diakibatkan aktivitas Sesar Palu Koro telah menyebabkan tsunami dan likuefaksi dengan korban jiwa dan berbagai kerusakan alam, sarana prasarana, dan infrastruktur.

Ahli Geologi FMIPA UI, Reza Syahputra menyebut ada dua kemungkinan yang menyebabkan terjadinya gempa yang berujung tsunami berkekuatan 7.4 SR di Palu, Sulawesi Tengah pada Jum’at 28 September 2018. Sebelumnya ia mengungkapkan gempa bumi di Kota Palu disebabkan oleh patahan lempeng bumi yang bergerak dan saling mendesak, ada patahan utama yang cukup besar yakni Sesar Palu Koro yang memotong wilayah “leher” Sulawesi Tengah. https://www.ui.ac.id/ahli-geologi-fmipa-ui-longsor-di-dasar-teluk-palu-koro-diduga-picu-tsunami-2/

Senja 28 September 2018 telah melahirkan sejarah baru bagi Kota Palu. Karenanya momen penting ini perlu untuk dikenang dan menjadi pelajaran berharga berupa pengetahuan kebumian dan kebencanaan yang patut terus dipelajari. Pengetahuan yang jika terus menerus ditelusuri akan meningkatkan pemahaman karakteristik wilayah Kota Palu yang unik. Pengetahuan yang akan menghindarkan manusia dari berbagai bencana dan kerugian di masa depan.

Kota Taman Bumi “Palu Geopark City”

Tidak mudah mencari suatu konsep yang membumi yang dapat diterima dan dijalankan sebagai cara pandang bersama. Cara hidup di mana warga Kota Palu perlu lebih adaptif terhadap kondisi wilayah yang rawan bencana. Cara hidup baru ini diharapkan dapat membudaya dari masa ke masa. Untuk itu Kota Palu perlu memiliki suatu konsep penataan kota yang spesifik, konsep penataan kota yang lahir dari karakteristik alam yang rawan terhadap bencana.

Gagasan pertama adalah melakukan Renovasi Kota, yaitu menata ulang Kota Palu pasca bencana. Gagasan ini selanjutnya berkembang seiring dengan pengamatan terhadap fenomena-fenomena kebencanaan yang hadir beriringan: gempa bumi, tsunami, dan likefaksi. Bencana alam yang beruntun telah menciptakan perubahan kondisi kota, maka cara memahami dan memaknai kehidupanpun di Kota Palu harus berubah.


Gambar 1. Hari Perubahan Bagi Kota Palu
Sumber: IAP Sulteng 2021

28 September 2018 adalah titik balik untuk menghadirkan masa depan yang lebih terencana bagi Warga Kota Palu khususnya, dan masyarakat Sulawesi Tengah umumnya. 28 September 2018 adalah titik balik untuk menghadirkan masa depan di saat ini melalui perencanaan kota yang memperlihatkan kecerdasan pemerintah kota dan seluruh warga dalam menata kota, mengelola ekosistem, menjadikan kota aman dan tangguh serta layak huni sepanjang masa.

Untuk itu kota Palu membutuhkan Konsep Perencanaan Kota yang spesifik yang dapat memenuhi kriteria yang diharapkan.

Konsep itu adalah Geopark City

Geopark City adalah kota yang direncanakan, ditata dan dikelola berbasis keseimbangan ekologi dengan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dengan mengupayakan pengurangan resiko bencana.

Geopark City direncanakan bersama warga dengan pelibatan aktif masyarakat kota.

Perencanaan dan tata kelola Geopark City dilakukan dengan cara konservasi, edukasi, dan penyelenggaraan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan, disertai memberi layanan infrastruktur yang bertujuan semata-mata meningkatkan kualitas lingkungan, kesejahteraan, dan keselamatan warga kota (Palu Geopark City, IAP Sulteng, 2021).

Geopark City mengadopsi konsep geopark yang di elaborasi dengan beberapa konsep perencanaan dan penataan kota yaitu: green city, resilient city, livable city, smart city. Selanjutnya dalam perkembangan memungkinkan mengadopsi konsep lainnya, untuk diaplikasikan dalam perencanaan, penataan dan tata kelola kota yang mempertimbangkan keseimbangan ekologi, potensi kerawanan bencana secara spesifik, serta potensi pariwisata hijau sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Penerapan Geopark City fokus pada upaya menciptakan warga kota yang makin produktif melalui pembangunan kepariwisataan berbasis partisipasi warga kota dengan mengedepankan kemampuan melakukan konservasi, edukasi, dan penyelenggaraan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan, disertai memberi layanan infrastruktur yang bertujuan semata-mata meningkatkan kualitas lingkungan, kesejahteraan, dan keselamatan warga kota.

Kota Taman Bumi “Palu Geopark City” adalah konsep penataan Kota Palu yang digagas untuk membangun kemampuan yang tinggi bagi warga kota beradaptasi untuk mencapai kehidupan yang produktif, harmonis, dan adaptif terhadap kerawanan bencana yang dimiliki Kota Palu.

Palu Geopark City” menciptakan harapan dan kemampuan menata masa depan dengan optimis melalui kecerdasan memahami cara hidup di kota yang cantik namun rawan bencana. Warga Kota Palu perlu terus menerus belajar, menjadikan pengetahuan kebumian dan kebencanaan sebagai kewajiban tiap generasi untuk dipahami dan dipelajari sebagai bekal hidup cerdas dan tenang serta penuh ketakwaaan.

Geo Koro: Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu

Kota Palu dan Warisan Geologi

Secara umum, Warisan Geoilogi (Geosite) Kota Palu terdiri dari 5 (lima) Dimensi bentang alam Kota Palu yang merupakan Warisan Geologi Umum, yaitu:

  1. Teluk
  2. Lembah
  3. Sungai
  4. Bukit
  5. Pegunungan

Selain itu terdapat Warisan Geologi spesifik yaitu:

1. Sesar Palu Koro yang melintasi Kota Palu

2. Kawasan Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu

    28 September 2018 meliputi area eks tsunami di Pesisir Pantai Talise Teluk Palu ; area eks

    likuefaksi Balaroa; dan area eks likuefaksi Petobo.

3. Situs-situs bencana

Lokasi Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu yaitu: di area eks tsunami di Pesisir Pantai Talise Teluk Palu; area eks likuefaksi Balaroa; dan area eks likuefaksi Petobo. Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu merupakan Warisan Geologi yang terbentuk saat terjadi gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di Kota Palu pada hari Jum’at 28 September 2018.

 


Gambar 2. Geo Koro Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu

Hal ini memperlihatkan bahwa untuk dapat tetap hidup dengan aman, nyaman, dan produktif  di Kota Palu yang rawan terhadap bencana alam diperlukan perubahan yang mendasar dalam cara berpikir dan bertindak, yaitu:

  1. Mengetahui karakteristik kebumian dan potensi bencana
  2. Mampu menjadikan mitigasi bencana sebagai budaya

Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu dan “Palu Geopark City”

Sebutan Geo Koro untuk menamakan Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu berasal dari nama Sesar Palu Koro yang menyebabkan ‘lahirnya’ ketiga kawasan sejarah kebencanaan ini.

Geo Koro Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu adalah embrio lahirnya “Palu Geopark City.”.Fenomena gempa bumi, tsunami dan likuefaksi telah menghadirkan suatu konsep penataan kota yang dilahirkan untuk mencapai kemampuan adaptasi yang baik bagi kota yang rawan terhadap bencana alam dengan tetap menjaga kearifan lokal yang dikemas dalam kemampuan konservasi.

“Palu Geopark City.”.merupakan City Branding Kota Palu dan menjadi tag line pembangunan kepariwisataan Kota Palu dan termuat dalam Perda Kota Palu Nomor 13 tahun 2022 tentang Rencana Induk Pembangungan Kepariwsataan Kota Palu.

Kehadiran Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu membuka banyak hal, termasuk tabir pengetahuan kebencanaan. Melalui Konsep Penataan Kota “Palu Geopark City” pemerintah dsn warga kota diharapkan untuk:

  1. Cerdas memahami yang terjadi pada tanggal 28 September 2018
  2. Berubah cara berpikir dan bertindak
  3. Menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya
  4. Hidup produktif dan cerdas di kota yang rawan bencana
  5. Mampu menarik masa depan yang baik di hari ini

Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu dan Kondisi Pasca Bencana

Segi Tiga Geo Koro atau Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu yang terletak di area eks tsunami Pesisir Pantai Talise Teluk Palu; area eks likuefaksi Balaroa; dan area eks likuefaksi Petobo perlu secara serius ditangani. Kawasan ini sangat spesial dan merupakan sumber pengetahuan kebumian, khususnya terkait gejala gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi.

Pelibatan warga untuk bersama-sama membicarakan masa depan ketiga kawasan ini sangat penting. Terutama agar ketiga kawasan ini dapat dijaga, dirawat, dan menjadi kawasan yang kembali produktif dan terjaga keamanannya.

Pasca bencana banyak hal yang harus ditangani pemerintah, yaitu hunian warga yang terdampak bencana terutama warga di ketiga Kawasan Sejarah Kebencanaan Kota Palu. Selanjutnya tentu sudah harus dilakukan langkah-langkah yang fokus untuk menangani Kawasan Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu.

Langkah-Langkah Penanganan

  1. Memperjelas status lahan dan pola penanganan lahan
  2. Mengembangkan konsep penanganan sebagai kawasan yang perlu dikonservasi namun tetap produktif.
  3. Melibatkan warga dalam perencanaan dan penataan.
  4. Memberikan edukasi bahwa ketiga kawasan ini perlu dirawat dan dijaga sebagai warisan pengetahuan kebumian dan kawasan sejarah tsunami dan likuefaksi yang perlu dikenang.
  5. Mengembangkan ekonomi lokal yang adaptif dan produktif yang mendukung pariwisata.
  6. Menjelaskan potensi sebagai geowisata sejarah tsunami dan likuefaksi yang dapat ditangani bersama untuk kesejahteraan warga; mengembangkan paket wisata edukasi kebencanaan.
  7. Membuat skema pengembangan dan pengelolaan yang dapat dijadikan panduan untuk memulai menata Kawasan Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu.

Perlunya Riset

Untuk dapat menjalankan langkah-langkah di atas, maka perlu dilakukan riset penanganan dan pengelolaan Kawasan Segi Tiga Sejarah Kebencanaan Kota Palu yang dapat berdampak pada kebaikan yang luas di masa mendatang.

Referensi

Ahli Geologi FMIPA UI: Longsor di Dasar Teluk Palu Koro Diduga Picu Tsunami. https://www.ui.ac.id/ahli-geologi-fmipa-ui-longsor-di-dasar-teluk-palu-koro-diduga-picu-tsunami-2/

Mengapa Terjadi Likuifaksi di Palu Menurut Ahli Geologi ITB. https://www.itb.ac.id/berita/mengapa-terjadi-likuifaksi-di-palu-menurut-ahli-geologi-itb/56834

Palu Geopark City. Workshop IAP Sulteng. Oktober 2021.

Perda Kota Palu Nomor 13 Tahun 2022 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kota Palu.

 _______________

 

 

 

 

 

 




1 comment:

  1. Bagus, tulisan yang mengingatkan penduduk Kota Palu

    ReplyDelete